
Berkumpulnya keluarga Rianti dengan orang baru yang belum mendapat hati dari sang ayah, situasi seperti apakah yang akan terjadi? apakah mereka akan saling tinju ataukah mengadu kekuatan.
Pengakuan mengejutkan yang di lontarkan Niko dengan rasa bersalah dan juga percaya diri, membuat ayah Rianti menjaga jarak. Tapi dia juga tidak mau menjadi manusia angkuh yang tidak memberi kesempatan pada orang lain.
Keberanian Niko patut di beri penghargaan, bisa saja orang licik akan memanfaatkan situasi pengakuan ini setelah keadaan sudah menikah. Tapi yang dilakukan Niko bukan seperti seorang pecundang, akibat terburuk pengakuannya adalah gagal menikah. Niko tidak peduli itu.
Rianti tidak percaya apa yang dilihatnya, dia pun selama ini masih menutupi dalang di balik peneroran. Masih memandang bahwa Niko merupakan anggota keluarga mertua. Tapi apa yang terjadi? sungguh tidak dapat dipercaya jika tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
"Kamar di rumah ini terbatas, jadi Niko harus tidur dengan bapak." Ujar ayah Rianti. Niko meringis kakinya terinjak olehnya, eh bukan terinjak tapi memang sengaja diinjak untuk perkenalan pertama.
"Gak apa-apa kan?" tanya ayah Rianti memastikan. bener-bener dah bapak mertua gua ini. panutan sekali dalam menghadapi lawan secara halus. Niko terkagum-kagum.
"Gak apa-apa, dengan senang hati malah. Terimakasih sudah mengijinkan saya untuk menginap disini." Niko berinisiatif memeluk ayah Rianti, penasaran reaksi apa yang dikeluarkan oleh si bapak itu.
"Lunas ya, kemarin mata bapak di bikin picek." bisik ayah Rianti di sela pelukannya. Niko merinding geli dan semakin ingin merekahkan senyum.
"Iya pak sama-sama. Lega jadinya kalau hutang sudah lunas." Niko tidak mau kalah. Dia juga berbisik pada calon mertuanya itu.
Merasa sudah tidak ada lagi bisikan ghoib, ayah Rianti memundurkan badan. Dia histeris ketika melihat ke arah kaki Niko.
"Eh Niko maaf ya kakinya ke injak, Sampai biru begitu ya. Bapak gak sengaja, lagian Niko kaga bilang kalau kakinya ke injak. Mak.. ambilin Kiong racun coba, buat ngobatin kaki calon mantu kita." perintah ayah Rianti kepada istrinya.
__ADS_1
"Idih si bapak, kaki orang sampai kaya gitu. maaf ya nak Niko, ibu obatin dulu."
Niko bahagia dengan ujung kalimat ayah Rianti, tapi dia juga menepis untuk tidak di obati.
"Gak usah pak, Bu. Saya strong orangnya, cuma lebam kaya gini di tiup juga sembuh."
Kiong racun apaan si, kok perasaan gua gak enak ini. Batin Niko
"Bener nih kuat? eh tapi gak bisa begini, bapak udah bikin sakit harus bertanggung jawab buat obatin. Kalau Niko ragu sama Kiong racun, bapak pakai cara lain yang lebih ampuh."
Niko waspada, dia berfikir ayah Rianti memang baik dan menerimanya, tapi dia juga belum yakin kalau ayah Rianti tidak memiliki niatan apapun.
"Sini duduk" Niko terhipnotis untuk duduk di bangku yang telah disediakan pak Ridwan. kakinya menjulur keatas pangkuannya.
tuh kan bener, kata gua juga apa !
Willy dan segenap pasukan keamanan Artha grup berusaha untuk menahan tawa, bagi yang mengerti apa yang dilihatnya barusan sejenak terpikir pengobatan jadul warisan orang tua dulu. Ampuh pada jamannya.
"Yah ampun Abang, masih kuno ajah. Di dalem kan ada salep, ada minyak boreh. Masih aja zaman now pake iler." Protes Madih. Willy yang sudah tidak sanggup tawa nya lolos begitu saja.
Yang tertawa langsung mendapat tatapan mengiris. Sadar, Willy langsung mengalihkan dengan memainkan ponsel. Bukan maksud untuk merekam, dia belum memiliki keberanian untuk itu.
__ADS_1
Jarinya mengetikan pesan pada Niko.
"Eciee calon mantu kita. Selamat ya bos atas keberhasilannya."
^^^"Niko gitu loh."^^^
Willy bernafas lega, sungguh idenya untuk memastikan agar Niko tidak marah saat dirinya menertawakan berhasil. Sangat ampuh jika menggunakan istilah yang berhubungan dengan Rianti.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Di balik layar
__ADS_1
Saat drama penginjakan kaki, Willy dan para tim keamanan sudah waspada dan mengantisipasi. Mereka mendapat kode gerakan tangan dari Niko agar membiarkan semua itu terjadi.
Jangan lupa bahagia !