
"Dion... om sudah pulang."
"Om Niko.." Dion berlari menghampiri, Alana yang melihatnya cemburu. Dia tidak suka kalau kakaknya itu mengabaikan dirinya.
"Kak, Alana ikut" wajahnya kecut.
"Ayo de"
Dion menuntun Alana, Niko menyambut dengan mengangkat tinggi dua bocah yang ada dihadapannya. Menciumi hingga mereka berteriak geli.
"Om sekarang kita mau belajar apa?"
Alana hanya menyimak.
"Om akan ajarkan kamu memanah."
"Memanah?" Dion dan Alana ternganga, dia belum paham memanah itu apa. Dion hanya disuguhkan pelajaran akademik sebagai penerus Artha grup.
"Om, jangan dekati kak Dion dia milik Alana." Alana menunjukan protes yang terlihat sangat menggemaskan.
"Dia milik om Niko."
Alana sudah memasang wajah yang ingin menangis. Niko tertawa dalam hati.
"Om jangan begitu. Ayo Alana ikut main bareng sama kakak dan juga om. Jangan nangis ya."
"Hahaha" tawa Niko menggema.
"Alana tentu saja kau juga milikku, kalian semua adalah milikku. Berhenti menangis om tidak suka lihat kamu cengeng seperti ini." walaupun perkataannya terlalu pedas untuk ukuran seorang anak kecil, Niko maksudnya baik hanya ingin Alana menjadi pribadi yang kuat.
Niko merapikan wajah Alana yang gundah gulana, memeluknya dalam dekapan hangat serta terus membelai rambutnya. Tindakannya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan.
Jadi, jika kita melihat seseorang terlihat jahat belum tentu aslinya seperti itu. Sebaliknya, jika kita melihat seseorang itu baik, terlalu dini untuk melakukan penilaian siapa tahu kita kecewa mengetahui tujuan aslinya.
"Dion, gurumu sudah datang ke rumah? kamu sudah belajar?"
"Sudah pah eh om." Dion menutup mulut dengan kedua tangan. Biasanya yang menanyakan seperti itu adalah Satria. Tidak heran jika Dion salah sebut panggilan.
"Bagus kalau gitu, ayo pasukan kecil..kita berangkat menuju lokasi latihan"
__ADS_1
"Ayo" serentak dengan mengacungan kepalan tangan penuh semangat. Hidup Niko kini dipenuh warna.
..........
Disamping itu, Rianti dan Satria berada dalam kamar. Rianti merawat sang suami yang terbaring lemah sambil memegangi laptop, mengerjakan tanggung jawab Presdir di bantu Marcel dan Rion. Rion telah kembali dari pengabdiannya kepada Artha grup di luar negeri.
Rianti seorang diri memegang kepemimpinan Artha grup dengan tidak didampingi Satria maupun tuan besar, kondisi mereka sedang sakit saat ini. Bahkan nyonya besar pun enggan untuk mengemban tugas berat itu. Ia lebih memilih untuk merawat suaminya saja.
Keseharian Niko hanya bermain dengan para ponakan, dia sama sekali tidak tertarik untuk mengelola kerajaan bisnis orang tuanya. Dia lebih memilih mengelola Manggala corp yang membesarkan namanya sejak dahulu.
Sebenarnya, Niko pun iba melihat Rianti. Hatinya tersayat ketika mengetahui Rianti mengurus semua seorang diri. Tugasnya sebagai istri yang menjaga suaminya sakit, sampai mengharuskannya tak pernah sempat lagi berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Sayang" Satria memegang pipi Rianti. Dia ingin sekali menangisi kondisi istrinya itu.
"Ada apa sayang, kamu butuh apa?" Rianti sigap langsung menutup laptop. Wajahnya menatap teduh.
"Sini sayang, kamu istirahat. Aku pengen ditemani kamu terus, aku pengen dipeluk kamu terus."
"Siap suamiku"
Rianti menjalankan apa yang diperintahkan Satria. mereka bersenda gurau membicarakan masa sekolah mereka, dimana pertemuan pertama kali dan membahas bagaimana mereka bisa menikah.
"Uhuk..uhuk.."
"Minum dulu sayang" seteguk air mampu meredakan batuknya.
"Kita duduk di depan jendela ya sayang lihat pemandangan di luar. Biar suasana hatimu lebih nyaman." Rianti memapah kembali Satria untuk duduk di kursi depan jendela. tirai di buka lebar. dan....
Pemandangan Niko yang tengah asik dengan Dion dan alana membuat Satria terisak lebih perih.
"Rianti istriku, lihatlah anak-anak kita terlihat bahagia sekali bukan?" senyum Satria merekah.
"Iya sayang, mereka memang selalu ceria setiap hari. Dion putra kita itu sangat luar biasa sepertimu. aku sampai tak dibuat percaya dengannya. Bagaimana bisa dia masih sekecil itu sudah bisa memahami situasi bahkan membantuku menjaga serta membujuk Alana dikala sedang merajuk."
"Dan Dion begitu sangat menyayangimu"
Satria menoleh pada Rianti meminta penjelasan lebih atas kalimat barusan.
"Disaat ia ingin bermain denganmu tapi niat itu selalu di urungkan. Kenapa? dia bilang kasihan papah istirahat saja Dion yang jagain papah sekarang. Mamah juga istirahat."
__ADS_1
"Dan setiap malam di tidurmu, Dion selalu ke kamar kita." Matanya memanas, suaranya sudah bergetar menahan bulir air mata yang akan jatuh.
Satria meraih tangan istrinya, menyandarkan kepala Rianti agar bertumpu di bahunya untuk meluapkan kesedihan.
"Teruskan ceritamu sayang, apa yang terjadi di setiap malam tidurku itu?"
"Dion selalu ke kamar kita, meminta ijin padaku untuk menaiki tempat tidur dan mendekatimu. Tangan kecilnya selalu mengusap dadamu seolah dia sedang mengusir rasa sakit. hiks...hiks.." air mata Rianti sudah jatuh membasahi pipi.
"Pah, Dion selalu berdo'a agar papah cepat sembuh. Papah sakit dibagian sini ya."
"Dion dan Alana sayang papah. Dimata kami papah adalah orang yang terhebat. Hanya saja kita lagi di kasih cobaan ya pah, kata mamah sih begitu."
"Sudah dulu ya pah, Dion mau sholat dulu terus berdo'a lagi semoga papah besok pagi terbangun dengan kesehatan yang terus membaik."
"Begitulah pembicaraan yang selalu di ucapkan putra kita, setelah itu dia mencium keningmu dan tanganmu, lalu pamit padaku untuk kembali ke kamarnya."
"Setelah aku menutup pintu, aku terkulai lemas dan jatuh ke lantai. Aku merasa rapuh, serapuh rapuhnya. hiks...hiks..." tangis Rianti pecah setelah dia mengungkap cerita tentang Dion dan sang papah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...