Cinta Sejati

Cinta Sejati
Sore yang menyenangkan


__ADS_3

Rianti, pasti dirimu sedang bergumam, rasakan kau Niko, habislah sudah uangmu. hahaha.


Niko tidak bisa menahan senyum, begitu gemas dengan aksi Rianti yang akan membuatnya bangkrut. Gila, kata itu memang tepat untuk predikat kekonyolan Rianti.


Harta Niko ditaksir tidak habis tujuh turunan, di pakai untuk membayar Snack makanan ringan dan sewa mobil cimol di klaim akan bangkrut. Sungguh steatment yang sangat menggelikan.


Hasil nyata aksi kekonyolan Rianti yang sebenarnya adalah semakin dalam cinta Niko padanya.


"Kak, terimakasih. Nih dompetnya aku kembalikan."


"Iya sayang"


"Kak!"


"Iyaa.. iya udah iya." Gemas. Sudah ingin mencubit pipinya. Sabar Niko, sabar. Hanya tinggal beberapa bulan lagi.


"Ayo kita pulang. Udah sore. Dion sama Alana pasti sudah menunggu kita." ajak Rianti.


"Lu capek gak jalan nya? atau mau gua gendong?"


"Gak usah kak. Gak capek kok."


Mereka menyusuri jalan beriringan. Niko sedikit dibelakang Rianti menjaga. Dalam perjalanan yang hening membuat suasana terasa kikuk.


"Ri"


"Hem"


"Nanti malem gua keluar sebentar."


"Iya, jangan lupa besok jangan bolos kerja lagi. Tapi aku cuti seminggu ya hehe. Tenang kak aku sudah minta sekretaris Rion untuk menggantikan ku sementara."


"Untuk dokumen proyek baru pembangunan yang kakak inginkan sudah aku e-mail. nanti lihat saja, bilang aku jika ada yang harus diperbaiki."


"Oh ya, satu hal lagi. Terimakasih sudah mau jadi teman healing."

__ADS_1


"Kenapa Rion yang menggantikan? tidak bisakah wanita saja yang menggantikan?" ucap Niko.


"Emm, wanita? sebentar, sepertinya aku ada rekomendasi yang tepat. Lumayan berkompeten. Aku hubungi dulu ya kak." sudah memasang mode seperti di kantor. Sekatan jika tuannya memberi perintah.


kok dia gak cemburu sih.


"Rianti, gua berubah pikiran. Rion aja yang ngedampingin gua."


"Siap kak"


"Ri"


"Hem"


"Lu senang gak hari ini?"


Senyum, hanya senyum yang bisa di lontarkan. Karena senyum lah yang bisa mewakili jawaban.


Perasaan tulus Niko sudah di rasakan oleh Rianti. Namun hatinya masih keras untuk membuka kisah baru. Berputarnya memori kebersamaannya bersama Satria, saat melewati hari-hari dengan Niko adalah bukti.


Entah Rianti tak bisa lagi mencintai atau kah hanya tidak mengerti bagaimana cara menyimpan kisah lama dengan rapi, lalu berdamai dengan perasaan.


Niko menangkap senyum Rianti dengan jarak dekat. Membuat jantungnya berdegup kencang.


"Ri, main tebak-tebakan mau gak?"


"Ayo"


"Tebak berapa umur gua sekarang?"


"36 tahun, 2 bulan, 2 hari." jawab Rianti tanpa ragu.


"Lu tau tanggal lahir gua?"


"Tau"

__ADS_1


"Sekarang aku yang kasih tebakan. Apa warna jepitan rambut yang aku pakai hari ini?" Rianti sedang menggenggam jepitan di tangannya. Jika Niko memang memperhatikan secara detail. Dia pasti akan tahu.


"Warna ungu muda polos."


Rianti membuka genggaman. Benar apa yang dikatakan Niko. Tidak mungkin dia tidak tahu, karena Rianti adalah prioritas nya. Cinta pertama yang selalu dikejar sampai menjomblo di usia hampir 40 tahun.


"Ri, nanti malem gua mau keluar sebentar."


"Iya kak, tadi kan udah bilang."


"Emang ya? kok gua lupa. terus lu gak mau nahan gua gitu? kalau lu bilang gak, gua gak bakal jadi pergi nih."


"Emang kenapa harus di tahan? kakak mau bunuh orang?"


"Iya, gangguin duda gatel waktu itu." jawab Niko asal. Padahal dia mau merayakan kebahagiaannya hari ini. Pesta minuman bersama para pengikut setia.


"Silahkan." Rianti tersenyum lebar.


Niko terkejut dengan jawaban Rianti. Dia pikir wanita yang dicintainya ini akan menjawab ' jangan kak, dia gak salah apa-apa'. Ternyata dugaannya salah.


"Kalau boleh saran, kak Niko jangan menginap dulu malam ini. aku khawatir bapak akan marah melihat kakak sedang mabuk."


eh tau darimana dia.


.


.


.


.


Bersambung...


Di balik layar

__ADS_1


Saat Niko lengah, Rianti scan barcode akun Niko secara rapi tanpa jejak.


Jangan lupa bahagia !


__ADS_2