Cinta Sejati

Cinta Sejati
Mengenang masa lalu


__ADS_3

Setelah merubuhkan dahan pohon jambu, Rianti dan Niko kini sudah berpindah haluan. Dua petinggi Artha grup sedang bercengkrama di gubuk tengah persawahan.


"Kak, kenapa kamu dari tadi ikutin aku terus? jangan khawatir, aku gak kenapa-kenapa. Soalnya musuh yang selalu mencelakai sudah insyaf katanya." nyindir.


"Menyendiri juga butuh teman. Gua cuma mau temenin lu."


"Hah, sejak kapan kata menyendiri yang artinya sendiri tapi ada temannya?"


"Sejak sekarang, gua penemu kalimat itu. Sebentar lagi gua bikin hak ciptanya."


"Sebentar ya Ri, gua ada panggilan alam dulu. gua ke tepi rawa sana ya."


"Iya kak, hati-hati takut ada ular."


"Iya sayang, sungguh perhatiannya neng sama Abang. haha"


"Dih, orang cuma bilangin. jangan ge'er."


Rianti menepuk-nepukan dahi. Biar otaknya tidak kembali flashback setelah mengatakan ular. Dimana Rianti saat itu terjaga semalaman di dalam tenda bersama Satria, menjaga agar tidak ada hewan melata masuk.


eh tadi katanya panggilan alam, dia mau ngapain ya? pikiran Rianti sudah berimajinasi, membayangkan jika Niko bab di pinggir sawah.


Geli sendiri dengan isi pikirannya, Rianti tak dapat menahan tawa. Rasa penasaran tapi gengsi pun muncul. Siapa tahu bukan apa yang telah di pikirkan.


Tapi jika itu benar, ini merupakan aib yang bisa di jadikan senjata untuk mengancam Niko. Hehehe


Rianti melirik Niko dengan ekor mata, kepulan asap lah yang terlihat.


Ternyata lelaki itu sedang merokok pemirsa.


oh lagi ngerokok. eh ngapa jadi kepo begini si. Rianti


Niko mendapat pesan dari Willy, sambil mengetik sambil memperhatikan Rianti juga di gubuk sana.


"Bos"


^^^"?"^^^


"Haus banget nih"


^^^"Iya emang lu doang yang punya tenggorokan."^^^


"Maksudnya kita udah lama gak minum bos"


^^^"Gua lagi gak pengen, lagi bahagia sama kesenangan gua yang nomer satu."^^^

__ADS_1


"Ok bos. Maaf nih ganggu"


^^^"Emang lu ganggu banget."^^^


Susah memang bicara dengan orang di mabuk cinta. Tidak akan sama dengan kebiasaan sebelumnya. Perubahan selalu terjadi. Entah menjadi positif ataupun negatif.


Setelah urusannya selesai, Niko kembali mendekat pada Rianti. Sebelumnya dia mengunyah permen agar bau nafas rokok tidak menyengat.


Walau berandal, kesayangan tetap harus di jaga.


"Baru juga jauh sebentar udah kangen aja." goda Niko. Dia pintar sekali membuat kalimat yang bermakna ganda.


"Siapa yang kangen?"


"Tebak."


"Kamu kak yang kangen aku gitu maksudnya?"


"Lu lah, kok gua. Orang dari tadi lu yang liatin gua sambil ketawa. Hayo ngaku."


njiirr kena lagi aja.


"Ngaku apaan, mendingan makan kuaci nih. Sayang jajanannya belum habis."


Tanah lapang yang terdapat pos Ronda tempat mereka sekarang berteduh. melihat serunya anak-anak bermain layang-layang dan juga bola boy. Rianti asyik mengupas kuaci untuk Niko. Karena lelaki itu mendadak manja ketika disuguhkan kuaci.


"Kak, kamu mau menghabiskan semua jajanan ini gak?" tanya Rianti sambil menunjuk ke arah jajanan legend yang suka dia beli semasa kecil.


"Iya, asalkan sama lu makannya. Kalau gak sama lu jangankan ngemil, makan aja gua gak mau."


lebay


Di sela keasyikan mengupas kuaci, Rianti meraih ponsel dan mengetik pesan. tangannya yang terhenti dari aktifitas membuat Niko protes.


"Iya kak, sebentar ada urusan."


"Urusan apa sih?" kesal


"Rahasia."


Tambah kesal saja Niko.


Rianti lanjut mengupas banyak untuk menyudahi kebawelan Niko. Lelaki itu baru diam ketika Rianti beralih perhatiannya kembali.


Seorang ibu muda yang mengendarai motor dengan membawa setumpuk jajanan tiba mengampiri mereka. Niko tercengang karena Rianti membeli cemilan begitu banyak.

__ADS_1


"Kak, boleh gak aku minta duit?"


Mata Niko berbinar. boleh banget sayang. bahagia malah dengarnya.


"Nih, ambil sesuka hati." Niko menyerahkan dompetnya, langsung di raih oleh Rianti dan mengambil uang senilai satu juta rupiah.


"Tadi totalnya berapa? 950.000 ya?"


"Iya neng."


"Nih Bu rum kembaliannya ambil aja."


"Terimakasih banyak."


.........


"Sayang, ini Abang yang suruh ngabisin?"


"Gak, punya kakak yang ini" sambil memilah camilan. "Eh, apa tadi. Kak tolong kondisikan panggilanmu." Memicingkan mata.


"Hahahaha, eh itu dompet gua gak di balikin? masih di pegangin aja dari tadi."


"Belum selesai, kan kata kakak ambilah sesuka hatimu." sudah tersenyum penuh makna.


"Aku mau bayar mobil cimol buat para bocil di kampung ini. Dan menggunakan uang di dompet ini pastinya."


rasakan kau Niko, dompetmu akan terkuras habis. hehe


Percakapan yang menyejukkan hati bagi Niko. kejadian detik ini sungguh membuatnya bahagia dan patut dirayakan. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan Rianti.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa bahagia !


warganet : Thor, kok gua jadi cengar cengir sendiri?


author : laah

__ADS_1


__ADS_2