
Gedung megah menjulang tinggi dengan tercium aroma gedung baru nan mewah mulai di padati tamu undangan. Rentetan buku berjejer sangat indah dengan klasifikasi warna sesuai gradasinya. Sangat indah untuk dipandang.
Melangkah sedikit ke dalam barulah terlihat inti dari isi ruangan tersebut. Gudang ilmunya sudah membumbung memenuhi ruangan. Walaupun zaman sekarang teknologi sudah canggih dengan koneksi internet yang meluas, bacaan pun sudah berbentuk elektronik dan mudah di akses, tetap saja minat membaca buku tak lekang oleh waktu.
Satria adalah salah satu makhluk hidup yang gemar membaca buku, begitu pun dengan Rianti sama dengan suaminya yang hobi membaca. alApalagi dengan novel, Rianti memiliki cerita tersendiri tentangnya. Suatu ketika pada masa sekolah dia membaca novel berisikan sejarah perjuangan sampai dibuatnya terkagum dan menangis. Pekan depan ulangan sejarah soalnya tak asing di otaknya seolah jawaban sudah tertera.
Dia merasa beruntung, dan mendapat nilai 100.
Sejak saat itulah ia selalu antusias dengan dunia pernovelan.
"Bersabarlah sedikit." Seru Satria melihat Rianti tatapannya sangat lekat dengan para buku-buku. Senyumnya cerah seperti biasanya bahkan lebih berbinar.
"Iya tuan."
"Oh ya, mohon ijin setelah acara selesai 10 menit saja.."
"Ehemmm.." Niko datang
kenapa dia ada disini. Batin Satria dan Rianti berbarengan. So sweet sekali mereka membatin saja sampai bersamaan.
"Hai para adikku yang selalu berbahagia." diatas penderitaan orang lain. Masih dengan jiwa yang jahat, niko memberikan kejutan lagi.
"Sebenarnya tamu tak di undang di larang masuk. Mungkin kakakku ini memiliki undangannya" Satria melirik istrinya, Rianti menggeleng bukan dia pelakunya.
"Iya kau benar adikku. Lihatlah" Niko mengangkat tinggi kartu undangannya.
"kalau begitu nikmatilah acaranya dan jangan membuat kekacauan." Sinis Satria.
"Hahahaha, setakut itukah dirimu padaku wahai adikku tersayang. Tenang saja aku tidak akan membuat kekacauan"
Triiing... notif pesan masuk pada ponsel Satria, Rianti segera memeriksanya.
"Nak, mamah di paksa Niko untuk memberikan undangan itu. Maafkan mamah yang sudah menusukmu dari belakang. Hehe"
Ponsel sudah berganti tangan, Satria gemas sekali dengan kelakuan ibunya. Sebuah permohonan maaf yang tidak merasa bersalah.
"Tidak takut, kita kan saudara bukan musuh. Kau juga bukan hantu kan." Jawab Satria dengan santai lalu melenggang pergi.
__ADS_1
Peresmian sudah dimulai, Satria berpidato dengan sangat elegan dan berwibawa. Niko memperhatikan itu, tidak..Niko memperhatikan yang disampingnya.
apa bisa gua melepas lu buat satria demi kebahagiaan gua sendiri?
Serangkaian susunan acara sudah di realisasikan. Puncak acara pun telah usai. Memang Niko memegang omongannya kali ini menjadi manusia penurut dan tak berulah sepanjang acara.
Tapi matanya tak lepas membidik Rianti.
"Tuan, saya mohon ijin sebentar saya ingin membaca salah satu buku disini."
"Sebentar saja." Jawab Satria
"Iya sayang, ekh maaf tuan." Saking senangnya Rianti sampai lupa diri.
sebahagiakah itu lu di samping adik gua yang bahkan sikapnya tidak lembut. Niko masih mengamati.
"Rianti, aku ada buku rekomedasi bagus untukmu. Buku ini sering aku baca di kala waktu senggang." Satria mengambil buku dengan cover berwarna ungu muda.
"Terimakasih, saya akan membacanya."
"Rianti, gua juga punya rekomendasi buku buat lu baca. Lumayan bagus buat diterapkan."
wah bukunya menceritakan tentang tata Krama. tapi kok.. iiisshh.
"Apakah kakak yakin sudah membaca bukunya sampai halaman terakhir?" Satria merebut paksa buku rekomendasi Niko di tangan Rianti. Lalu menaruh di dada Niko dengan kasar.
"Rianti, ayo kita pergi dari sini."
...........
"Bisa l-bisanya dia memanfaatkan mamah untuk mencapai tujuannya."
"Nenurutku dengan sikapnya yang seperti itu. Kita hanya perlu menghindar sayang, aku mau ke kamar Dion dulu ya."
"Dion sudah tidur. Kamu mau apa kesana?"
"Iya sih, aku cuma mau lihat."
__ADS_1
Satria sudah memasang wajah yang tak enak dilihat. Mulutnya berhenti bicara seketika.
"Sayang, aku tidak jadi ke kamar Dion." Rianti naik ke atas ranjang menemani suaminya. Sudah hafal jika satria sedang merajuk.
"Oh ya sayang, besok malam kamu ada makan malam bersama para petinggi sekutu kerajaan bisnismu yang berasal dari negara xxx. Pertemuan ini sangat penting untuk menambah kekuatan Artha grup."
"Kamu atur saja."
"Harusnya aku tidak ikut denganmu malam itu, tapi aku akan berusaha terus disampingmu."
"Memang kenapa kamu tidak bisa ikut? terus siapa yang akan menyuapiku disana?" Satria sudah mulai bergurau.
"Manggala berulah lagi, setelah kuselidiki maksud dan tujuan adalah untuk memisahkan agar aku tidak bisa ikut denganmu pada acara itu. Tapi tetap saja karena ulah mereka aku harus membereskannya. Tenang sayang.. aku sudah memiliki cara untuk mengelabui mereka agar aku seolah terjebak dalam perangkap mereka."
sebenarnya aku sudah tau masalah ini, tidak disangka kamu begitu cepat merespon dan ambil tindakan. kamu memang istriku yang sangat cerdas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...