Cinta Sejati

Cinta Sejati
Banyak tidak tahunya


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan pergantian pakaian. Rianti tidak tahu harus apa kemudian, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu Niko memberi instruksi.


Lelaki yang di tunggu sedang mengambil perlengkapannya. Rianti sampai saat ini tak habis pikir kenapa Niko ingin dipakaikan baju yang tidak biasanya. Bisa di bilang lusuh dan dan tak terawat.


Dalam benak Rianti, mungkin Niko akan mengajaknya ke tempat yang berlumpur.


"Ayo!" seru Niko bersemangat. Rianti manggut, menyambut tangan Niko untuk bergandengan.


"Kita mau kemana kak?"


"Kita akan berpetualang berdua, mulai hari ini abang Niko mau berduaan terus sama neng Rianti." senyumnya merekah.


"Pertama, aku akan ceritakan. Disini adalah tempat dimana aku tidak mengenal kehidupan. hatiku mati Rianti"


Awal kalimat Niko menyita perhatian, semakin menelisik rasa penasaran Rianti.


"Ini adalah rumah masa kecilku, rumah pelarian wanita br*ngsek yang membawaku jauh dari orang tua kandung. Mungkin kamu sudah mendengar cerita bagaimana proses diriku hilang."


"Iya, mamah yang cerita semua."


"Miris ya sayang, sekelas Artha grup tidak bisa mencari bayinya sendiri yang dinantikan cukup lama." Tertawa getir. "Aku sama kamu saja bisa kan kesini."


Rianti masih diam, menyimak setiap kata demi kata dengan diiringi ekspresi pedih dan miris.

__ADS_1


"Setelah melihat ini semua, pasti kamu tau kenapa diriku memiliki bisnis gelap selama ini."


"Iya kak" lirih.


"Sudahlah jangan sedih begitu, kita kesini untuk bersenang-senang. Jangan juga prihatin, karena aku tidak suka dikasihani." Niko membelai rambut Rianti dengan lembut.


"Kak, apa aku perlu ganti baju juga yang sama sepertimu. Kalau aku lihat kita seperti pergi ke tempat yang berlumpur." Rianti berkilah, menghilangkan situasi yang tidak enak.


"Tidak usah, kan kamu penonton. Akulah pemainnya."


Hah


Di sepanjang jalan, mereka tidak berbicara. Mereka saling diam tapi saling mencuri pandang. Jika ketahuan sedang mencuri pandang mereka akan melempar senyum dan tidak tahu apa yang sedang dirasakan saat ini.


Niko mengambil sebilah kayu untuk menggiring hewan domba menuju tempat gembala. Dari caranya, terlihat Niko begitu lihai menggiring para domba.


"Sayang, kita kepohon sana. Abang mau duduk berdua di dahan pohon itu." Niko menunjuk ke arah pohon cukup rimbun.


"Ayo"


Tidak butuh lama memanjat, Rianti sudah berada diatas, disusul Niko sambil membawa keranjang kecil berisi makanan.


"Akhirnya bisa mepet-mepet juga." ujar Niko.

__ADS_1


Hahahaha Rianti tertawa, tidak habis pikir dengan omongan Niko, setiap malam tidak ada jarak diantara mereka dengan Rianti yang selalu ada dalam pelukannya, masih sempat bilang saat ini akhirnya bisa mepet.


Niko mengeluarkan pie apel dalam keranjang, menyuapinya ke mulut sang istri, lalu bergiliran. Dia tidak mau memberi pie itu masing-masing satu persatu, dia maunya satu untuk berdua.


"Disini, Niko sang pengembala tumbuh. bocah itu setiap harinya berada di pohon mengawasi hewan ternak yang sedang di gembalanya." Niko memulai cerita, Rianti menyimak dengan seksama, pasti cerita Niko akan seru dan tentu saja Rianti akan mendapat jawaban atas kebrandalan Niko.


"Kamu lahir disini?" Tanya Rianti.


"Gak lah, masa Abang Niko lahirnya di pohon."


Rianti tergelak, "maksudku di sini, di negara ini, di rumah tadi yang kita singgahi." Rianti memperjelas.


"Aku juga tidak tahu lahir dimana, hahaha, entah di rumah, di rumah sakit atau dimana, aku tidak tahu Rianti. Di negara mana aku lahir aku tidak tahu, Sophia tidak mau memberi tahu Abang Niko sih."


.


.


.


.


.bersambung...

__ADS_1


__ADS_2