Cinta Sejati

Cinta Sejati
Akhir cerita


__ADS_3

Setelah mendapat perlakuan tidak terduga, Rianti memutuskan untuk memasuki kamarnya dan membuang jauh-jauh rasa takut yang mengerubungi.


Wanita itu membalut tubuhnya kembali dalam gelungan selimut tebal demi pertahanan diri dari malam yang mencekam. Ingin menangis? tentu saja, karena sekuat apapun Rianti, dia hanyalah seorang wanita, tidak lebih.


Di dalam gelungan sana, oksigen terasa begitu menipis. Rianti bergumam sendiri antara kesal, sedih ataupun sedang menghibur dirinya. Hingga bunyi pintu terbuka mengheningkan yang tadi sempat berisik.


Siapa tuh


Rianti semakin mengeratkan selimutnya hingga menutup rapat seluruh tubuh.


"Maaf"


Kata itu terdengar samar di tengah tebalnya selimut yang hampir memblokir semua suara. Rianti mengendurkan penjagaan.


"Maaf" Kata itu lagi terdengar.


Sekarang, ada tangan kokoh yang menambah berat selimut. "Buka sayang, gak usah takut ada Abang disini." bujuk Niko sambil berusaha mengenyahkan gelungan selimut yang sudah seperti dadar gulung.


"Iya sebentar kak"


"Maaf sayang" Niko kini sudah menyergap tubuh mungil Rianti lalu menciumi tengkuk meresapi aroma sabun yang menguar begitu memabukkan.


"Kak, kamu lagi ada di pengaruh alkohol. Aku juga lagi datang bulan. Nanti apalagi yang akan kamu hancurkan? lemari? atau rumah ini kak?" sarkas Rianti karena sebal dia sudah menjaga diri tapi Niko mau menyalakan api di genangan bensin.


"Jadi kalau kamu sudah tidak ada halangan, kamu bakal mau melayaniku?"


Rianti diam dulu sebentar, berfikir jawaban apa yang akan dia berikan. Sebenarnya dia ingin menjawab "tidak tahu" karena efek pertengkaran tadi.


"Rianti.."


"Iya kak"


"Iya apa?"


"Iya pasti seorang istri melayani suaminya dengan baik."


Niko membalikan badan Rianti hingga posisi yang tadi membelakangi menjadi saling bertatap. Niko semakin menenggelamkan wajahnya di dada sang istri yang sedang mengatur nafasnya. Merasakan apakah ada debaran jantung yang cepat ketika mereka sedekat ini.


Niko betulan tidak berbuat ulah kali ini. Wajahnya damai dengan senyum tipis yang masih bertengger di bibirnya.


"Sayang, jangan takut sama Abang ya. Apalagi sampai punya pikiran untuk menjauh. Memang Abang seperti ini orangnya, kalau boleh memilih Abang juga tidak mau memiliki sifat seperti ini." wajah sangar Niko bisa juga menjadi teduh. Rianti menatap Niko bersamaan dengan lelaki itu mendongakkan kepala. Pandangan mata mereka saling bertembung, menyelami bola mata bening yang sarat akan makna.


...........


Waktu sudah banyak berlalu. Niko dan Rianti telah kembali ke negara asal menjalani rutinitas yang kadang membosankan.

__ADS_1


Hari ini, tepat satu Minggu Niko tidak bertegur sapa dengan Rianti. Jangankan suara, melihat batang hidungnya saja sudah tidak lagi. Niko benar-benar bukan Niko yang Rianti kenal.


Rianti mengingat-ingat apakah ada omongan yang melibatkan mereka bertengkar kecil hingga Niko bersikap mendiaminya. Rianti rasa semua baik-baik saja. Lalu ada apa dengan lelaki itu?


Terlintas hati kecil Rianti menyuruhnya untuk menurunkan ego, menyadarkan perempuan itu untuk menghubungi Niko duluan. Karena ingin tahu kabar suami bukanlah yang yang tercela di muka bumi.


Tangan Rianti merayap mencari-cari ponsel yang tadi dia letakan entah dimana. Saat tangannya membentur benda pipih yang dia cari, ponsel yang di raih bukanlah miliknya, melainkan milik mendiang Satria.


Sejak kepergian Satria, Rianti memang selalu membawa dua ponsel kemanapun dia melangkah. Sering sekali dia melupakan salah satunya teronggok di sembarang tempat. Yang pasti, ponsel yang selalu terlupakan adalah miliknya.


Setelah usaha pencarian membuahkan hasil, Rianti menekan tombol hijau pada kontak nama "Kak Niko", lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya sembari membaca bismilah.


Tut..Tut..Tut..


Bunyi kereta api masih betah meraung-raung di telinga, sampai berkali-kali di coba, Niko masih belum memberikan atensinya untuk mengangkat telepon Rianti.


Perempuan itu mencoba menghubungi Willy, barangkali lelaki itu ada sedikit informasi tentang dimana keberadaan bosnya, dan juga apa yang dilakukan Niko selama seminggu ini. Setidaknya dengan sedikit informasi itu, Rianti berharap hatinya sedang tidak tahu diri bisa tenang.


"Willy, ada Kak Niko disitu? saya hubungi gak bisa, hpnya ada kan? dia ngapain aja selama ini?" Rianti menodong pertanyaan saat rungunya berhasil menangkap jejak suara pengangkatan dari seberang sana.


"Saya mau kesitu, mau menjemput Nona untuk memastikan sendiri bagaimana Tuan Niko."


"Memangnya ada apa? dia lagi bermesraan dengan wanita lain? kalau itu saya tidak tertarik untuk melihatnya."


Rianti mendengus kesal saat Willy mematikan sambungan telepon secara sepihak. Tidak lama Willy datang menyapa Rianti yang sedang berkerut kebingungan.


"Iya Nona, sebenarnya saya dari tadi sudah dalam perjalanan untuk menjemput." Nafas Willy terengah dengan wajah yang teramat kusut. Matanya merah mengandung sarat akan kepedihan.


"Katakan Will, apa yang terjadi? Saya tidak mau pergi denganmu jika kamu tidak mau


mengatakannya."


"Tuan Niko sedang berada di rumah sakit Nona, dia kritis." Akhirnya Willy mengungkap fakta setelah di cecar oleh Rianti yang sedang kebingungan. Tanpa berlama-lama lagi mereka melesat ke rumah sakit dengan perasan yang berkecamuk.


Dada Rianti sesak, matanya mulai berkabut parah. Dia tidak mengerti lagi di sebut apakah yang dialaminya ini. Pembawa sial kah? atau cinta yang terkutuk. Setiap menjalani bahtera rumah tangga, dihadapkan situasi detik-detik kepergian salah satunya.


Saat Mobil sudah menepi di parkiran, Rianti tidak mau buang waktu untuk berjalan. Dia setengah berlari menyusuri koridor yang seolah sedang menatapnya iba. Langkahnya terhenti saat badannya sudah sampai di dalam ruang ICU.


Tidak ada bedside monitor yang meramaikan ruangan. Tidak ada oksigen yang terpasang. Yang tertangkap bola mata Rianti hanyalah manusia terbujur kaku di bawah selimut.


Rianti lemas, ia berdebat dengan dirinya sendiri bahwa yang dilihatnya adalah salah. Suara tangisan Nyonya besar serta sendunya wajah Tuan besar membuat kepala Rianti berputar. Perlahan ia mendekat dan mengumpulkan kekuatan untuk membuka kain penutup.


Benar, wajah Niko yang pucat telah menjatuhkan Rianti yang praktis terkulai lemah. Perempuan itu menopang tubuhnya pada sisi ranjang demi mempertahankan posisi.


"Kak, katanya kamu mau jagain aku. Kenapa kamu pergi?" kabut itu sudah mulai mengembun.

__ADS_1


"Abang,, kak Niko mau di panggil Abang kan? Abang coba buka matanya, Rianti kesayangan Abang sudah ada disini."


"Abang, kenapa Abang pergi disaat aku sudah mulai membuka hati. Abang tau gak, hati ini sudah mulai mau menerima. Aku sayang sama Abang, tolong jangan pergi..hiks..hiks.."


"Aku sungguh pembawa sial, hiks..hiks..hiks.."


Rianti terus saja meracau yang tidak-tidak sambil menumpahkan tangisnya yang tidak bisa di bendung lagi. Situasi saat ini sudah menjelaskan bahwa Niko sangatlah berarti bagi Rianti.


Kebersamaan mereka tanpa sadar telah menumbuhkan rasa, jangan memahat kebencian terlalu dalam jika pada akhirnya orang yang di benci malah menjadi spesial di hati.


"Kamu bukan pembawa sial nak." ujar tuan besar.


"Sayang, bukan kamu saja yang merasa sedih. Kami juga. Hiks..hikss.. tadi katamu apa? sudah sayang sama Niko? benar begitu?"


"Iya mah hiks..hiks.. tapi kenapa Rianti di tinggal lagi."


"Huu..hu..hu..sayang sekali Niko telah pergi hu...hu..hu.." Nyonya besar memberi kode.


"TAPI BOHONG!" serempak yang ada di ruangan sembari senyum-senyum geli melihat ekspresi Rianti yang begitu amat terkejut. Pipinya yang memerah tidak bisa di sembunyikan lagi.


Seseorang yang tadi sempat dianggap tak bernyawa kini membuka mata lalu merengkuh wanita yang sedang memancarkan rona malu, "Terimakasih ya, kamu sudah bisa sayang sama aku. Abang janji akan selalu menjaga cinta sejati ini sampai kapanpun."


"CIE..CIE..CIE... "


"Abang kamu kenapa kaya gini? malu tau..."


"Kalau gak kaya gini, kamu gak bakal ngaku sama perasaan kamu. Sampai kapan kamu ngebohongin diri sendiri?"


"Dasar, kamu licik bang." Rianti senyum-senyum mengatakannya. " Tapi kamu suka kan?" Niko menjawab. Alih-alih menimpali jawaban Niko, Rianti lebih memilih membenamkan wajah dalam pelukan hangat suaminya.


"Siap-siap nanti malam" Niko tersenyum licik.


.


.


Cinta sejati Satria akan di teruskan oleh Niko. Orang yang bisa berdamai dengan keadaan memang patut di acungi jempol. Tidak mudah menjalani kehidupan sebagai Rianti yang di tinggal pas sayang-sayangnya.


Walaupun demikian, tidak bisa di bilang Rianti telah mengkhianati cintanya bersama Satria. Sebab Satria pasti tenang di atas sana melihat Rianti bangkit dari meratapi seseorang yang telah kembali pada sang pencipta


🌺🌺🌺🌺🌺🌺 SEKIAN **🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terimakasih telah membaca novel ini sampai akhir. Yuk mampir di novel author yang lain yang berjudul suamiku bukan orang kaya**.


Salam hangat

__ADS_1


Zenun smith


__ADS_2