
*G*imana kabar Emak sama bapak ya? udah lama ga ketemu. Walaupun berkomunikasi tiap hari, tapi rasanya beda kalau belum bertemu. Satria datang memeluk dari belakang, membuyarkan lamunan Rianti.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" cup ..satu tanda merah membekas di tengkuk. "Aku hanya sedang kepikiran orang tuaku sayang, rindu saja" mengusap manja pipi suaminya.
"Tatap mata aku Rianti". Perintah Satria. Rianti merasa aneh kenapa harus menatap matanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu merasa sedih atau khawatir, aku tidak sanggup melihat itu saat ini. Jadi, aku ijinkan kau menginap dirumah orang tuamu"
"Tapi sayang.." jari telunjuk Satria membungkam suara.
"Jangan membantahku Rianti"
"Hemm baiklah lah sayang jika kau memaksa"
"Sudah pintar menjawab sekarang kamu ya"
"Hehe sayang hentikan. Geli.............awwww" pundakku sakit sekali.
"Sayang, aku sudah lama tidak mengganggu koki di dapur. Kamu mau ikut aku memasak tidak?"
"Kau mau masak untukku?"
"Oh iya dong, aku mau masakin satu menu buat suamiku yang tampan." *W*aaah indah sekali kalimat yang keluar dari mulutku barusan hahaha.
Hemmmpph.. hanya beberapa detik lalu dilepas.
"Sudah sering mendapatkan serangan dariku masih kaku saja, jangan lupa!"
"Jangan lupa apa sayang? bahagia?"
"jangan lupa bernafas!"
Rianti hanya tersenyum menanggapi. Menyudahi percakapan yang akan semakin membuatnya merona, hati yang berbunga bunga, kupu-kupu pun bertebangan di atas kepala. Itulah ibarat untuk orang yang sedang jatuh cinta.
Rianti mengandeng tangan Satria, menuntunnya menuju dapur. Satria melihat tangan yang digenggam Rianti, terlihat kembali ternyata mereka sama memakai gelang couple. Hadiah dari Rianti pada saat dirinya ulang tahun, hadiah yang begitu istimewa untuk seorang Satria.
Senyumnya mengembang, pipinya memanas, hatinya begitu bahagia.
*K*enapa ngajaknya ke dapur sih bukan ke kamar saja. Satria menggerutu.
..................
Aktifitas di dapur sejenak terhenti setelah kedatangan tuan dan nona muda.
*A**da apa ini...
Ada yang salah dengan masakan...
Wah ternyata manis juga nona muda, pantas
saja*... batin para koki.
Para koki terlihat bingung, saling memandang satu sama lain. Kehadiran tuan muda lah penyebab mereka berwajah pias, sebab jika nona muda saja yang kesini, itu sudah biasa.
"Ada yang bisa dibantu tuan dan nona muda?" kepala koki menyapa, mewakili isi kepala para koki lain yang bertanya-tanya.
"Aku mau memasak, tapi berdua saja dengan istriku. Bolehkan?"
"Tentu saja tuan muda, silahkan memasak dan berkreasi dengan senang hati. Kami akan tinggalkan dapur. Permisi" kepala koki beserta jajarannya balik kanan meninggalkan dapur.
Pemandangan yang sangat langka.
"Kamu mau dimasakin apa sayang?" tanya Rianti sambil menyiapkan bahan.
"Itu kamu sudah siapin bahan, memangnya mau masak apa?" Satria balik bertanya.
"Aku sedang mau membuat mpek-mpek. sudah lama aku tidak bikin ini." Satria tersenyum menanggapi. "Sini aku bantu".
__ADS_1
"Pertama apa yang aku harus lakukan?" sudah memasang mode suami siap siaga.
"Pertama-tama..." kalimat nya menggantung. Rianti teringat dengan Ren saat menyebut kata itu. Disaat pembicaraan serius Ren yang masih dibumbui candaan sebelum Ren pergi untuk selamanya.
"Sayang, pertama tama apa?, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Oh itu, kamu lakukan ini....... Rianti menjelaskan secara terperinci, jelas setiap detailnya. Hingga Satria tak kesulitan membantu, walaupun ini pertama kali bagi dirinya.
Kemampuan Rianti memasak memang tidak diragukan, karena ini memang hobinya selain membaca. Pintar masak, jago bela diri, dan kemampuan kepemimpinan yang kompeten, sudah di sandang Rianti selama ini. Namun, selalu ada cobaan di setiap perjalanan hidup. Karena langit tak selamanya cerah, dan hujan pun tak selamanya turun.
Sang buah hati yang belum kunjung tiba.
"Lihatlah, hebat kan aku" Satria memanggil Rianti untuk melihat hasil karyanya.
"Waaah amazing haha" Rianti tergelak melihat hasil karya suaminya. "Bagus, aku belum pernah melihat mpek-mpek bentuknya seperti ini."
"Ini spesial untukmu"
"Terimakasih sayang" berhambur memeluk Satria. "Kok jadi aku yang dimasakin kamu sih" mendongak, memperlihatkan protes.
"Gak apa-apa sayang, sekali kali aku yang masakin kamu. Walaupun itu cuma sekali seumur hidupku."
Deg... mata mulai memanas.
Tidak ingin berlama melow, mereka segera menuju ruang makan, menikmati hasil jerih payahnya hari ini.
...................
Hari sudah mulai sore.
Persiapan Rianti untuk menginap sudah selesai. Rencana awal menginap untuk beberapa hari ke depan, namun ijin pun tak demikian. Hanya sampai esok hari.
"Sayang maaf, untuk saat ini aku tidak ikut denganmu. Banyak sekali pekerjaan yang ku tinggalkan, aku akan mulai mengurusnya. Salam untuk mertuaku"
"Iya sayang, tapi kamu jangan terlalu capek ya." Satria meraih Rianti, memeluknya erat.
"Iya sayang"
*P*erasaanku tumben tidak enak, biasannya aku senang pergi ke rumah emak.
"Sudah mau berangkat ya?" nyonya besar
menghampiri.
"Iya mah, aku titip suamiku ya".
"Aman sayang, serahkan pada mamah"
aaaaa gak ada yang cegah nih, kaki ini rasanya sulit untuk melangkah.
Rianti menuju mobil untuk segera berangkat, pelan sekali langkahnya, penuh keraguan. Hingga tuan besar datang pulang ke rumah, mereka pun berpapasan.
"Rianti, kau mau kemana?"
"Aku mau menginap pah, di rumah orangtuaku"
"Kalian bertengkar?"
"Tidak" suara Rianti bersamaan dengan satria. melihat Rianti dan tuan besar berbicara, Satria lantas menghampiri.
"Aku yang menyuruhnya menginap pah, aku juga sudah mengerahkan pengawal untuknya."
"Keluarga kita sedang tidak aman, jangan meremehkan pengamanan, sudah cukup kita kecolongan selama ini."
"Kecolongan? apa maksudnya pah?
"Rianti menemukan alat penyadap, pada saat kamu di rumah sakit"
__ADS_1
Tuan besar mengisyaratkan untuk tidak ada yang keluar rumah, tapi dia juga tidak tega dengan menantunya itu.
"Tapi, tidak apa. Perketat pengamanan diluar rumah, jangan sampai lengah dan berjalan sendirian. Papah percayakan padamu". Rianti mendapat restu padahal dia berharap di cegah, ya sudahlah.
"Iya pah". Lesu.
*A*ku jadi kepikiran Rianti. aku ikut saja.
"Aku ikut, tolong persiapkan keperluanku." Perintah Satria kepada pelayan.
Drrttt...drrttt... ponsel Rianti bergetar.
"Hallo"
"Dimana"
"Iya neng segera kesana" sambungan terputus.
"Bapak masuk rumah sakit" eemmakkk
ayah yang sakit tetap saja teriaknya ibu.
..................
Di lobi rumah sakit.
Satria dan Rianti datang, menyusuri lobi dengan langkah tergesa. Tidak tenang kalau belum memastikan keadaannya. Karena, selama ini ayahnya Rianti belum pernah masuk rumah sakit.
Berbeda dengan situasi saat satria koma. Keluarga Rianti sama sekali tak diberi tahu.
"Mak bagaimana bapak?"
"Masih di UGD, belum ada dokter yang keluar. Bapak tadi pingsan." penjelasan ibu Rianti membuat Rianti risau.
"Sayang tenanglah" merangkul Rianti, memberikan support agar lebih tenang.
Satria mengamati keadaan sekitar, dia tidak boleh lengah untuk kali ini. Tangannya yang lincah mengetikan pesan untuk dikirimkan kepada sekretaris Rion, memberikan perintah agar satu lantai rumah sakit di sterilkan. Melihat rumah sakit ini ternyata salah satu milik Artha grup.
Pintu terbuka, dan seorang dokter muncul setelahnya.
"Bagaimana dok keadaan ayah saya?" Rianti mencecar pertanyaan.
Dokter menyapa tuan muda, dan menjawab pertanyaan Rianti. Sedikit terkejut dokter itu, karena pasien yang ia tangani adalah ayah mertua pemilik rumah sakit ini.
"Ayah nona.....
Semua menunggu jawaban.
.
.
.
.
Bersambung....
.
Netizen: Thor mpek-mpek nya bentuk apa emang? ko beda gitu, gak dijelasin lagi.
Author: bukan bulat bukan lonjong, bukan pula seperti kipas.
.
Sudahkah anda bahagia hari ini?
__ADS_1