Cinta Sejati

Cinta Sejati
Pernikahan Kedua


__ADS_3

Tidak terasa, waktu bergulir dengan cepat. Rianti yang sibuk dengan urusan Manggala sudah di hadapkan dengan suasana yang memang tidak pernah di bayangkan dalam hidupnya.


Di kamar yang sudah menjadi saksi bisu cerita Rianti dan Satria, sedang berada wanita menatap cermin melihat hasil make up pengantin untuk kedua kali.


Riasan natural menampakkan aura kecantikan Rianti, Seperti beda tipis pada saat pernikahannya dengan Satria. Hanya saja sekarang Rianti terlihat lebih matang.


"Sayang, sudah siap?"


"Siap mah." Entah sekarang atau besok bagi Rianti sama saja. Pernikahan ini tidak dapat di hindari.


Menuruni tangga dengan banyak mata memandang sama sekali tidak membuat Rianti gugup. Tidak adanya getaran cinta yang hadir mampu menciptakan senyum datar di hari yang spesial.


Rianti berjalan semakin mengikis jarak, duduk disamping musuh yang berubah menjadi calon suami. Duduk tenang seiring dengan berjalan prosesi akad nikah, tangan Niko sudah menjabat dengan tangan ayahnya.


Sama seperti dulu.


Peluh juga membanjiri pelipis Niko, lelaki itu gugup dengan pernikahan impiannya. Sebentar lagi Rianti yang selalu di perjuangankan akan dimilikinya dengan utuh.


Terlewat senang Niko mengentengkan ijab Qabul, saat ayah Rianti dengan lantang mengucapkan ijab, dia pikirannya berlarian.


sedikit lagi niko.


Dia kehilangan konsentrasi berdampak pada gagalnya pengucapan pertama. Para tamu menyayangkan, dan memberi semangat pada sang mempelai pria. Sedangkan yang wanita mendengarnya hanya tersenyum tipis.


Ayah Rianti menatap dalam, pria tegas berambisi yang tidak pernah mau kalah argumen bisa grogi juga disaat seperti ini. Ataukah memang benar Niko amat mencintai putrinya.


Yang kedua dimulai.


Kesalahan yang pertama membuat Niko kesal, jika sudah kesal Niko berubah menjadi pintar. Otaknya tidak mau lagi membagi konsentrasi, dengan lantang dia berucap tanpa adanya koreksi.

__ADS_1


SAH.


Kata yang bergema dari para saksi dan juga keluarga. Tanpa ragu dan tak tahu malu Niko berdelebrasi atas kebahagiannya yang di sambut gemuruh pengikut setia Niko di bawah pimpinan Willy.


Rianti berperang batin semoga tidak ada pesta minuman malam ini. Apalagi sampai melewati batas melakukannya di hadapan para kerabat dan keluarga. Dia memendam keburukan Niko, tanpa sadar dia juga telah melindunginya.


"Selamat ya bos, akhirnya yang di tunggu telah tiba." Willy cengengesan, senang bukan main pejomblo tua bangka telah melepas masa lajangnya.


"Hem"


..........


Acara selesai menyisakan lelah, Rianti berganti baju dengan bantuan para dayang. Menghapus make up yang sempat membuat cantik paripurna bersanding dengan Niko. Kakak ipar yang resmi menjadi suaminya itu.


Sosok Niko masih disibukkan dengan perayaan pesta megah di rumah utama. Para pengikutnya masih setia menemani sampai acara beranjak selesai. Menebar tawa kesana kemari yang dulu tertahan karena masa kelamnya.


"Neng" ibu Rianti menerobos masuk ke dalam kamar, diikuti Dion dan Alana yang dari tadi sibuk menyaksikan apa itu pernikahan.


"Iya Mak"


"Emak balik ya. Gak pake nginep hehe. Gak apa-apa kan neng?"


"Iya Mak, Gak apa-apa. Terimakasih udah datang nemenin neng. Oh ya Rianti udah siapin bingkisan di mobil. Hati-hati di jalan."


"Iya neng, segala pake bingkisan, jadi ngerepotin inih emak."


"Repot darimana Mak, orang tinggal perintah hehe."


"Iya ya."

__ADS_1


"Mamah cantik." Ujar Alana tidak lepas memperhatikan Rianti sambil cengengesan.


"Alana juga cantik kaya mamah."


"Mah, Alana ingin nikah kaya mamah biar cantik."


"Hei..." Rianti dan ibu bersamaan, kaget mendengar permintaan Alana. Rianti yang sedang gemas tak hentinya menghujani ciuman di pipi putrinya. Sambil memberikan petuah tentang permintaannya tersebut.


"Hahaha, punya cucu omongannya bikin kaget. Emak balik sekarang ya neng."


"Iya Mak hati-hati."


Nyonya besar dan suaminya berpapasan dengan ibu Rianti yang sedang tergopoh. berjalan cepat menghampiri keluarga.


"Ih Bu besan mau kemana?" menghadang ibu Rianti yang berancang untuk kembali ke rumah.


"Mau pamit pulang, sudah malam. Maaf saya tidak bisa menemani lama."


"Yah" tepukkan tuan besar di pundak istrinya menyadarkan agar tidak memaksakan kehendak.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2