
Hari-hari melelahkan sudah berlalu, kini tinggal menuai benih yang sudah di semai. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan untuk kedepannya.
Rianti menarik nafas dalam, sudah saatnya dia bertemu dengan Niko, orang yang sangat di bencinya itu. Jika mendengar namanya saja uap panas mengepul di kepala.
"Hati-hati" Satria menyematkan kekhawatiran pada kata-katanya.
Rianti mengangguk, mencium tangan suaminya sebelum pergi. Saat hendak melangkah, Satria menarik Rianti hingga jatuh pada pelukannya.
"Aku memiliki kemampuan mengenali bau racun, tapi tidak dengan obat tidur. Itulah kelemahanku." Bisik Rianti pada Satria.
"jika sampai terkena, aku akan berusaha menahan hingga beberapa menit saja, kupergunakan mencari tempat aman untuk bersembunyi. Jemputlah aku di saat itu sayang." permintaan Rianti pada suaminya.
sudah nalurinya seperti itu, seorang istri akan lebih nyaman berlindung pada suaminya.
"Kau tempelkan benda ini di bagian tubuhmu yang tak terlihat." Satria menyerahkan alat penyadap. "Jam tangan ini juga, kau harus selalu memakainya. Aku akan selalu mengawasi keberadaanmu."
"Iya sayang"
"Rianti, maafkan aku sekali lagi atas ini. kita tidak punya pilihan lain."
"Iya sayang aku mengerti, berhentilah meminta maaf padaku. Sekarang aku pergi dulu jaga dirimu baik-baik." Rianti berlalu, dengan langkah semangat tanpa ragu. Dia ingin sekali menyudahi masalah ini.
*A*yo semangat Rianti. batin Rianti menguatkan.
Tanpa pengawalan seorang pun, Rianti mengendarai mobil sendiri. Namun, pengawasan sudah di sebarkan di berbagai titik untuk mempermudah penangkapan Niko.
Dia memasang mode santai. Menyadarkan diri bahwa hari ini dia akan menjadi ratu drama. Penampilan nya pun sederhana, bahkan dia tidak berdandan sama sekali. Pikirnya, untuk apa rapih, toh dia akan menunjukan kalau wanita yang dikejar Niko adalah wanita jelek.
Rianti salah besar.
Niko sama sekali tidak mengukur wajah wanita, maksudnya, Niko tidak menilai wanita hanya karena cantik atau tidak. Dia tertarik dengan Rianti bukan karena hal itu. untuk alasan Niko sang pemilik hati pun tidak tahu kenapa, karena rasa itu datang tanpa permisi.
Banyak wanita cantik di berbagai negara, kalau mau, Niko tinggal pilih wanita mana yang akan dikencaninya. Dengan wajah tampan dan cambang yang menggoda. Aset kekayaannya pun berlimpah walau banyak yang diperoleh dengan cara tidak baik, Niko lebih senang dengan dunia bisnis, ketimbang urusan wanita.
Wanita di matanya, hanya seonggok makhluk hidup manja.
..................
Sesampainya di persembunyian Niko, Rianti melangkah dengan tegas, matanya membidik adakah pengintai disini. Rianti sadar ternyata banyak sepasang mata yang mengawasinya.
Merinding, apakah yang akan terjadi selanjutnya? bisakah ia selamat dan berhasil dari misi ini? semua masih misteri. Di tambah ruangan yang Rianti masuki gelap.
Tidak ada seseorang disana.
"Niko, aku sudah datang sesuai permintaan mu, keluarlah !" suara menggema di sudut ruangan.
Langkah kaki terdengar mengintimidasi, muncul sosok yang menelpon nya tadi untuk meminta datang kesini.
Rianti perlahan mundur selangkah demi selangkah. Karena Niko terus saja maju tidak menghentikan langkahnya. Tidak memberi jarak di antara mereka.
Tembok sudah menyentuh punggung Rianti, dia melangkahkan kaki nya ke samping.
*J*adi kaya lagi main galasin begini.
__ADS_1
"Hentikan Niko !"
Niko berhenti seraya tergelak, melihat wajah Rianti yang sudah kesal dengannya.
Merasa jengah, Rianti mengambil tongkat yang ia temukan. Meletakan ujungnya pada perut niko. "Jarak kita segini, cepat katakan apa maumu aku tidak mau basa-basi."
"Hahahaha masih nanya apa mau gua?." Niko tertawa mengejek.
Rianti membaca situasi, kenapa hal ini bisa terjadi, kenapa keluarga nya tidak tenang mendapat teror terus menerus. Bukan dia tidak tahu, tapi lebih ke tidak mau tahu.
"Lu gak mau basa-basi, tapi lu sendiri yang seperti itu."
"Baiklah, kita fighting. Jika aku menang pergilah jauh dan jangan ganggu kehidupanku."
"Kalau gua yang menang?" Niko memutar tongkat membuangnya jauh. Tanpa menunggu jawaban Rianti, ia lebih dulu melakukan penyerangan.
Rianti menepis, perkelahian sengit terjadi. Pukulan demi pukulan di layangkan Rianti hingga salah satunya mengenai wajah Niko. Dia pun tersungkur.
*G*ila nih perempuan, luar biasa. Gua suka gayanya. Hati gua ga salah pilih, cuma dia yang pantes jadi partner gua. Tapi kenapa gua jadi lemah begini, segan buat nyerangnya.
Sebelum Niko beranjak bangun, Rianti lebih dulu menyerangnya lagi, Niko kesakitan seraya berkata.
"tolonglah kasihani lelaki tak berdaya ini." wajahnya melas.
"Apa? kasihan?"
"Iya sayang"
Niko semakin meringis.
"Jangan ganggu aku lagi, ingat itu"
"Sadarlah Rianti, Satria itu gak pantes buat lu."
"Seharusnya, kalau kau benar suka, kau harus merelakan wanita itu bahagia dengan pilihannya sendiri. Kau harus senang melihat wanitamu bahagia."
"Munafik!, ga ada yang bahagia lihat orang yang dicintainya senang bersama orang lain bukan dengan dirinya. Mana ada orang seperti itu. Coba lu seret ke hadapan gua, cari orang seperti yang lu sebutin."
Rianti mengendurkan cengkeramannya.
"itu cuma pernyataan munafik, pasti ada rasa sakit hati. Ngerti lu !"
Niko memanfaatkan kegelisahan Rianti yang sedang bingung harus menjawab apa. Dia menyerang Rianti dengan kemampuannya, hingga Rianti kehilangan keseimbangan.
"Kalau gua yang menang lu nikah sama gua"
"Gak akan!"
Mereka beradu seri, hingga pada akhirnya Rianti mengeluarkan biusan untuk Niko. Niko lemas terkapar tidak sadarkan diri.
................
penyerangan sudah di luncurkan, anak buah Niko sudah terkepung. berhasil dikalahkan oleh tim keamanan Artha grup.
__ADS_1
Satria datang, melihat Niko sudah terkapar. Rianti berlari menghampiri Satria dan memeluknya. "sayang" Satria mengecup keningnya. Harimau sudah menjadi kucing manis.
Semua kekacauan sudah di bereskan, Niko beserta anak buah sudah tertangkap dan akan mendekam di dalam penjara.
Setelah sadar, Niko mendesah kesal.
*S*ial,, gua kalah. arrgghh brengsek juga ternyata dia.
Niko dengan wajah lebamnya, menarik senyum simpul. Merasakan dirinya lebih tertantang. Dia merasa ada kecocokan dalam dirinya dengan Rianti. Yaitu, sama-sama memanfaatkan situasi, cara licik pun jadi.
..........
Flash back.
Sebelum kepergian Rianti menemui Niko, ayah Rianti menelpon anaknya. Dia tidak mau lagi lewat pesan, takut yang baca bukan Rianti lagi.
"Hallo neng"
"Iya ada apa pak?"
"Bapak mau pesen, saat neng mau nyerang dia, lihat dulu, dia pakai ilmu bela diri apa. Amati semua pergerakannya. Kalau neng ngerasa sama kuat, usahakan untuk bisa seri. Saling imbang. Habis itu neng kasih biusan aja ke dia, kaya yang dilakuin ke bapak."
"Begitu pak?"
"Lah iya, salam biusan dari bapak hehe. Serada dendam bapak neng."
"Ok siap pak, laksanakan."
Sambungan terputus.
"Sayang kamu melamun?" ujar Satria membuyarkan lamunan.
"Ehmm, iya sayang ada apa?"
"Aku bangga padamu Rianti. Besok papah mengundang kita untuk datang ke acara di gedung xx"
"Ok sayang."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1