Cinta Sejati

Cinta Sejati
LIMA


__ADS_3

Pria yang baik, berjuang untuk hidup setelah kapal udang nya tersapu Badai Kartina yang mengerikan Berasal dari Slidell, ia...


Jamie terenyak.


Damian mencekik leher pria itu, mengangkat, lalu mengguncangnya seolah pria itu boneka kain.Pedagang itu menjerit tertahan. Sebilah belati muncul dari tangan Damian. Jamie ngeri saat Draicon itu mendudukkan belatinya ke dada si pria, kemudian menghempaskannya, demi Tuhan, ia menghempaskannya ke samping. Kepala kecil pedagang udang laut itu menghantam dinding dan mengeluarkan suara berderak.


Pria itu mati.


Jamie memekik tertahan. Ia hanya mendesah kecil saat Damian berbalik, melihatnya dan bergerak kesisinya. Damian memegang pipinya dengan kedua tangan, mengamati wajahnya.


"Ah, Jamie, kuharap kau tidak melihatnya."


"K-kau membunuhnya,"desah Jamie.


"Perhatikan,"tukas Damian.


Di depan matanya, tubuh penjual udang itu berubah menjadi abu berwarna keabuan.


"Dia bukan manusia. Dia Morph yang menyamar sabagai manusia."


"Tapi aku mengenalnya! Sudah setahun aku mengenalnya, aku sering membeli udang laut segar darinya, ia tinggal di..."Suara Jamie menghilang. Ia menggosok tanganya, tiba-tiba merasa dingin.


"Kaum Morph membunuhnya, lalu salah satu dari mereka mengambil identitas pria itu. Ini Morph kedua yang kubunuh hari ini. Kurasa kota ini penuh dengan mereka, Jamie. Bahkan orang yang kaukenal sebenarnya Morph yang sedang menyamar." Damian melepaskannya.


"Bagaimana aku tahu kau bukan salah satu dari mereka?"


Damian menggerakkan tangannya dan belati muncul ditelapaknya. Diserahkannya belati itu pada Jamie, gangangnya lebih dulu. "Sayat kulitku. Darahku berwarna merah, sama sepertimu. Bukan cairan asam. Tapi mereka tidak bisa menyamarkan darah mereka. Dari situ aku tahu pedagang tersebut bukan manusia. Ia mengeluarkan cairan asam."


Jamie terpana mengamati belati itu. Dengan tenang Damian mengulurkan tangan. Kemudian Jamie mengores telapaknya. Pria itu bahkan tidak merintih kesakitan. Tetesan darah merah mengalir, terang dan kental. Jamie menyentuh cairan tersebut sambil bergidik. Hanya darah. Wanita itu terpesona memperhatikan luka itu tertutup perlahan.


Damian menyibakkan tangannya dan belati menghilang. "Kukira ini pertanda baik bahwa kau tidak mengambil belati itu dan menusukkannya ke jantungku,"ucapnya dengan senyuman masam.

__ADS_1


"Ide itu sempat terlintas dipikirnku, tapi kupikir aku butuh bor baja untuk menembus jantungmu." Jamie bersandar pada kusen pintu, tiba-tiba resah.


Damian terlihat khawatir. Sambil memegang lengannya, pria itu membimbing Jamie ke luar gedung. Mereka menuju rumah Jamie, setiap langkah yerasa seperti berjalan di lumpur tebal. Akhirnya, mereka sampai. Jamie membuka pagar, lalu Damian membimbingnya kedalam. Pria itu mengambil kuncinya, lalu mengunci kembali pagar tersebut. Damian memasukkan kunci itu ke kantong dan melepaskannya. Jamie berjalan lelah menuju perkarangan, lalu duduk di salah satu kursi rotan tua.


Persetujuan tampak di wajah pria itu saat Damian berjalan mengikutinya. Ia memandang sekeliling tangannya bersandar pada dinding bata merah. "Ini rumah yang bagus. Rumah yang aman."


Jamie bangkit dari kursi. "Cari sendiri tempatmu tidur malam ini. Kau Draicon, kau akan baik-baik saja tidur di tanah. Jangan melolong saat bulan muncul. Kau akan membangunkan para tetangga."


"Melolong saat bulan purnama cuma dongeng. Aku hanya melolong saat ingin bercinta. Jadi jangan cemas kalau mendengarku dimalam hari."


Jamie terperanjat, lalu berbalik menatap Damian yang tersenyum menawan.


"Melolonglah sepuasnya, Draicon, tapi kau harus memaksaku untuk bisa memilikiku ditempat tidur lagi,"desis Jamie.


"Aku takkan pernah memaksamu. Kau yang akan menghampiriku. Sebentar lagi kau takkan bisa menahannya melenihiku," ucapnya lembut.


Mungkin nanti kalau serigala sudah bisa terbang, batinya.


Damian mengikutinya ke atas, tapi Jamie mengabaikannya. Pintu kamar tertutup dibelakangnya. Jamie menjatuhkan diri ke tempat tidur antik bertiang empat, memeluk gulingnya sambil menatap atapnya yang kekuningan. Udara malam yang sejuk berhembus melalui pintu bergaya Prancis yang terbuka ke arah taman. Jamie selalu benci ruangan ini karena dilingkupi kesurupan, namun Mark menyukainya, jadi ia membiarkannya.


Setetes airmata, akibat rasa bersalah dan malu, keluar saat ia berjalan menuju tempat tidur kematian Damian dan melihat pria itu berbaring disana. Tapi bagaimana dengan airmata kesedihan yang sungguh-sungguh dan tulus?


Sejak hari kematian orangtuanya. Sejak itu ia tidak pernah menangis. Tidak juga untuk semua yang hilang darinya. Dan ia ragu ia akan menangis lagi.


Suara lirih yang nyaris tak terdengar manusia membuat Damian waspada. Ia berhenti didepan pintu kamar Jamie. Damian mendekat, menunggu, insting memerintahkannya untuk mendobrak masuk dan mendekat wanita itu ke dalam pelukannya. Jamie akan meneriakinya. Jamie yang tegar pasti tidak ingin Damian melihatnya dalam keadaan hancur.


Napas wanita itu tersentak.


Damian mendobrak pintu dan menyerbu masuk, lalu menyalakan lampu Tiffany kecil. Cahaya kuning lembut menerangi kamar berwarna merah tua yang dipadati mebel. Suasana kamar terlalu serius untuk Jamie. Ia membutuhkan ruangan terang berangin dengan dinding biru langit dan mebel unik.


Sembari mendekati tempat tidur bertiang empat yang lebih cocok untuk keluarga kerajaan, Damian diam-diam mengawasi pasangan masa depannya. Wanita itu tertidur, menggelung ke arah sebaliknya, rambutnya yang hitam sebahu tergerai. Suara sesenggukan lirih terdengar dari mulut Jamie, tapi wanita itu tidak meneteskan airmata.

__ADS_1


Sungguh sosok yang menawan dengan dagu tajam, bulu mata tebal, kulit putih dan tulang pipi tinggi serta bibir penuh dan hidung mancung, Jamie terlihat sangat muda.


Kesedihan tercemin pada mata keabuan yang sangat ekspresif itu. Jamie mungkin mencoba menyembunyikan emosinya, namun matanya mencerminkan segalanya. Damian melihat dirinya dalam bayangan itu, Draicon sombong sangat berkuasa yang seharusnya bisa menawarkan banyak hal, tetapi malah mengambil begitu banyak. Lebih dari kesuciannya, Damian merenggut impian Jamie akan Magick dan kekuatan.


Dalam prosesnya ia memaksa Jamie mengikuti kekuatan jahat.


Penyesalan menusuk dirinya. Ia akan memperbaikinya, tapi ia harus mendapatkan kepercayaan Jamie lebih dulu. keberanian wanita itu membuatnya lega, Jamie belum kehilangan semangat ataupun keberaniannya, dua atribut yang akan dibutuhkannya di hari-hari mendatang.


Rumah ini tempat teraman bagi Jamie. Damian merasakan kekuatan kekuatan kuno yang kuat. Dahulu kala seorang mengucapkan mantra untuk melindungi rumah ini dari siapapun yang melakukan Magick Hitam. Orang yang ingin menyakiti Jamie harus membawanya keluarga dari bangunan ini.


Tempat tidur itu meledak oleh berat tubuhnya. Ia hanya ingin memeluk/ menyentuhnya, walaupun hanya sejenak. Insting mendorongnya untuk bercinta. Sebagai keturunan Alpah murni, Damian hanya bisa memperoleh keturunan dengan Jamie. Ia membutuhkan wanita itu untuk kawan nanya di New Mexico, memerintah di sisi nya.


Namun Damian mengesampingkan gairah, ia menyibakkan sejumput rambut dari wajah pucat Jamie. Dingin, Sial, kulitnya seperti es.


Damian mengusap dahi Jamie. Ia akan menyelamatkan wanita ini, bagaimanapun caranya. Wanita ini miliknya dan ia selalu menjaga yang menjadi miliknya.


Senyuman muram menghiasi bibirnya. Walaupun dia tidak ingin diselamatkan.


Damian berbaring, menempelkan tubuhnya yang besar disebelah tubuh Jamie yang ramping. Di rentangkannya sebelah lengannya ke pinggang wanita itu. Jamie berbalik, meringkuk kearahnya seakan membutuhkan kehangatannya.


Damian menyukai rasa tubuh Jamie yang lembut. Gairah memenuhi dirinya, mengingatkannya akan hasrat tak terpuaskan yang selalu menghantuinya. Dengan kasar Damian berusaha mengendalikan diri dan menjauh. Jamie terasa sangat ringan namun tegar. Meski tercemar Magick Hitam, kepolosan masih melekat dalam dirinya.


Jamie mengerang dalam tidurnya. Setetes airmata mengalir disalah satu sudut matanya. Damian merasa terusik, ia pun mengecupnya agar hilang. Mengharapkan rasa asin yang tajam, Damian tersentak.


Gula yang manis.


Ketakutan tumbuh di dadanya. Damiab bangkit duduk. " Sudah mulai terjadi. Apa yang harus kulakukan?"


Aku tidak akan membiarkanmu mati. Kau tidak boleh mati seperti keluargaku. Aku akan melakukan segala cara untuk menghentikannya.


Damian bangkit dari tempat tidur, beranjak pergi dan perlahan menutup pintu kamar. Untuk pertamakali ia menyadari dirinya mungkin sudah terlambat.

__ADS_1


Apabila ia tidak berhasil menemukan buku itu, ia akan kehilangan Jamie.


Selamanya.


__ADS_2