Cinta Sejati

Cinta Sejati
Acara selesai


__ADS_3

Cerita di balik hari kemarin masih terbayang di benak, belum sepenuhnya pulih Rianti sudah di kejutkan dengan setangkai bunga mawar dengan kelopak menyusuri pipi. Dia sudah bangun, tapi masih enggan untuk membuka mata. Saat perlahan membuka matanya..


"Selamat pagi istriku" wajah yang di akuinya tampan sudah berada di atas wajahnya dengan hidung yang menempel satu sama lain.


Spontan Rianti menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Satria tersentak Mundur dengan aksi istrinya. Malu woii, pekiknya dalam hati.


"Apa?"


"Aku mau ke kamar mandi, kamu jangan melihatku seperti itu." Rianti berbicara sambil menutup wajah.


"Baiklah, pasti kau malu menunjukan wajah jelekmu itu." Satria tergelak.


Dia pun terbangun dan duduk di tepi ranjang.


Rianti yang ingin melangkah seribu tangannya tercegah oleh Satria.


"Jangan lama.-lama, ada yang mau aku omongin." Satria berbicara serius.


"Iya sayang"


Di dalam kamar mandi, Rianti terngiang ucapan Satria. kira-kira apa yang akan dibicarakan. Membuat hatinya penasaran sekaligus deg-degan.


Berpacu lebih cepat ketika dia selesai dan menuju ruang ganti.


Satria setia menunggu sambil tersenyum kearah kemunculan Rianti. Lelaki itu menyambut, menghampirinya lalu memeluk dan menghempaskan tubuh Rianti ke ranjang dengan posisinya menindih.


"Sayang, aku sesak"


"Maaf"


*A*pa tadi, dia bilang maaf?


Canggung memulai pembicaraan, Rianti diam menunggu satria yang sibuk menc*uminya.


"Sayang tadi katanya kamu mau ada yang di omongin?" Rianti akhirnya menyerah.


"Iya kah? memangnya tadi aku bicara begitu?"

__ADS_1


Satria tertawa dalam diam.


Rianti meradang, menghela nafas sabar.


"Mungkin aku tuli lagi sayang, besok aku akan periksakan telingaku." Rianti tersenyum secerah mentari.


"Hahahaha"


*A*ku senang sekali mengerjaimu seperti ini.


"Istriku sayang, dengarkan aku" mulai memasuki mode serius. Rianti terpaku, diam mematung untuk menyimak kalimat yang menggantung.


"Maafkan aku, selama ini sikapku suka menyakitimu." ucap satria lirih,


Rianti menjadi bingung.


"Kenapa minta maaf, aku suka kok kamu galak itu tandanya kamu sehat hehe"


**N**gomong apa sih aku ini.


"Maafkan aku, telah memaksamu menikah denganku yang lemah ini. Aku tidak kuasa jika jauh darimu. semua ini aku lakukan hanya karena keegoisanku untuk memilikimu. Tanpa memikirkan perasaanmu sedikit pun."


"Rianti.. aku sangat mencintaimu,


jangan pernah sedikit pun berfikir kau lari tinggalkan aku. Karena.. jika itu sampai terjadi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku setelahnya."


Rianti mulai berkaca-kaca.


Satria memeluk Rianti erat, dibubuhi kecupan tanda kepemilikan disana. Kegiatan yang memakan waktu hingga matahari menjulang tinggi.


"Sayang, kita keluar yuk temuin keluarga" ajak Rianti yang mulai berfikir tidak enak di dalam kamar terus.


"Iya istriku, kamu duluan sana


nanti aku nyusul"


..........

__ADS_1


Di ruang keluarga


Dua keluarga yang berbeda menyatu dalam balutan pernikahan. Seorang gadis biasa yang di angkat anak oleh keluarga pegawai Artha grup tidakk disangka akan menjadi menantu di keluarga Artha grup.


Keluarga Rianti yang kesulitan bahasa, lebih banyak diam menyimak obrolan. Yang sebenarnya ia mengerti atau tidak, yang penting berinteraksi dengan manggut manggut dan senyum saja.


Nyonya besar menjadi penengah antara dua interaksi ini.


*K*emarilah Rianti.


Ibu Rianti gusar. Tidak lama kemudian munculah sosok yang sedang diharapkan.


"Eh, sayang sini" Rianti menghampiri sumber suara, dengan senyuman andalannya.


"Maaf, Rianti baru kesini."


"Iya paham kok" ibu mertua menggoda sontak membuat pipi Rianti merona.


"Hei, satria kemana sayang?"


"Nanti nyusul kesini kok mah"


Rianti mendekati ibunya yang ingin bicara lewat sorot matanya. Suara berbisik mengundang perhatian keluarga Artha grup.


"Neng emak mau pamit balik nih, bapak soalnya besok kan kerja yang lain juga ada keperluan." suara pelan ibu Rianti.


"Sebentar ya Mak, nunggu Satria dulu


maaf ya Rianti baru bisa ikut nimbrung. Pasti emak canggung ya ngobrol sama keluarga sini?"


"Tau aja neng, hehe" Rianti menimpali dengan tersenyum geli dan tidak disadari banyak mata memperhatikan.


"Kok sudah mau balik aja sih, memang tidak mau berkeliling di negara ini dulu. kita liburan bareng" nyonya besar berujar semakin membuat wajah keluarga Rianti pias.


"Mah, mereka kan masih ada kepentingan lain. lain kita akan liburan bersama." Satria datang bagaikan superhero.


bersambung...

__ADS_1


Maaf pemirsa author baru update.


__ADS_2