
Alarm berbunyi, pertanda kegiatan pagi sudah menunggu. menyibak selimut yang semalam sempat menghangatkan. Lalu perlahan membuka mata sadar dan duduk termangu di tepi kasur.
Rianti menoleh ruang disampingnya
dan Satria masih terlelap, dia menuju kamar mandi dengan perlahan takut pergerakannya mengganggu tidur nyenyak Satria.
Dan ..
Tepat pagi ini, tamu bulanannya datang. Akh ternyata belum hamil, ada sedikit rasa kecewa
tapi tidak mengapa masih ada usaha selanjutnya dan bulan berikutnya. Begitulah Rianti menguatkan.
Ketukan pintu mengagetkan Rianti.
"Sayang, kenapa pintunya di kunci
biasanya juga tidak?"
"Sebentar ya sayang aku belum selesai."
"Hei kau pipi tomat, memangnya sedang apa
aku sudah tau setiap inci tubuhmu, kenapa harus di kunci!" nada suara mulai meninggi. Satria terbangun ketika Rianti tidak ada di sisinya.
*A*staga bawelnya suamiku ini
Handle pintu mulai bergerak, Satria tidak sabar mendorong. dan..
Gubrak..
Rianti terjatuh akibat terdorong pintu. Posisi jatuhnya lumayan membuat orang tergelak.
Satria menahan senyum, karena rasa khawatir yang telah mendominasi.
"Sayang, maafkan aku
kepalamu pusing? atau kau..
Rianti kau berdarah!"
Rianti memegangi kepalanya, merasakan sensasi pusing akibat benturan. Tapi hanya sebentar dan tersadar Satria begitu panik.
*S*atria, suamiku.. walaupun kamu pemarah, dan dingin tapi kamu sosok pribadi yang baik, aku beruntung memilikimu,. oh ya kalau di lihat dan di perhatikan kamu ternyata tampan juga hehe..
__ADS_1
Rianti terpana dengan wajah panik Satria.
Lelaki itu hendak menggendong Rianti namun terhuyung.
"Sayang, tidak usah aku bisa berjalan sendiri."
*L*emahnya tubuh ini bagaimana bisa aku melindungi Rianti dengan kondisi ku seperti ini.
"Tapi sayang, kamu berdarah."
"Apa? berdarah?"
Rianti melihat lantai, memang benar ada darah disana.
"Oh sayang maaf, aku memang sedang datang bulan. itu bukan darah karena aku terbentur"
Satria memeluk Rianti dengan sangat erat.
"Kamu dingin sekali, wajahmu pucat." Rianti terheran. lalu Satria tersungkur di pelukan Rianti.
...........
"Tuan muda tidak boleh cemas dan panik,
ini sangat berpengaruh pada kesehatannya."
Sini sayang mendekatlah." kalimat yang ditujukan pada Rianti, karena dia melihat istrinya begitu sedih.
Rianti mendekat, dan di peluknya tubuh Rianti.
"Jangan dengarkan kata dokter itu." bisik Satria menenangkan. Sungguh bergetar hati Rianti di hadapkan situasi yang menguras perasaan. Nyonya besar hanya menyaksikan pilu.
Tuan besar pun mengajak dr. Roy untuk keluar ruangan dan berbicara empat mata, membahas tentang pembicaraan tempo hari.
Dia mendesak dr. Roy agar bisa menemukan pendonor itu dengan segera. Tidak mau menunggu lama karena baginya satria adalah pewaris Artha grup, dan tentunya adalah anak kesayangan nya. Walaupun sebenarnya dia memiliki anak lain yang dia tidak ketahui keberadaannya.
Bahkan, tuan dan nyonya besar tahu bahwa mereka memiliki anak laki-laki sebelum satria. Baru saja beberapa waktu lalu, pada saat lelaki tua bersimpuh di lantai menceritakan keadaan sebenarnya kepada tuan dan nyonya besar.
Tapi saat ini, keadaan satria yang paling penting bagi mereka.
Rianti menyusul nyonya dan tuan keluar kamar.
"Mah, pah maafin Rianti, ini semua gara-gara Rianti terjatuh di kamar mandi." Rianti menunduk bersalah.
__ADS_1
"Kamu terjatuh di kamar mandi sayang? " nyonya besar memeriksa
"Iya mah"
"Ada yang terluka,?" tuan besar panik, "dr. Roy, cepat periksa menantuku."
"Baik tuan" jawab dr. Roy.
"Tidak apa-apa pah, cuma jatuh biasa tidak terlalu keras. tapi aku malah bikin .."
"Sudah sayang, ini bukan salahmu
berarti Satria begitu mencintai dan menyayangimu. Dia tidak mau sampai kamu terluka. Hanya saja keadaannya begitu lemah." Nyonya besar menunduk pilu, dan meneteskan air mata.
"Mah" Rianti memeluk nyonya besar dengan hangat.
"Sayang" teriak Satria dari dalam kamar, dia ter tidur saat dalam pelukan Rianti. Dan menyadari bahwa Rianti tidak ada lagi di sampingnya.
"Rianti, untuk saat ini kamu selalu berada disampingnya ya sayang, jangan tinggalkan dia walaupun hanya sebentar."
"Iya, kami mohon"
"Ini memang sudah kewajiban Rianti, mah, pah, Rianti masuk kamar dulu."
"Iya sayang"
...........
"Kamu darimana aja sih!" teriak Satria kesal
masih mempunyai kekuatan untuk mengomel.
"Aku dari luar sebentar, ngobrol sama mamah papah. Oh ya, kamu udah hampir menjelang siang belum sarapan." Rianti menelpon kepala pelayan untuk membawa makanan ke kamarnya.
"Kamu tumben minta anterin, biasanya pergi ngambil sendiri!"
"Aku lagi males kemana-mana" kecupan Manja mendarat di pipi Satria.
"Hehe maaf ya, gak salah kan kalau aku cium suami sendiri?" mengangkat jari damai.
"Hei kau Rianti ..
"Aah sayang hentikan..
__ADS_1
Satria meninggalkan banyak jejak merah disana.
bersambung...