Cinta Sejati

Cinta Sejati
Iya Sayang


__ADS_3

"Mah, ayo Dion sama Alana sudah rapi."


"Sebentar ya sayang, tunggu mamah disini." Rianti menemui tuan dan nyonya besar lagi untuk masalah perijinan. Bagaimanapun mereka tetaplah orang tua yang harus di hormati.


"Pah, mah"


Nyonya besar yang sedang bersandar pada suaminya dengan wajah sembab menoleh.


"Sayang" nyonya besar memeluk dengan penuh penyesalan. Tindakannya yang tak sengaja menyakiti Rianti adalah ujung dari rasa sayangnya yang begitu besar.


"Sayang, maafkan mamah ya."


"Iya mah gak apa-apa. Mamah benar kok, Rianti yang salah. Harusnya Rianti mendengarkan amanat terakhir Satria. Tapi malah memikirkan diri sendiri."


"Sudah sudah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kan kita akan menjadi keluarga yang utuh." Tuan besar ikut berbicara


"Iya pah." Jawab serentak


"Pah mah, Rianti mau minta ijin menginap di rumah orang tua. Dion dan Alana ikut."


"Berapa hari nak?" tanya tuan besar.


"Satu Minggu pah"


Tuan dan nyonya besar tampak berfikir dilihat dari kerutan dahi.


"Baiklah, silahkan kalian menginap. Papah mengijinkan."

__ADS_1


"Mamah juga mengijinkanmu sayang, tapi kamu jangan lupa pulang kesini lagi ya."


Rianti mengangguk setuju, tapi semudah ini kah meminta ijin. Padahal sebelumnya terasa jelas, perlakuan nyonya besar yang tidak membolehkan Rianti melangkah keluar sedikit pun.


"Niko pamit juga ya pah mah. Ayo Rianti, pasukan kecil sudah menunggu."


aaa...tidaak.


Tuan dan nyonya besar hanya bisa tersenyum dan melirik satu sama lain, mereka disinyalir telah memberikan ide buruk agar Niko ikut dengan Rianti.


Keluarga Artha grup tetaplah seperti dulu. Tidak ada berubahnya sama sekali.


..........


Rianti memberi sinyal lewat sorot mata, jika Niko ikut dia tidak mau satu mobil dengannya, apalagi harus membawa Dion dan Alana. Pasti akan terlihat seperti keluarga utuh yang bahagia sedang bertamasya.


Rianti tidak mau itu.


Sang supir melirik pada Niko meminta persetujuan, dia orang yang berada diantara dua manusia seperti air dan minyak. Kebingungan harus melakukan apa menghadapi perbedaan pendapat.


"Saya Niko adalah tuan muda di rumah ini, penguasa di Artha grup. Jadi sudah paham siapa yang lebih di utamakan." Sarkas Niko.


Semua bergerak sesuai perintah Niko, Rianti hanya bisa bersabar menuruti kemauan orang di depan matanya. Daripada harus beradu ego, yang ujungnya akan terjadi bersitegang. Tidak adakah kebebasan Rianti dalam hal perasaan setelah menginjakan kaki di rumah ini?


Rianti yang sudah malas, melangkah cepat masuk ke mobil. Menyusul Dion dan Alana yang sudah menunggu dari tadi. Mulutnya masih bergumam merutuki kegilaan Niko.


"Om Niko ikut juga?" tanya Dion yang menyadari Niko duduk di kursi depan.

__ADS_1


"Iya dong, boleh kan?"


Cih, ingin sekali Rianti menjambak rambut kakak iparnya alias calon suaminya.


"Boleh dong om, malah Dion senang jadi tambah rame. Iya kan Alana?" melirik Alana berharap jawaban sama.


"Om Niko jangan nakal ya disana." celoteh Alana


"Nah benar tuh apa yang di katakan Alana. Jangan nakal." Rianti menambahkan.


"Iya sayang"


Rianti sudah menatap tajam Niko karena panggilannya.


"Gitu dong om" Alana mengacungkan jari kelingking " janji ya?"


"Iya sayang" jawab Niko lagi kali ini di bumbui dengan senyuman lebar tapi mata mengarah pada Rianti. Senang sekali sudah membuat Rianti terkecoh kalau panggilan sayang itu untuk dirinya. Baru mau melayangkan protes tapi di patahkan oleh Alana, kan jadinya malu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2