Cinta Sejati

Cinta Sejati
Menunggu suami


__ADS_3

Malam gerimis kembali datang. Tak menyurutkan langkah yang ingin menyambut suaminya pulang. Menunggu di halaman depan dengan segenap cinta di kejauhan pandang.


Mobil belum juga muncul. Pandangan sudah jauh penuh harap. Hati sudah mulai cemas, bercampur dengan rasa rindu.


Semua penghuni rumah utama sudah terlelap dalam mimpi selepas kepergian keluarga Rianti kembali ke rumah. Memanjakan otot yang tegang setelah aktifitas seharian, mengumpulkan segenap tenaga untuk kegiatan esok hari.


Rianti masih berdiri di teras rumah dengan balutan sweater hangat.


"Maaf nona, sebaiknya nona menunggu di dalam. Cuaca sedang tidak baik. Jika tuan muda sudah pulang, saya akan beritahu nona." Pelayan yang berdiri setia di belakang angkat bicara melihat nona mudanya terus berdiri penuh harap.


"Tidak apa-apa, saya disini saja. Sebentar lagi juga akan sampai. Lagian saya kan tidak terkena hujan. Iya kan." Rianti bersikukuh dengan pendirian. Ada apa dia dengan hari ini.


Selang beberapa detik, lampu sorot mobil menyilaukan mata. Satria yang berada di dalamnya terkesima melihat siapa yang berdiri menyambut.


"Rianti."


Mobil berhenti tepat di depan Rianti. Dia langsung menyambar payung dan mendekati pintu mobil.


Marcel yang melihat tersenyum samar. Seolah dia menjadi saksi sejarah cinta mereka berdua. Rasa bahagia menyeruak di dalam dada, buka lagi cemburu yang mengiris pilu.


Marcel turut keluar mobil walau tak ada yang memayungi.


Rianti mencium tangan Satria, menatap teduh seperti cuaca yang turun. Senyumnya samar, tertutup oleh gelapnya malam.


"Kamu kenapa menungguku di luar sayang?." Satria berbicara dengan mata memerah, seperti menahan kantuk dan lelah yang mendera.


"Aku bosan sekali seharian di dalam kamar. Jadi aku menunggumu disini."


Satria merangkul istrinya berjalan memasuki rumah utama. Namun beberapa saat, langkah nya terhenti. Dia membalikan badan.


"Marcel, kau sedang apa disitu? kau mau sakit malam-malam begini main hujanan. cepat kau masuk ke mobil dan bergegas pulang."


"Sat, boleh gak, aku menginap disini. Bajuku sudah basah. Aku juga sudah mengantuk." pintanya.


Satria mendengus, bukan dia jahat tidak membolehkan. Namun jarak rumah mereka hanya lima menit perjalanan. Apalagi Marcel memiliki keluarga kecil yang butuh kehangatan.


"Istrimu mengijinkan? kalau syarat itu sudah kau kantongi, masuklah." Satria menjawab sambil berlalu. Dia kaget karena Rianti tidak ada di sampingnya. Kemanakah dia?


"Rianti.."


"Kya sayang, aku disini." Rianti berdiri di kejauhan. sengaja dia menghindari pembicaraan antara Marcel dan suaminya. Tangannya menyandang jas yang dipakai satria seharian. Menghirup aroma jas yang masih harum dengan bau parfum.


"Kamu kenapa, cium jas ku? bau ?"


"Gak sayang, wangi kok. Aku senang saja cium jas kamu sehabis pulang kerja."


"Kenapa memang?"


"Ada keringat laki-laki yang bekerja keras untuk menafkahi ku." Senyum Rianti terlihat lagi. Lebih cerah dari cahaya bulan.


Satria menarik Rianti dalam pelukan, membisikan sesuatu yang membuatnya geli.


"Bukan mencari bau parfum wanita penggoda kan?"


"Gak sayang, eh kamu ngomongnya kaya gitu sih. Siapa yang ngajarin?" mereka tertawa kecil lalu melirik ke arah Marcel yang baru mendarat ke dalam rumah utama. Yang di pandangi seperti sapi kehilangan giginya.


apa !

__ADS_1


"Istriku sayang, ayo kita istirahat. Aku sudah mengantuk."


"Ayo"


"Marcel, kalau kau butuh apapun bilang saja pada kepala pelayan." Satria berujar sambil meminta ponselnya yang di pegang Marcel.


"Baiklah."


Mereka berlalu menuju kamar masing masing.


Di dalam kamar.


Ketika Satria sedang membersihkan diri, Rianti menyiapkan pakaian ganti lalu melihat lihat ponsel sebentar. Matanya membulat sempurna, melihat transferan uang masuk sebesar dua ratus juta dengan caption.


"Tambahan uang jajan."


Transfer masuk satu menit yang lalu. Itu berarti saat Satria meminta ponsel pada Marcel, saat itu juga ia melakukan transaksi. Uang bulanan yang di kasih Satria saja masih utuh, tertimbun sejak awal mereka menikah.


Baju sudah disiapkan di lemari, perhiasan Satria selalu kasih. Tiap bulan ibu mertua selalu memberinya tas, jam tangan. Aksesoris lainnya? sudah berjejer di lemari khusus. Keluarganya pun sudah mendapat fasilitas. Di tambah lagi, aset separuh kekayaan Satria yang sudah diberikan padanya.


Satria sudah selesai, berganti pakaian tidur lalu tergopoh menyeret langkahnya. Beruntung sudah sampai pada tempat tidur. karena kalau tidak, pasti dia akan merepotkan Rianti lagi.


"Sebentar sayang." Rianti mengambil obat, lalu memberikannya pada Satria sebelum ia terlelap.


Satria menuntaskan rutinitas malam sebelum tidurnya itu. Seperti sudah bosan harus menjalani terus menerus.


"Rianti, kapan aku berhenti minum ini?"


Rianti tidak bisa menjawab. Hatinya tersayat mendengar kalimat barusan.


"Maaf." Satria tersadar.


Satria mengusap kepala istrinya, seraya tersenyum dan mengecup kening.


"Iya sayang, itu untuk istriku yang sekarang punya hobi baru."


"Hobi apa?" tidak mengerti.


Satria sudah tertidur dengan pulas.


..........


Pagi hari yang cerah, setelah hujan Rintik semalaman.


Udara segar menyusup di celah jendela. Rianti membuka mata, mendapati suaminya yang masih terlelap.


Rianti membuka jendela agar udara saling bertukar. Seperti roda kehidupan yang selalu berputar.


Dia termenung sebentar, membayangkan hari ini akan terkurung di kamar lagi. Mau menagih janji, tapi tidak enak. Karena takut yang di tagih akan lebih galak. (hehe)


"Heh, pagi-pagi jangan ngelamun." Marcel berteriak dari halaman depan.


Eh


Aneh melihat Marcel masih dengan baju santainya. Harusnya kan dia lebih dulu bersiap. Rianti segera membangunkan suaminya.


Hah

__ADS_1


Suaminya pun tidak ada. Suara percikan air di kamar mandi terdengar.


aku teledor sekali belum menyiapkan air hangat.


Rianti memutuskan untuk menyiapkan baju dan merapikan tempat tidur. Alangkah terkejutnya mendapati surat beserta setangkai bunga mawar.


ya ampun, kapan dia menyiapkan bunga mawar ini.


Isi suratnya.


"Teruntuk istriku, hari ini kau habiskan saja waktumu untukku. selebihnya kau hanya boleh bersenang senang. tunggu aku mandi dulu. biar terlihat tampan di matamu."


Rianti ingin membenamkan wajah nya. Bagaimana dia akan bertemu Satria saat Satria sudah selesai mandi. sedangkan dirinya masih lusuh berantakan.


Flashback


Pagi yang masih gelap, Satria terbangun dari tidurnya. Melihat Rianti yang masih terlelap dia perlahan keluar kamar tanpa berisik.


Di ruang kerja ia sudah rapat dengan Marcel di pagi buta. Membahas pekerjaan hari ini, lalu menyiapkan agenda di luar pekerjaan.


Pertama, dia akan menengok bayi Marcel yang lucu. Sebagaimana janjinya pada Rianti tempo hari. Kedua Satria akan mengajak Rianti menikmati masa berduanya sebelum hamil nya membesar. Apalagi jika sudah lahir, pasti bukan masa berdua lagi.


Flashback berakhir.


Satria sudah beres dengan urusan ketampanannya. Rapi bersih dan wangi. Kakinya melangkah keluar dari ruang ganti dan


luar biasa.


Satria menatap Rianti tanpa berkedip. Dress cantik berwarna hitam di padukan jaket crop coklat membuat penampilan Rianti mempesona dan sama dengan apa yang di pakai Satria.


Sentuhan make up flawless, dengan rambut style keriting gantung dan poni yang sudah mengembang tertata dengan baik. Dia berjalan anggun mendekati Satria, membawa jam tangan yang akan di pakaikan pada suaminya.


Setelah selesai memakaikan, Rianti menatap Satria lalu mengedipkan sebelah matanya dibaluti dengan senyum.


untung aku cepat beraksi di kamar tamu. sat set sat set jadilah dengan bantuan para dayang. wkwkwk


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2