
Selepas pulang dari keramaian pasar malam.
Niko dan Rianti tidak bertegur sapa, Rianti memang membatasi obrolan dengan Niko, karena dirinya begitu mengantuk untuk sekedar melayani ocehan kakak iparnya tersebut.
Sedangkan Niko, dia sedang kesal sebenarnya. Menyaksikan Rianti bertegur sapa dengan teman kecilnya. Tapi Rianti tidak menyadari itu.
Obrolan Rianti pun hanya berupa bisnis yang jauh dari urusan pribadi. Tetap saja, Niko yang masih satu server dengan Satria memiliki cemburu yang berlebih. Bahkan bukan pada tempat yang semestinya.
Biarpun sedang tidak mood, Rianti tetap memperlakukan Niko sebagai tamu dengan cara yang baik.
"Silahkan tidur dengan pasukan kecil kak. Sini jas nya aku amankan dahulu, ganti sama baju tidur ini."
Niko masih mengeram kesal.
Rianti pura-pura tidak peduli, berlalu mengambil bantal dan selimut untuk perlengkapan tidurnya di sofa. Matanya sudah lelah, tapi masih menyadari ada notif masuk ke ponsel. Saat Rianti baru saja memegang ponselnya, tiba-tiba Niko merebut paksa.
Niko hampir saja mau membanting benda tak bersalah itu, dengan bersikap santai Rianti mencekal tangan Niko, meredamkan amarahnya yang utama agar lelaki itu tidak mengobrak-abrik seisi rumah.
Rianti tidak tahu persis kenapa Niko menjadi semarah ini, bukannya sok polos tidak tahu menahu, hanya saja Rianti tidak mau membuat kesimpulan dengan percaya diri bahwa Niko marah karena dirinya berbicara dengan laki-laki lain.
"Kak" mengusap punggungnya pelan.
"alAda apa?" bertanya dengan selembut mungkin. Niko masih mendecih, belum mau menjawab pertanyaan Rianti.
"Kak Niko" wajahnya mengintip dengan mata yang sudah layu.
__ADS_1
Niko melirik, dia juga tidak tega dengan Rianti yang menjadi pelampiasan kemarahan. Basanya ini adalah tugas Willy, sang tangan kanan yang sering menjadi target kemarahannya.
"Rianti, jangan menguji kesabaran gua! bisa gak si lu jangan Deket sama lelaki lain."
"Kak, aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Hm"
"Saat aku masih berstatus istri Satria, kakak sering menggodaku. Sama, Satria juga marahnya begini. Tapi kan situasi sekarang aku ngobrol sama laki-laki lain hanya mengobrol ya tidak lebih, kakak semarah ini? kenapa marahnya gak dari dulu pas aku bermesraan sama Satria?"
"Hah apa lu bilang? gak marah? emang dulu gua sering bikin celaka sama neror itu namanya apa?"
Rianti menghela nafas.
"Kak, sekarang kamu yang ada di pihak aku. setidaknya kamu merasakan apa yang dirasakan Satria dulu."
Rianti sudah menunduk dalam, pasrah jika Niko malam ini harus memukulnya. Sudah menunggu sekian detik tidak ada pukulan yang melayang. Rianti mendongak menatap Niko lagi.
"Kak, maaf jika aku harus mengulik luka lama. Bagaimanapun kakak dan Satria sudah berdamai dengan masa lalu. Tidak seharusnya sekarang aku membandingkan."
"Tapi aku mohon dengan sangat, aku sudah menyerahkan diri padamu. Mengikuti kemauanmu dan keputusan orang tua kita. Tidak akan ada celah untuk aku melarikan diri. Jadi aku mohon, percayalah kak jika aku tidak akan berubah arah."
"Yakin?"
"Ya, aku tidak berniat lari darimu. Karena aku yakin itu akan percuma, dan hanya membuang waktu dan tenaga dengan sia-sia."
__ADS_1
"Bagus kalau begitu, akhirnya lu sadar juga." sudah tampak wajah yang mencair.
"Kak, boleh aku minta sesuatu?"
"Apapun gua turuti dan gua kasih, asal jangan pernah bermimpi lari dari gua."
Rianti mengutarakan keinginan untuk memasukan orang kepercayaannya dalam jajaran Manggala. Tentu saja tujuan Rianti hanya untuk mengubah arah Manggala ke dalam bisnis yang baik.
Niko langsung mengiyakan, sekaligus mentransfer sejumlah uang tanpa di minta oleh Rianti.
"Kak kok kamu transfer aku uang segini banyak? aku kan gak minta."
"Iya, itu nafkah dari gua. lelaki itu harus peka walaupun wanitanya tidak meminta. bukan begitu Rianti? tenang saja itu uang halal."
dih apaan sih ini orang.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa bahagia.