
Kembali ke kediaman Hiro. Setelah hari itu. Aku mejadi bingung. Ingatan yang sering kali terlintas. Juga tentang perasaanku pada Rico.
apa yang harus aku lakukan?
apakah aku semenyedihkan ini?
Terdengar suara langkah kaki. Hiro bersiap untuk ke kantor. Melihatku sekilas kemudian melanjutkan obrolan di ponselnya.
" apa kamu sudah sarapan?"
" belum. Hiro..."
"ya?"
"mengenai hal tempo hari...apakah kamu ada waktu berbincang?"
"tentu"
"sekarang?"
"iya"
Kami berdua berjalan menuju rumah tengah. Duduk dengan sedikit rileks.
"apa yang ingin kamu bicarakan?"
"itu...apa yang menyebabkan pertengkaran kita?"
Hiro menarik nafas dalam kemudian menatap ke arahku.
"semua salahku" ucapnya lirih
"apa?"
"aku yang tidak memahami dirimu"
.
.
.
FLASHBACK
Malam yang melelahkan. Resepsi siang tadi benar-benar menghabiskan seluruh tenaga.
"mandilah dulu. aku akan menemui kakek" ucap Hiro sembari melepas jas putih yang dikenakannya
"baiklah. ingat jangan sampai larut"
"apakah kamu khawatir? atau tidak sabar untuk malam pertama kita" goda Hiro
"jangan sembarang Hiro. kamu kan tau bagaimana kakek. kalau sudah asyik ngobrol akan seperti apa endingnya"
"iya iya...aku akan segera kembali"
.
.
.
Aku masih tidak percaya. Menikahi pria yang sudah aku kenal sejak kecil. Bahkan dia menemani patah hati pertamaku. Hingga patah hatiku karena Rico. Dia yang meninggalkanku untuk kuliah di luar negri. Namun berselingkuh dengan perempuan lain disana. Sungguh naif ketika aku bahkan masih mengharapkannya untuk kembali.
"menikahlah denganku. setidaknya mencobanya. kalau kamu tidak bahagia. kamu boleh pergi kapan saja" ucap Hiro
"apa boleh seperti itu?" tanyaku polos
"bukankah kamu mau membalas sakit hatimu?"
"memang benar"
"setidaknya. laki-lakimu selanjutnya adalah orang yang cukup kompeten mengalahkan si Rico itu"
"dan kamu? sangat lulus"
"aku juga sangat mengenalmu. tidak mungkin memfaatkanmu"
"benar. baik kita menikah saja"
__ADS_1
.
.
.
Ponsel Esta berdering. Dia bergegas keluar kamar mandi dan mengangkatnya.
"Esta" suara di seberang sana
suara ini...
Rico? apa yang dia inginkan
"maafkan aku. aku khilaf. beri aku kesempatan" pintanya
"tidak. maaf Rico. aku sudah menikah"
"apa kamu bercanda? apa kamu menghianatiku dibelakang?"
"tidak. jangan sembarangan bicara. kamu yang menghianatiku"
"cukup. temui aku di tempat biasa"
"tidak"
"atau aku akan melompat dari jembatan ini"
Rico akan bunuh diri!!
Tidak aku harus menghentikannya.
"sudah selesai mandi?" tanya Hiro yang melihatku berganti pakaian santai
"aku akan pergi sebentar" ucapku sambil berlalu
"tunggu" Hiro meraih tanganku
"aku antar" pintanya
"tidak. aku harus pergi sendiri"
"kita tahu pernikahan kita ini seperti apa. aku harus pergi"
"kamu ingin menemui Rico?"
"bukan urusanmu"
"setelah apa yang dia lakukan?"
"dia menyesal"
"dan kamu memaafkannya?"
"dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi"
"kamu percaya?"
"tentu"
Hiro meraih wajahku. Menangkapnya. Mengunci kedua mataku dengan sorot mata tajam miliknya. Nafasnya memburu. Dia marah.
"lepaskan Hiro. aku harus pergi
"aku tidak mengijinkannya"
"hanya sebentar"
"aku suamimu. apa kamu lupa?"
"kita tahu hubungan ini seperti apa. apa kamu berlebihan"
"Esta. cukup"
Sebuah ciuman yang diambil paksa oleh Hiro. Membuatku bahkan hampir kehilangan nafas. Aku memberontka sekuat tenaga. Namun bibirnya semakin ganas ******* bibirku.
"mmmm" protesku
"apa kamu ingin malam pertama kita?"
__ADS_1
"tidak Hiro lepaskan. aku harus pergi"
"layani aku sebagai suami dan kamu bisa pergi"
PLAK!!!
Kami berdua teridam. Aku menamparnya. Segera ketika dia masih belum sepenuhnya sadar. Aku berlari keluar. Mengendarai mobil menuju tempat Rico menungguku.
"Esta!"
Terdengar sayup-sayup suara Hiro memanggilku.
maafkan aku Hiro
Kupacu mobil dengan kecepatan tinggi. Aku benar-benar ketakutan kalau Rico sampai nekad mengakhiri hidupnya. Itu semua akan menjadi salahku kalau benar sampai terjadi.
Saat aku tersadar sebuah cahaya sangta ternag menutupi pandanganku. Detik berikutnya aku hanya mendengar dentuman sangat keras. Dan sayup-sayup suara sirine ambulans. Aku benar-benar terlelap setelahnya.
.
.
.
FLASHBACK OFF
Hiro panik ketika Esta tiba-tiba jatuh pingsan. Bahkan dia sampai memanggil dokter datang kerumahnya untuk memeriksa.
"Hiro.." panggil Esta lirih
"kamu sudah sadar? maaf kalau sudah membuatmu menjadi seperti ini"
"tidak apa-apa. aku..."
"tidak perlu dipikirkan. aku akan mengurus perceraian kita. Tidak akan memaksamu menjadi istriku lagi"
"Hiro..."
"aku memang sangat mencintaimu. tapi melihat keadaanmu hingga hari ini...aku tahu dimana posisi ku"
Bahkan aku tidak sempat berkata apa-apa. Hiro sudah pergi meninggalkan rumah. Aku ingin memberitahunya kalau aku sudah menginat semuanya. Semua tentang dirinya. Dan tidak ingin berpisah darinya.
Hiro...tunggu aku sebentar lagi
.
.
.
Becca menyodorkan berkas yang diminta Hiro pagi itu.
"Tuan apa anda yakin?" tanya Becca memastikan
"ini yang terbaik untuknya"
"tapi anda sangat mencintainya. semua pengorbanan anda"
"sudahlah. tidak perlu diungkit lagi. asalkan dia bahagia. dengan melihat senyumnya itu sudah cukup"
"tuan"
"lakukan saja tugasmu"
"baik tuan"
Becca pamit undur diri. Namun saat sampai di ambang pintu langkahnya terhenti. Kemudian menoleh kearah Hiro.
"apa ada yang terlupakan?" tanya Hiro kaget
"tuan..saya rasa nona Esta sudah jatuh hati pada anda. hanya saja belum menyadarinya"
"begitukah?"
"cara dia menatap tuan saat rapat hati itu. saya bisa memastikannya"
"aku akan sangat bahagia jika itu benar. terimakasih Becca"
bukan tuan...ini bukan sebuah penghibur untukmu
__ADS_1
ini kenyataan yang kulihat tentangmu dan nona esta