Cinta Sejati

Cinta Sejati
Ketemu Lagi


__ADS_3

Depan pusara Satria, Rianti terdiam memanjatkan do'a. Lalu bercerita sendiri apa yang terjadi pada dirinya belakangan ini. Bagaimana dirinya menjalani hidup setelah di tinggal pergi oleh cintanya.


Bukan Satria tak mau menemani sepanjang waktu. Bukan Satria jahat meminta Rianti melanjutkan hidup bersama Niko. Bahkan jika ada kesempatan untuk bisa menjadi posisi orang lain yang sehat, Satria ingin sekali posisi itu. Sangat ingin.


Sadar diri membuatnya terus berfikir, hatinya tidak bisa lagi mengukir cerita cinta untuk Rianti. Hati Ren yang sedang dia pakai tak bisa lagi memberikan cerita cinta yang lebih panjang.


Kisah cinta mereka hanya soal waktu, karena hanya waktu yang tak dimiliki oleh Satria. Jika sudah tiba saatnya pulang, maka tidak ada yang dapat menghentikannya.


Rianti memunguti daun kering yang berserak diatas pusara, menyapu nya hingga terlihat rapi. Hatinya bergumam "sayang, terimakasih ya sudah hadir dalam mimpiku. Aku ikhlas"


Bunga yang sudah dirangkai, dia berikan bersandar diatas. Lalu menatapnya nanar, sebab bunga yang Rianti berikan adalah hasil perawatan mereka ketika masih bersama.


Niko dari kejauhan mengamati, dia tidak ikut bersama Rianti memberikan ruang untuk adik iparnya menumpahkan rasa. Adik ipar yang akan menjadi istrinya jika Rianti menyetujui.


Niko menyipitkan mata, melihat seorang lelaki menghampiri pujaan hatinya.


"Rianti..."


Rianti menoleh


"Ruben."


"Aku gak nyangka bisa ketemu kamu disini. gimana keadaan kamu?" tatapan Ruben sendu.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu memang berencana mau kesini?"


"Iya Ri, emang aku mau kesini. Dan ternyata ketemu kamu."


"Oh, kalau gitu aku balik saja. Salam buat istrimu. Rindi, apa Ratna eh siapa namanya?"


"Markonah Ri" jawab Ruben asal, menimbulkan senyum tipis di bibir Rianti yang sangat dirindukan Ruben sejak SMA.


"Serius Ben, aku lupa namanya maaf ya."


"Iya Ri gapapa, lagian gak usah disebutin lagi namanya. Sudah masa lalu, aku sudah bercerai dengannya."


Hah


"Ehemm.. ada duda"


Niko menatap tajam Ruben.


siapa ini orang.


"Ruben, aku balik duluan ya. Ayo kak."


Rianti yang paham sifat Niko segera menyudahi pembicaraan.


"Ayo kak." Rianti mengulangi panggilan lagi sambil menarik ujung jas. Karena Niko diam tak bergeming, malah menatap Ruben sinis.


kakak? jangan-jangan dia yang namanya Niko. kakaknya Satria yang baru ketemu. serem amat tuh orang. batin Ruben.

__ADS_1


Niko dan Rianti akhirnya pergi, Ruben bisa bernafas lega dan..


Plak... sebuah tangan menyentuh pundaknya.


"Disini juga kau rupanya."


"Marcel,, bikin kaget aja."


"Emang ada apa si?"


"Barusan Rianti sama kakaknya dari sini."


"Kakaknya?"


"Iya, orang dia manggilnya kakak"


"Ciri-ciri nya?"


"Ciri-ciri nya judes."


"Gak salah pasti itu Niko."


"Tuh kan bener apa dugaanku."


..........


"Kak mana kunci mobilnya? sini ?" tangannya mengadah berharap sesuatu akan diterima.


"Aku yang nyetir."


Bukan tanpa alasan Rianti meminta itu, karena jika dia hanya sebagai penumpang saja pikirannya selalu teringat Satria sedang menyetir hendak liburan ke puncak. Dan ujungnya selalu menatap nanar jendela dengan tangisan hati.


"Gak, emang gua cowok apaan disetirin perempuan." Tolak Niko.


Rianti tak menjawab lagi, dia langsung saja berjalan kaki menyusuri jalan. Niko kaget dengan aksi Rianti sekaligus senang. Karena baru pertama kali Rianti merajuk pada Niko.


"Hei, cantik.. jangan ngambek. Nih kuncinya"


Niko menarik tas selempang yang hampir saja mencekik Rianti. Niko paham Rianti tak bisa dipegang tangannya sembarang, pasti dia akan marah.


njirr,, ngapah jadi begini si. Dia pasti besar kepala dengan sikapku yang kaya gini. Padahal mah rasanya pengen banget nendang tulang keringnya itu.


"Gak usah ketawa kak, cepetan. Nanti aku tinggal gak bisa pulang."


"Iya sa...


Tatapan Rianti sudah tidak bersahabat. Seolah memberi perintah Niko untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


"Iya Rianti"


Mobil melaju memasuki jalan, semua tampak lancar sebagaimana mestinya. Hening tercipta, Rianti fokus dengan tatapan lurus, sedangkan Niko sibuk memperhatikan Rianti yang terlihat manis di mata.

__ADS_1


Rianti melirik ke kiri sebentar karena merasa diawasi. Tatapan mereka bertemu dalam hitungan dua detik.


Niko senang bukan main.


"Ri"


"Hemm"


"Lu mau bunuh gua nyetir gak fokus begitu"


"Masa sih? kalau gak fokus dan lagi bengong aku gak jawab panggilan kakak."


"Kak" kini Rianti yang memanggil


"Kenapa?"


Kaki Rianti terus dihentakkan, wajahnya panik dan terus memanggil Niko.


"Rem nya kak, kok gak bisa inih." Rianti terus menghentakkan kakinya.


"Serius lu" Niko yang tadi bersandar santai kini tubuhnya bangun dan hendak mengambil kendali.


Mobil melaju dengan begitu cepat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


semoga tidak terjadi apa-apa

__ADS_1


__ADS_2