
"Waktu gua ngajak ngobrol privat."
"Jadi.. sebenarnya apa sih yang kalian omongin? kakak minta dekat sama Dion tapi keluar dari ruangan wajahmu bahkan tidak senang."
"Pembahasan privat gua minta ijin sama dia buat deketin Dion, dan permintaan maaf gua atas semua kesalahan, bersamaan juga dengan surat ini yang dia kasih ke gua. gimana bisa gua keluar dari ruangan itu dengan wajah gembira"
Rianti tertawa miris.
"Rianti, mau gak mau gua bakal nikahin lu." kalimat penuh penekanan dari segi manapun.
"Kalau saja Satria tidak bicara di saat terakhirnya, aku tidak akan percaya dengan ini kak. Bisa saja kan kakak berusaha dengan giat menjiplak tulisan tangan Satria agar bisa nulis surat ini."
"Haha,, segitunya gua di mata lu Rianti. Sampai gak ada celah sedikit pun kalau gua juga punya hati nurani."
Rianti diam. Dia bangkit dari duduknya seperti tidak tertarik dengan omongan Niko. Dia lantas menghampiri bunga yang bermekaran di belakang lelaki itu dan memetiknya.
"Indah ya bunganya, kaya lu." Niko mengikuti pergerakan Rianti yang sedang merangkai bunga hasil petikannya.
"Lagi gombal kak?"
krik..krik..krik..
"Lu mau kasih ke siapa bunganya?"
Tanya Niko melihat rangkaian bunganya sudah selesai terlihat cantik untuk di pandang.
"Buat Satria. Sudah dulu ya kak obrolan kita kali ini. Aku mau pergi dulu. Titip Dion sama Alana sebentar."
"Gua ikut."
"Gak usah, aku bisa sendiri. Kakak disini aja jagain Dion sama Alana."
"Pasukan kecil yang jagain mertua gua. gua ikut sama lu."
"Mertua?"
__ADS_1
"Iya mertua gua, emak lu kan?"
Niko cengengesan. Rianti ingin sekali menghajar kakak iparnya tersebut yang kalau bicara tidak pernah di saring.
"Yasudah terserah kalau mau ikut, kak jangan panggil mertua. Kita belum nikah." Protes.
"Ok siap, nanti juga nikah." Niko mengacak rambut Rianti, semakin lusuh saja penampilannya sekarang.
"Eh bentar gua mau ke kamar persiapan dulu Ri, lu jangan tinggalin gua." ucap Niko lagi
"Iya bawel."
lah dia pikir aku juga tidak persiapan. eh tunggu dulu, kesempatan ini.... batin Rianti
Setelah mengambil kunci mobil dan tas selempang kecil, juga sudah mengantongi ijin dari tuan besar. Rianti setengah berlari berpamitan dengan sang ibu.
"Mak, maaf ya Rianti buru-buru ada urusan. Gapapa kan emak disini neng tinggal sebentar?"
"Iya neng, hati-hati."
"Heh lama banget. Ayo cepat keburu sore."
Rianti menelan ludah melihat siapa didepannya dan berujar, Niko ternyata sudah menunggunya di garasi.
Niko tahu wanita di depannya ini sedang terkejut, tidak menyangka rencananya untuk pergi menyelinap telah gagal. Niko terkekeh dalam hati dan sangat menikmati kepanikan Rianti.
"Kak kok kamu cepat banget.?" Rianti frustasi
"Iya dong. Soalnya tadi di kamar kecium bau konspirasi gitu. Rianti... gua lebih pintar dalam hal kibul mengkibul hahaha."
Rianti memicingkan mata.
"Nih saking sibuknya bohongin orang, lupa sama bunganya." Niko menyodorkan buket bunga buatan Rianti tadi.
"Ya ampun, ceroboh banget sih." Rianti merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kak kamu jangan-jangan dari tadi emang sudah disini ya?" Rianti menyelidik.
"Iya, dari pas selesai obrolan kita di taman gua langsung kesini. Nunggu lu lama banget."
"Emang gak mandi dulu? jorok"
"Rianti, gua walaupun berandalan kaya gini kalau keluar kamar pasti sudah mandi. Biar aura ketampanan gua keluar"
"Iya sudah buruan jalanin mobil. Takut keburu sore. Macet soalnya."
Rianti sudah malas mendengar ocehan Niko.
"Siap nona." Niko menyunggingkan senyum karena sudah menang di awal start mengejar cinta Rianti.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1