Cinta Sejati

Cinta Sejati
Terjebak di rumah utama


__ADS_3

Matahari sudah bergeser, terik matahari yang menyengat sudah mulai menyejuk. Sudah waktunya keluarga Rianti pamit untuk pulang, karena waktu menunjukan akan segera petang.


Belum ada yang berani untuk membuka suara. Ayah dan ibu Rianti saling pandang melontarkan siapa yang harus bicara duluan. Ibu Rianti mengalah.


"Pak, Bu maaf keluarga kami sudah banyak merepotkan, terimakasih atas jamuannya. Kami mau pamit untuk pulang karena hari sudah mulai sore."


"Kok pulang, kenapa tidak menginap saja?" Pinta nyonya besar bukannya malah mempersilahkan.


"Iya, kenapa tidak menginap saja disini. Saya akan senang sekali jika kalian berkenan." tuan besar menambahkan. Semakin sulit saja untuk keluarga Rianti keluar dari rumah utama.


Madih sudah melayangkan senyuman. Karena dia sangat setuju sekali jika harus berlama lama di rumah utama. Sedangkan ibu Rianti memandang suaminya, berharap sang suami akan membantu bicara agar mereka bisa pulang.


"Terimakasih atas tawarannya, tapi maaf, kami tidak bisa menginap, soalnya saya harus bekerja esok hari."


"Oh seperti itu ya." tuan besar mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama ponsel ayah Rianti berdering.


"Saya angkat telepon dulu ya."


"Oh ya silahkan." tuan dan nyonya besar semakin tersenyum lebar.


Ayah Rianti mengangkat teleponnya. Dia mendapat panggilan dari kantor tempatnya bekerja. Ayah Rianti mengerutkan dahi, aneh kenapa dirinya mendapat cuti lagi esok hari, padahal dia tidak mengajukannya. Hanya untuk hari ini, tidak dengan besok.


Menurutnya ini sangat tidak masuk akal.


"Papah hebat." bisik nyonya besar. Mereka berdua terkekeh. Dengan satu pesan yang terkirim pada tangan kanannya, apa yang mereka mau segera terlaksana.


Kantor tempat ayah Rianti bekerja memang bukan sepenuhnya milik Artha grup, namun ada saham disana sebanyak 47%.


"Ada masalah pak besan?" tanya nyonya besar. Namanya bukan besan, nama ayah Rianti adalah Ridwan Marzuki. Kata besan adalah istilah untuk orang tua menantu.


"Oh gak apa-apa Bu, cuma dari kantor saja."


"Oh gitu, maafkan kami ya. Sepertinya kami buruk melayani tamu sehingga kalian enggan untuk berlama disini." Nyonya besar memasang wajah sedih. Ternyata sifat memaksa dengan kalimat merendah pada Satria menurun dari ibunya.


"Bukan begitu, kami senang berada disini, hanya saja kami tidak mau banyak merepotkan." Ibu Rianti tersenyum ramah, dia merasa tidak enak hati.


"Repot apanya? kami malah senang kalian ada disini. Oh atau sebaiknya kalian pindah aja kesini biar makin ramai, dan saya ada teman untuk berbincang, bukan begitu ya pah." Tuan dan nyonya besar saling menaikan alis. Pertanda sedang menggoda.


Ayah Rianti yang mendengar penuturan nyonya besar sontak kaget. Bisa-bisa ini jadi kenyataan dan mulai curiga, mereka lah dalang dari cuti dadakan ini.


Dia segera menghentikan kegilaan ini.


"Kami menginap saja disini." ujar ayah Rianti yang disambut gembira orang tua Satria.


..........


Drama tawar menawar terjadi tanpa sepengetahuan Rianti dan Satria. Karena mereka sedang mengadu kehebatan bermain PS bersama Emen, adiknya Rianti.


Dan dalam kesempatan itulah, Emen mengutarakan kegembiraannya.


"Men, kesibukanmu apa sekarang?" tanya Kakak iparnya yang tampan. Rianti diam menyimak.


"Emen sudah bekerja sekarang a, setelah sibuk mencari pekerjaan kesana kemari. Emen senang usaha emen berhasil." Dengan senyum bangga emen bercerita. Mendengar itu, Rianti hampir tersedak dengan minuman jus jeruknya.


"Pelan-pelan sayang." Mengusap pipi istrinya yang memang tidak kenapa-napa.


"Bagus, memang kau bekerja di perusahaan apa?"


"PT. xxx"

__ADS_1


Satria tersenyum lebar tanpa mengalihkan pandangan, fokus menatap layar monitor.


"Berarti kau jago di bidang IT, sampai bisa di terima disana?" Tanya Satria lagi. Emen diam, jika dia jawab ya akan terkesan sombong. Jika tidak, mana mungkin dia masuk tanpa referensi.


*Mungkinkah campur tangan Rianti. perusahaan itu kan termasuk jajaran perusahaan yang ku berikan padanya. Tapi tidak mungkin, pasti Rianti membiarkannya dengan usaha sendiri. Aku kenal sekali dengan sifat Rianti*. Batin Satria.


"Tapi setelah Emen bekerja beberapa hari, Emen ditawarkan untuk masuk ke Manggala corp."


"Jangan !" teriak Satria dan Rianti bersamaan.


ada apa?


"Lihaknya memaksamu?" kali ini Rianti yang bertanya.


"Iya"


"Terus?"


"Ya Emen gak mau, kan udah kerja teh."


"Bagus"


Emen memilih untuk tidak bertanya lebih banyak. disamping ia memang pendiam, ia juga berpikir pasti ada sesuatu yang salah.


"Men, maen dama aa dulu ya, teteh mau ke emak sama bapak dulu."


"Ok"


"Aa, aku tinggal bentar dulu, eh kok jadi ikutan mangil aa. Hehe." Rianti membekap mulutnya.


"Sayang, aku tinggal sebentar dulu ya."


"Hemm."


Sesampainya Rianti di ruang keluarga, dia tidak mendapati keluarganya disitu. Kemanakah mereka? Rianti memanggil pelayan untuk meminta penjelasan.


"Tuan besar sedang ke kamarnya, ayah dan ibu nona sedang diantar nyonya besar menuju kamarnya. Mereka akan menginap disini."


menginap? lah tumben.


"oh yaudah, terimakasih infonya. kamu bisa kembali ke tempat."


"baik nona, saya permisi."


Rianti bergegas menuju kamar yang ditujukan pelayan. Benar, orangtuanya ada disitu. Tapi nyonya besar sudah tidak ada.


"Mak, Pak."


"Ada apa neng, sini masuk." Ibu Rianti mempersilahkan Rianti untuk masuk yang masih berdiri diambang pintu. Karena memang pintu masih terbuka.


Sebagai anak, walaupun dengan orang tuanya. Rianti tidak mau asal masuk kamar orang lain. kKrena baginya itu adalah privasi. kecuali pemiliknya sendiri yang mempersilahkan.


"Sini neng Bapak mau ngomong sesuatu."


"Apa Pak?"


"Bapak baru tau, disini kalau ada sesuatu yang diinginkan, kudu terlaksana jangan sampe kagak." Ayah Rianti tersenyum mengingat kejadian tadi.


"Kenapa emangnya pak? Oh iya tumben inih pada mau nginep? biasanya kagak betah dimana-mana."

__ADS_1


"Nah justru karena itu."


Rianti tampak berfikir apa maksud perkataan ayahnya.


"Nanti dah bapak ceritain panjang soalnya."


"Iy dah pak. Rianti tadinya mau mastiin emak sama bapak, kok belum pamit pulang udah sore, oh ternyata hahaha."


"Ketawa lagi kamu neng hehe. udah sana kamu istirahat, jangan capek-capek." ibu Rianti mengingatkan.


"Baiklah" Rianti berlalu.


Sampai pada ambang pintu, Madih masuk dengan tergesa.


"Eg, kebeneran ada lu. Gua mau mandi. Pengen pake Aer anget. Tpi kaga bisa, ajarin apah paman mu ini"


"Si Madih kebanyakan gaya, lagian gua penasaran kok lu ngomongnya bisa jadi begitu." Ayah Rianti tergelak.


"Emang ngapa si bang. Sirik aja." sahut madih


"Mau mandi Aer anget mah gampang mang, tinggal masak Aer aja biar Mateng."


"Ilok ah, yang bener lu !"


"Di rumah juga gitu kan mang." Madih tampak tak percaya.


"Udah lu ke dapur aja sana, minta sama koki nya masakin Aer buat mandi." Ayah Rianti ikut main drama.


"Bener nih bang. Emang gak bisa dari kerannya gitu?"


"Gak bisa." jawab telak ayah Rianti.


Madih dengan polos mengikuti sarannya. setelah beberapa langkah menjauh, ayah, ibu, beserta Rianti tertawa lepas.


"Pak, parah banget kasian mamang. haha"


"Udah biarin paling tar dia ngomel ngomel."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Netizen : Thor kok nama adiknya Rianti Emen sih?


Author : Nama aslinya Rahman, emaknya manggil man men man men, jadilah Emen.


__ADS_2