
"Bu, ini berkas yang harus di tanda tangani"
"Terimakasih, letakan disitu saja Rena"
Rianti fokus menatap layar laptop, sampai tidak menyadari bahwa ini sudah memasuki jam makan siang, bunyi dering ponsel menyadarkannya.
"hallo, kenapa shil?"
"Ri, kamu sibuk gak? makan siang bareng yuk
di kafe Deket kantor kamu aja, nanti aku kesitu"
"Ok"
*S*atria sudah makan siang belum ya
Rianti merapikan pekerjaannya, menata kertas yang berserak disusun menjadi satu.
"Ayo bu, kita makan siang"
"Iya Ren, oh ya kamu ikut makan siang denganku di kafe samping kantor ini?"
"Terimakasih Bu, saya dikantin saja"
"Baiklah"
Rianti menyambar tas dan memasukan ponselnya.
..........
"Hai Rianti, kamu sudah lama nunggu aku?"
"Baru nyampe juga, mau pesen apa?"
"Apa aja, yang penting sama kaya kamu"
"Ok"
Rianti memanggil pelayan dan sibuk memilih menu.
"Ri,, aku mau ngobrol tentang Ren"
"Ngomong aja, ada apa emang?" menerka dalam hati apa benar yang diceritakan akan sama dengan yang dialaminya.
"Ri,, Ren jadi badboy, dia jadi urakan. Suka nyakitin hati perempuan dan gak segan kasar sama orang lain."
"Kok kamu bisa ngomong kaya gitu?"
"Aku suka dengar ceritanya dari teman, dan.."
"Dan apa shil?" mengorek fakta
"Dan kemarin pas acara pernikahanku, aku menginap di hotel, tidak sengaja aku bertemu dia juga bersama wanita di hotel yang sama, mesra banget. Pas Marcel masuk kamar, aku sengaja ikutin dia ri"
"Terus?" antusias sambil meneguk jus jeruk yang segar menggoda.
"Dia juga masuk ke kamar, berdua sama wanita itu"
Rianti diam, pikirannya melayang mengingat kejadian pada waktu itu, pada saat dirinya mendengar suara ambigu. Lantas dia menceritakannya pada shesil.
__ADS_1
Shesil sangat terkejut, tidak menyangka
karena pada saat masih di bangku sekolah Ren sosok yang periang dan tidak neko neko.
Obrolannya begitu memakan waktu, sudah tiba jam makan siang habis. Rianti bergegas mempersiapkan diri untuk kembali.
"Ri, lain kali kita ngobrol lagi ya"
"Iya shil, aku kembali ke kantor dulu ya"
"iya rI, hati hati padahal aku mau cerita yang lain juga"
"Mau cerita apa emang?"
"Rahasia, hehe" mereka tergelak bersama.
Rianti melihat ponsel, tidak ada notif pesan apapun. Pesan yang ia kirimkan kepada satria hanya di baca. Garis kecewa terlihat jelas di raut wajah.
Rianti melangkah menuju parkiran, seketika senyuman tercipta, selepas Rianti melihat sekilas mobil Satria keluar dari parkiran.
...........
"Rion, apa hasil penyelidikanmu tentang Ren?"
"Hasil penyelidikan, tidak di temukan apa yang selalu di bicarakan nona muda. Dia tidak ada Riwayat masalah dengan orang lain atau suka bermain dengan wanita"
"Kau yakin?"
"Iya tuan, saya juga merasa aneh hasil cctv di ruangan staff pada saat kejadian nona muda memergoki Ren, sangat berbanding terbalik"
"Maksudmu?"
"Di dalam ruangan Ren berjauhan dengan wanita itu, bahkan mereka sedang seperti latihan drama"
"Saya juga memastikan kejadian Ren waktu di hotel seperti yang di ceritakan shesil tadi bersama nona muda. Memang benar Ren masuk ke kamar bersama wanita, tapi setelah shesil pergi Ren langsung keluar dari kamar itu dan tak kembali lagi. Dia hanya sekitar satu menit berada di dalam kamar."
" Terimakasih Rion, sekarang kau fokus menyetir saja"
"Baik tuan"
Aku sangat kesal Rianti membicarakan pria lain, awas kau Rianti, nanti malam akan kuberi pelajaran.
Satria menarik nafas dalam, tangan kanan memegang dada lalu turun ke perut, wajahnya pucat, badannya lemas, nafasnya pun tidak beraturan.
Rion melirik kaca spion, melihat tuannya dengan kondisi kesakitan. Dia menepikan mobil, di raihnya obat di dalam tas lalu memberikannya kepada Satria.
Rion memang sudah terbiasa dengan kondisi ini, ia mengetahui penyakit Satria. Tak jarang Rion membujuk agar Satria tidak terlalu lelah bekerja serta rutin kontrol dengan dokter spesialis.
Tapi, jawaban telak membungkam semua.
"Untuk apa Rion, aku sudah bahagia bersama Rianti. soal penyakitku hanya bisa berharap keajaiban."
Kalimat itu selalu di ucapkan Satria. walaupun dengan air muka senang. Tidak selaras dengan kondisi fisiknya. ia selalu bilang, aku sudah bahagia.
Rion menemukan cara.
Dia memutuskan untuk mengadu kepada Rianti, ya memang cara itu yang paling tepat menurutnya. Tapi sebelum itu, ia pun melajukan mobil menuju RS milik Artha grup untuk menemui dokter spesialis pribadi Satria.
Ditengah kondisi tubuhnya yang lemah, Satria menyampaikan perintah kepada Rion.
__ADS_1
"Rion, kau siapkan resepsi pernikahan megah di negara xxx untukku dan Rianti, kau atur semua." masih sempat sempatnya ia memikirkan hal itu.
"Baik tuan"
"Kita kemana Rion?" sadar jalan telah berubah arah.
"Bertemu dengan dr. Roy tuan" dr. Roy adalah dokter spesialis menangani penyakit satria, ia adalah dokter terbaik milik Artha grup. dan juga merupakan ayah dari Nabil anggota satria cs. Nabil pun mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang dokter muda.
"Kenapa kau bawa aku kesana?" dengan lemah dan nafas terengah Satria berujar.
"Sebaiknya kita kesana tuan muda"
Satria pun tidak menanggapi, diam seribu bahasa.
...........
Sore hari tiba, Rianti sudah berada di rumah
termenung di bangku taman, teringat ucapan Rion saat di telepon.
Rion sudah menceritakan semuanya.
Rianti sangat terpukul, betapa egois dirinya selama ini. hatinya menangis sejadi jadinya.
ingin rasanya jika suaminya pulang nanti, dia memeluk erat dan seraya bersimpuh meminta maaf.
Rianti masih termenung.
Flash back
"Mak, maafin Rianti ya, kalo Rianti berhenti bekerja dan tidak bisa membahagiakan emak dan bapak"
"Kamu kenapa neng? kok tiba-tiba ngomong begini?"
"Rianti mau berhenti bekerja Mak, fokus ngurus suami, Rianti salah...." Rianti menceritakan semua kepada ibunya, dengan tersendu.
"Neng, emak gak minta kamu buat kerja terus bahagiain emak, yang bikin emak bahagia itu ngeliat anak pada senang, sehat, rumah tangga rukun. Sebenernya emak disini udah di bantu materi sama Satria, emak sama bapak menghargai dan banyak terimakasih sama dia."
"Satria ngasih materi?"
"Iya neng, tiap bulan pasti di kirimin
malahan jumlahnya terlalu banyak buat kita"
Rianti makin frustasi, menangis sejadinya.
"Neng emak bilangin ya, neng gak usah segala mikirin yang disini. tenang aja Emak sama bapak sehat dan bahagia. Neng harus berbakti sama suami. Karena neng sudah jadi tanggung jawabnya. Kalo sampe situasinya kaya gini, emak jadi sedih. Emak gak tega sama Satria" ibunya Rianti menangis di seberang sana.
"Iya Mak Rianti juga nyesel"
...........
Masih termenung di bangku taman, sampai akhirnya pelayan menghampiri.
"Nona, tuan muda sudah pulang"
"Iya"bRianti berjalan setengah berlari, menyambut suami yang sangat ingin disambutnya itu.
Tidak bisa menahan rasa, Rianti langsung memeluk.
__ADS_1
"Hei, kamu kenapa haha" Satria tergelak sambil mengusap kepala Rianti.
bersambung...