
Hari ini Rico mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Sebuah danau dengan taman bunga disekelilingnya.
"indah sekali Rico. aku baru tahu ada tempat seperti ini?" aku benar2 takjub dengan pemandangan disana
"ini taman milik keluargaku. mama dan papa dulu menyatakan cinta disini" jelasnya
"benarkah?"
"aku ingin kita juga mengukuhkan perasaan kita disini"
Deg
Seketika wajahku memerah. Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Kenapa hari ini Rico begitu romantis.
"aku berjanji padamu. kelak hanya kamu gadis yang akan aku nikahi"
Aku benar2 terbius. Masih tidak percaya apakah ini mimpi. Dan ketika aku tersadar. Sebuah cincin sudah melingkar di jari manis ku.
"cincin ini. mengikat kita. selamanya"
"sejak kapan kamu bisa seromantis ini?"
"apa kamu tidak suka?"
"tidak. aku sangat suka. hanya saja"
Tidak sempat aku melanjutkan kalimat ku. Wajah Rico sudah berada tepat di hadapanku. Sepasang matanya yang teduh terpejam. Bibirnya lembut menyentuh bibirku. Mengulumnya perlahan. Semakin dalam.
Deg
Deg
Deg
.
.
.
Aku masih menyandarkan kepalaku dibahunya. Tidak pernah terlintas kalau hubungan kami akan sejauh ini. Sampai di titik ini.
Mataku menyapu air danau yang tenang di depan sana. Angin yang berhbus lembut menenangkan hatiku yang berkecamuk. Merisaukan keberangkatan Rico. Akhir minggu ini.
Kembali tangannya meraih jemariku. Menggenggamnya. Mengecupnya beberapa kali.
"apa kita akan seperti ini. selamanya?" tanyaku
"jangan risaukan hari esok" jawabnya
"ya?"
"kita nikmati saja apa yang kita miliki hari ini"
"iya"
Menjelang sore kami memutuskan pulang. Rico mengambil motornya dan aku menunggu di gerbang masuk.
Kupandangi sekeliling. Dan tanpa sengaja kedua mataku menangkap sesuatu. Mama Rico? Dengan seorang pria. Mereka tampak berbincang akrab. Bahkan ada sebuah ciuman disana.
aaah...mungkin papa Rico
Namun. Betapa terkejutnya aku. Bagaikan kilatan petir yang menyambar tubuhku. Pria itu bukanlah papanya Rico. Itu. Itu. Ayah?
"hei. kamu melamun?" suara Rico mengejutkanku
aku bahkan tidak menyadari kedatangan Rico
"jadi pulang?" tanyanya lagi memastikan
__ADS_1
"eh. iya. tentu" jawabku tergagap
"siap tuan putri"
.
.
.
Kenapa begitu sulit mata ini terpejam. Dan. Bukanlah memikirkan tentang Rico. Tapi...
kenapa ayah disana?
dan dia tidak pulang ke rumah?
tidak menemui ku
lalu...
mereka berciuman!!!
apa?!!!
ini tidak benar. firasat ku buruk
.
.
.
Suara merdu kicauan burung membangunkan ku. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela menyapaku begitu hangat.
siapa yang membuka tirai jendela?
Kuusap perlahan kedua mataku. Mencoba memaksimalkan retina mataku untuk menangkap bayangan yang sedang berdiri disana.
"apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanyamu dengan nada tinggi
"apa lagi memangnya yang harus aku lakukan? jelas membangunkan mu. putri tidur"
"putri tidur? sembarangan bicara"
"lihatlah. matahari sudah setinggi ini. dan kamu masih bersembunyi dibalik selimut"
"aku tidak tidur cukup tadi malam"
"tampak jelas dengan bayangan hitam di matamu"
"ah...benarkah?"
"cepatlah mandi. aku hangatkan lagi sarapannya"
.
.
Suasana dimeja makan. Sebenarnya hanya aku yang makan. Karena Hiro hanya duduk disebrang sana dan memandangiku.
"apa yang kamu pikirkan?" tanyanya
"tidak ada. kapan kamu pulang?"
"dini hari tadi"
"ada urusan kah?"
"tidak. hanya ingin melihatmu"
__ADS_1
"apakah ayah juga akan pulang?"
"entahlah. aku tidak berbincang dengannya dalam waktu yang lama"
"oooh"
"kenapa tidak menghubunginya saja. kamu putrinya"
"eh..sudahlah. kalau mau datang ya datang saja"
"bagaimana ujianmu?"
"baik"
"hanya baik?"
"hasilnya saja belum keluar"
"apa rencanamu selanjutnya?"
Aku menghela nafas dalam. Meletakkan alat makan di tangan ku.
"entahlah. aku tidak ada bayangan"
"apa kamu ragu. karena Rico?"
"hhhhh...mungkin. dia akan berangkat minggu ini"
"kamu harus memutuskan segera mungkin"
"ya?"
"kampus tempatmu kuliah"
"ah. itu"
Hiro terus menatapku. Sepertinya dia sadar. Ada yang tidak beres denganku. Aku seperti tidak fokus dengan obrolan kami. Bahkan terlalu hambar.
"Hiro" panggilku ragu
"hm?"
"apa kamu tau danau di tepi kota?"
"danau cinta?"
"apa?"
"danau cinta. semua orang di kota ini tau tempat itu. kamu mau aku mengajakmu kesana?"
"tidak.tidak. aku baru saja kesana"
"dan mendapat cincin itu?"
"ah. pasti terlalu mencolok"
"kalian masih terlalu muda. jangan terlalu banyak berharap. atau kamu akan benar2 kecewa diakhir"
"apa maksudmu?"
"bersiaplah untuk kemungkinan terburuk"
"ah...kenapa kamu mulai menentangku lagi? apa.kamu mau memisahkan aku dan Rico?"
"aku? memisahkan kalian? jangan berlebihan. biar bagaimanapun. kamu akan kembali padaku nantinya"
"cih...kepercayaan dirimu jangan sampai membuatmu menjadi perjaka lapuk"
"apa kamu mengkhawatirkan ku?"
__ADS_1
"cih"