Cinta Sejati

Cinta Sejati
kehidupan niko


__ADS_3

kehidupan baru Niko dimulai.


setelah masa lalu nya terungkap, ia kembali pada tempat dimana ia selalu melakukan apa yang dia mau. dengan rumah nuansa hitam seolah menggambarkan pribadi orang yang menempatinya. kelam, tak ada seberkas cahaya yang menyinari.


Wily menyambut kedatangan bos nya dengan heran, raut wajahnya bermuram durja. bertemu dengan orang tua kandung bagi Niko adalah sesuatu yang menyedihkan.


dua puluh sembilan tahun lamanya, ia diambil seorang wanita egois tanpa pencarian yang berarti. di besarkan dengan penuh ambisius tanpa rasa cinta sedikitpun. setiap kali Niko kecil bertanya dimana ayahnya, wanita itu selalu menjawab kau tidak punya ayah. kau adalah anak yang menyedihkan. kini niko tangannya mengepal menahan rasa kecewa.


Niko kecil murung, hatinya tersayat sampai dewasa tiba. luka nya berbelulang. dihujam bertubi-tubi sampai kebal, namun menjadi mati rasa.


"bos" Willy menyapa.


Niko masih diam, menyeret langkahnya menuju kamar. Willy yang melihat itu merasa khawatir.


pintu kamar tertutup dengan keras, sekeras hati Niko saat ini. Willy menggeleng kepala, nanti saja ia menemui bos nya lagi.


setelah di dalam kamar yang sudah lama ia tinggalkan, Niko merebahkan tubuhnya di atas kasur. memejamkan mata sambil pikirannya terngiang akan masa kemarin. masa dimana mengacaukan rencananya.


ya, rencana ia mau menculik Dion. yang merupakan keponakannya sendiri. dari lubuk hati yang terdalam, yang masih tersisa sisi baik Niko meronta tak terima.


gua harus gimana


lama sudah ia mendekam di kamar tanpa makan dan minum. wajahnya pucat. lalu Willy masuk membawa makanan.


"bos, maaf ganggu"


Niko melirik, namun tak ada jawaban.


"sebaiknya bos makan dulu."


"males"


"sejak kapan bos seperti ini? bos kalah?" Willy memancing.


"Will, lu udah bosan hidup" Niko terbangun dan menghampiri dengan tatapan mengiris. sebenarnya Willy sudah menciut, tapi apa daya inilah salah satu jalan agar Niko terbangun dari rebahannya.


Niko mengambil pedang nya yang tergantung di tembok.


"bos, maaf kalau saya lancang. kalau boleh saran bos ikut saja dengan keluarga Artha grup. bos bisa leluasa melihat Rianti bukan?" Willy memiliki akal untuk menyelamatkan diri. benar saja, Niko memasukan lagi pedang nya yang sudah setengah terbuka dari tutupnya.


selamet gua, emang nama Rianti ampuh banget. untung gua tau kabar bos Niko adalah anak tuan Darren.


Niko tampak berfikir, benar juga apa yang di katakan Willy, tidak menerima bukan berarti bodoh kan. jiwa jahatnya masih membara.


"pinter juga lu Will." Niko menyambar makanannya. ia makan dengan lahap seperti mendapat energi baru.


pernah sejenak terpikir, Niko menyerah saja dengan cintanya. namun semakin hari pemilik hatinya pun tak bisa memadamkan api cinta yang berkobar. terlebih dalam kamus hidupnya Niko pantang menyerah.


Niko menghubungi tuan besar yang tak lain adalah ayahnya. ia tak sabar untuk tinggal di rumah utama yang kemarin dengan keras ia menentang.


.........


sementara itu di rumah utama.


"pah, apa yang mau papah bicarakan? kok malah diam?" nyonya besar berujar mendapati tuan besar mau berbicara tapi malah diam.


"mamah ingat anak kita yang di bawa kabur wanita brengsek itu." akhirnya angkat bicara.


nyonya besar tertegun, kenapa suaminya membicarakan hal ini. luka yang mulai mengering kembali tergaruk.


"mamah tidak akan pernah lupa kejadian itu pah. kenapa memangnya? papah ketemu anak kita?" antusias berapi api.


"iya"

__ADS_1


air mata nyonya besar jatuh, mulut nya tak bisa bicara sepatah katapun. ia shock bercampur senang. anak yang hilang telah kembali. tuan besar mengusap punggung istrinya.


"papah sudah memastikannya, papah sudah tes DNA dan hasilnya benar. dia adalah putra kita."


"anak kita itu laki laki pah?"


"iya mah."


"wah, satria memiliki kakak laki laki. Alhamdulillah ya pah. satria ada yang melindungi ketika kita sudah tua nanti. ia tak sendirian lagi..hiks..hiks.." air mata haru semakin berderai. tuan besar hanya mengangguk.


"siapa nama anak kita pah? dia tinggalnya dimana? kenapa papah ga langsung bawa saja kesini. mamah ingin sekali memeluknya."


"anak itu, adalah Niko. "


jreng...jreng..jreng..


nyonya besar tercekat, seperti sulit untuk menelan ludah. namun pikirannya menyadarkan, bahwa banyak Niko di dunia ini.


"Niko? papah kalau ngomong yang jelas jangan setengah setengah. bukan Niko yang bikin kita menderita kan?" mengoyag bahu tuan besar.


"Niko anak kita adalah Niko yang membuat kekacauan pada satria."


nyonya besar tangisnya semakin keras. ini tangisan antara. iya antara, antara senang dan sedih author pun tak tahu.


"kenapa anak kita yang satu ini nackal pah hik..hiks.." tangisnya pecah.


tuan besar menenangkan istrinya, memberi pengertian bahwa kita tidak melihat seseorang dari satu sisi. jangan diingat yang buruk saja. lihat bagaimana Niko menderita selama 29 tahun lamanya terlepas dari orang tua kandung. perlahan tangis nyonya besar mulai mereda.


"bagaimana dengan satria pah? Rianti juga? akkhh mamah rasanya tak kuat menghadapinya."


"mamah pasti kuat, mamah kan suka sekongkol dengan satria saat ada keinginan yang harus di penuhi. bukan begitu?" tuan besar menyindir.


"maksud papah, mamah juga jahat gitu pah.?" tidak terima.


"papah juga tidak akan tinggal diam." tambahnya lagi. lalu ponselnya berdering. dilihat layar ternyata Niko yang menghubungi.


"ada apa nak? apa yang kau butuhkan?" tanya tuan besar, istrinya menempelkan telinganya juga di dekat ponsel tuan besar.


"saya terima tawaran anda, saya mau tinggal di sana bersama kalian dan adik saya yang tersayang. satria." yang di seberang sana tersenyum jahat.


"serius?"


"iya"


"nak, bolehkah papah meminta sesuatu."


"katakan"


"saat kau sudah disini, panggil aku dengan sebutan papah, dan istriku panggilan dengan kata mamah."


"baiklah, tidak masalah."


sambungan terputus.


"pah, mamah mencium bau kekacauan di rumah ini. dari cara bicaranya Niko sama sekali belum berubah."


"papah tau itu, sudah kewajiban kita sebagai otlrang tua mengajarkan anaknya yang tersesat."


"iya pah, semoga kita bisa. lalu bagaimana cara menyampaikan ini pada satria dan juga Rianti?"


"untuk itu, papah masih ragu. namun jujur lebih baik walau menyakitkan."


"iya benar pah, tapi papah yang bicara ya."

__ADS_1


krik..krik...krik..


hening tuan besar terdiam.


tok tok tok


suara ketukan pintu yang diiringi suara Rianti.


"mah, boleh Rianti masuk?"


Rianti bikin orang yang di dalam kamar kalang kabut, panik. "iya sayang, masuk" sahut nyonya besar membereskan wajahnya yang berantakan. sedangkan tuan besar mengumpat di balik tirai jendela.


pintu terbuka.


"mah Dion aman?" maksud hati ingin menjemput Dion yang semalam menginap. tapi tidak enak. malah bertanya Dion aman atau tidak.


"aman sayang, dia sedang tertidur tadi habis minum susu. ada apa sayang? mending kamu santai saja, pergi kesalon atau belanja. atau mau spa. nanti mamah siapkan."


"ga mah, aku cuma mau lihat keadaan Dion saja."


"udah, tenang aja aman sama mamah. mamah masih kangen sama Dion. kamu jangan ambil Dion sekarang ya." kalimat telak dari nyonya besar. Rianti tidak bisa berkutik.


"iya mah." lesu. ia pergi keluar kamar. setelah pintu tertutup,


"hahahaha." nyonya besar tertawa, tuan besar langsung keluar dari persembunyian.


"pah, mamah mau tanya. kenapa papah malah sembunyi? emangnya papah perampok atau selingkuhan mamah."


"iya ya mah, kenapa papah sembunyi." tuan besar berfikir keras.


"mungkin papah panik jadi reflek sembunyi hehe."


"iiih papah ini, sudah seperti paman madih saja. lucu hahahaha" mereka tergelak bersama.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.bersambung...

__ADS_1


__ADS_2