
Satria mengusap punggung istrinya, memberi kekuatan agar Rianti lebih tenang saat mengeluarkan isak tangis yang terpendam.
"Sayang, sebaiknya kita keluar dan main bersama mereka saja, kamu mau kan bantuin aku?" bahkan Satria hanya untuk berjalan harus dengan bantuan.
"Iya sayang, tunggu sebentar ya aku mau membersihkan wajahku dulu."
.........
Di lapangan latihan memanah.
Niko mengajarkan bagaimana memegang busur panah dengan benar. Tangan kanannya mencengkram punggung tangan Dion yang sedang memegang anak panah dan mengarahkannya ke belakang.
Mulutnya memberi aba-aba dan juga arahan untuk membidik sasaran, setelah itu
Wusshh...
Anak panah melesat tidak jauh, hanya separuh perjalanan sudah mendarat ke tanah dengan posisi arah yang condong.
"Hahahaha" Niko, Dion, dan Alana tertawa bersama.
"Dimaklumi untuk yang pertama, tapi tidak untuk kedua." Sinis Niko dengan tujuan memberi semangat.
"Dion akan berusaha om." Tangan kecilnya sudah memperagakan lagi apa yang di praktikan tadi. Baru sekali mencoba anak itu sudah hafal langkah-langkahnya.
Wuuussshh..
Untuk yang kedua sampai pada papan sasaran, namun tidak menancap, hanya sekadar menabrak.
"Ehemm"
"Papah... Mamah..."
Alana berteriak kegirangan, Dion pun demikian.
"Papah, Mamah, mau ikut bermain juga ya." Dion melirik khawatir ke arah Satria.
"Iya sayang, papah boleh ikutan kan nemenin kalian?"
"Dion senang sekali pah."
Satria memohon dalam hati agar di beri kekuatan pada sang pencipta walaupun hanya sebentar.
Di satu sisi
Niko perlahan mundur dari arena latihan. Dia memilih untuk mengamati dari sudut taman menyesap kesenangannya saat masih menjadi mafia dulu.
__ADS_1
Di gazebo tempat Niko berteduh, kepulan asap membumbung tinggi. Tuan dan Nyonya besar yang ingin menghampiri mundur sejenak sampai Niko mematikan bara api yang menyala.
"Papah sudah sehat?"
"Sudah mendingan nak."
"Papah sama Mamah tidak ikut bermain dengan mereka?"
"Nanti saja, beri mereka ruang waktu untuk menikmati kebersamaan. Tapi nampaknya Satria terlihat jauh lebih sehat ya pah." jawab nyonya besar dengan netranya mengamati keluarga kecil yang sedang bermain.
"Niko juga lihatlah, apa hanya perasaan mamah saja?" kini beralih pandangan sambil menunjukan ke arah yang dia perhatikan tadi.
Tuan besar dan Niko nampak memperhatikan, memang benar apa yang dikatakan nyonya besar, bahkan Satria bisa berdiri tanpa harus bertopang tubuh pada Rianti.
Nyonya besar terharu, dia tak tahan untuk menyapa dan memeluk mereka dengan langkah tergesa.
"Satria anak mamah, kamu terlihat lebih sehat nak." Nyonya besar memeriksa tubuh putranya itu, mengusap bahu yang dulu terlihat kokoh.
"Alhamdulillah mah."
Rianti yang duduk di kursi kecil, memerhatikan sambil bertopang dagu. Tadi dia menangis terisak, sekarang muncul senyum merekah secerah sinar mentari.
"Papah dimana mah?"
"Tuh, sama Niko" menunjuk ke arah mereka yang sedang melambaikan tangan. Kemudian mereka juga menghampiri dengan Niko mendorong kursi roda tuan besar.
Setelah kejadian itu, Tuan besar lebih bisa menerima, tidak semua yang di mau akan terwujud dengan mudah. Bahkan sama sekali tidak sesuai harapan.
Kepasrahannya membuat tuan besar jauh lebih ringan dan sehat.
"Kakek.." Alana yang memang sejak kemarin merajuk ingin bermain dengan kakeknya sangat senang dengan kedatangan tuan besar.
"Cucu kakek yang sangat cantik." Tuan besar mengusap kepala bocah itu. Alana semakin bermanja, membenamkan wajah di pangkuan tuan besar.
"Hei nak, sudahlah kakek geli tuh kamu ngusel disitu." Cetus Niko membuat semua orang yang mendengar ingin mencekiknya.
"Gak papa Alana sayang.. pasti kamu kangen sekali sama kakek ya." Tuan besar mengalihkan karena Alana sudah menunjukan wajah cemberut nya pada Niko.
Alana berkacak pinggang seperti menantang. Dia sangat berani karena saat ini keluarganya berada disekeliling. Niko tersenyum sinis tak tahan dengan Alana yang sangat menggemaskan.
"Om, turunin. Alana gak mau di cium om." Alana berontak karena Niko yang terlalu gemas langsung menggendongnya.
"Kenapa emang gak mau di cium om?"
"Om Niko bau asap."
__ADS_1
"Asap? bukannya Alana suka bau asap, kan kamu suka ayam bakar nak." Niko tidak mau kalah.
"Bukan asap itu, om Niko asapnya seperti..."
"Seperti apa sayang?" Satria ikut nimbrung.
"Seperti asap telur gosong." Alana tampak menggaruknya kepala, sepertinya dia bingung sedang membicarakan apa.
Semua orang yang berada disitu tergelak.
"Alana mau sama papah aja. Om turunin." Niko yang tak tahan dengan ocehan Alana menyodorkannya bocah itu pada Satria.
"Nih, ku kembalikan."
Satria meraihnya, lalu melakukan seperti apa yang Niko lakukan. Namun Alana tak protes bahkan semakin bergelayut manja.
Ketika Satria ingin berdiri sambil menggendong putrinya, Rianti dan Niko refleks ingin membantu. Namun Rianti mundur lagi membiarkan Niko yang melakukannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Dibalik layar
Saat moment nyonya besar menghampiri satria beserta keluarga kecilnya. Tinggallah tuan besar dan Niko di gazebo.
"Pah, mau?" Niko menyodorkan bungkus rokok pada tuan besar yang dikonsumsi nya tadi.
"Niko, Niko.." tuan besar menggeleng.
__ADS_1
"Kau masih saja durhaka pada orang tua." Tangannya menjewer telinga putranya itu lalu mereka tergelak bersama. tuan besar sedikit terhibur dengan kenakalan Niko yang tiada habis, yang tak pernah mengikuti peraturan.