Cinta Sejati

Cinta Sejati
Merajuk


__ADS_3

Madih tiba di dapur, bertemu dengan para koki yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.


"Permisi.. maaf nih ganggu hehe. bolehkah saya meminta untuk dimasakin air buat mandi. Pengen mandi air hangat gitu."


Wajah para koki sudah menahan tawa. Kepala koki memanggil pelayan, lalu berbicara pada Madih dengan hati hati.


"Tuan, untuk hal ini bisa di siapkan dengan pelayan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."


Pelayan tersebut meminta Madih untuk mengikutinya. Lantas madih bingung karena pelayan tersebut tidak membawa apapun. Hanya suruh ikut dengannya, jangan jangan..


Di kamar mandi dalam ruangan yang di tempati Madih, pelayan itu memperagakan bagaimana cara untuk mendapat air hangat. Madih merasa kesal. Suara hatinya berisi umpatan pada ayah Rianti.


"Terimakasih ya. Maaf nih ngerepotin"


Madih dengan wajah merona berterimakasih.


"Sama-sama tuan. Jika ada yang di butuhkan lagi panggil kami saja. Saya permisi."


Pelayan berlalu, madih langsung kabur, dengan langkah tergesa. Seperti harimau kelaparan yang ingin mencari makan. Kamar ayah Rianti lah yang menjadi sasaran.


"Waduh waduh, aki aki gak idep bangat ya. Saya ampe malu ama tukang masak. Dalam hatinya mah saya di ketawain itu." Omelan Madih mengudara di depan kamar ayah Rianti yang memang pintunya belum tertutup.


"Hahahaha" ayah dan ibu Rianti tertawa dengan lepas. Mereka geli sekali dengan penuturan Madih. Walaupun dengan air muka marah, tetap saja lucu.


"Ketawa lagi. Jadi orang mah jangan begitu apa bang ama Ade mah. Sebel bangat dah. Awas ya abang ntar kan makan malem nih, kagak saya ajarin caranya motong steak daging. Biarin kelolodan, kaga saya tolongin"


"Ngoceh aja lu, mending mandi." masih terdengar sisa tawa.


"Bodo amat ah." mlMadih merajuk, berlalu sambil mengeluarkan kata umpatan.


Baru satu hari, rumah utama sudah di buat ramai dengan drama yang diciptakan keluarga Rianti. Rumah yang senantiasa selalu sepi, aktifitas yang sesuai peraturan setiap harinya. Kini seolah tidak berlaku bagi keluarga yang penuh canda gurau itu.


Nyonya dan tuan besar yang tak sengaja menyaksikan drama tersebut, tergelak bersama.


"Mah, lucu sekali ya pamannya Rianti itu. Jarang sekali kita bisa tertawa lepas seperti sekarang di dalam rumah yang besar ini."


"Iya ya pah, mamah juga gak ngerasa kesepian lagi kalau di tinggal papah pergi."


"Bagaimanapun juga, mereka punya kehidupan sendiri. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk tinggal bersama kita."


"Tapi pah.."


"Istriku sayang, sudah cukup kita memaksa pernikahan putra kita dengan putri mereka. mungkin tanpa cinta awalnya, bayangkan apa yang Rianti rasakan di waktu itu. Keluarga nya pun demikian. Pernikahan yang terbilang cepat, di usia Rianti yang bahkan baru selesai ujian akhir di bangku SMA, pasti ada stigma negatif dari masyarakat terhadap keluarganya."


Nyonya besar terdiam.


"Sebenarnya mamah cuma ingin menebus kesalahan mamah."


"Bukan dengan cara ini. Biarkan mereka bahagia dengan caranya. Dengan kebebasan nya sendiri." tuan besar memeluk istrinya.


.........

__ADS_1


Di ruang makan.


Di meja makan yang terhidang segala menu, semua anggota keluarga sudah berkumpul. Kondisi Madih sudah seperti sedia kala, tidak meraung menumpahkan kesal. Karena prinsipnya, bercanda yang sering terjadi di keluarganya itu, mempererat tali persaudaraan.


Tidak ada dendam di dalamnya.


Mereka dengan senang menikmati hidangan yang disajikan. Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring menghiasi suasana yang hening.


Makan pun sudah selesai.


Satu persatu memasuki kamar untuk beristirahat.


Rianti menumpahkan semua makanan yang baru diisinya ke perut. Tidak ingin membuat kekhawatiran, ia dengan santai membuat kebisingan dari air yang mengalir.


"Sayang, kamu lama sekali di dalam?"


"Iya sayang, aku tiba-tiba ingin mandi lagi." sedikit membasahi tubuhnya.


"Jangan terlalu lama, nanti kamu kedinginan atau ku dobrak pintunya!"


Tidak sampai di dobrak, pintu terbuka. Rianti keluar dengan wajah yang sudah fresh dengan senyum yang mengembang.


"Sayang, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."


"Lerutmu bunyi, padahal habis makan." Satria heran lalu mendudukkan Rianti di sofa. Memeriksa keadaan Rianti seperti dokter sungguhan.


"Kau habis muntah?"


"Iya" tidak bisa bohong.


Tangannya terus mengusap perut istrinya.


manis sekali sikapnya.


"Sayang, kamu jangan pernah menyembunyikan rasa sakitmu dariku. menikah bukan soal sah dalam suatu hubungan, tapi lebih dari itu. Aku tidak mau kamu menutupi dan seolah kamu baik-baik saja. Aku suamimu Rianti. Kamu adalah tanggung jawabku." mengecup kening dengan mata memerah.


"Selagi masih ada aku, biarlah aku yang menjagamu sayang." kalimat susulan yang membuat hati Rianti bergetar.


Buah sudah tiba, beserta susu dan juga vitamin.


"Sini aku suapin." Satria menyodorkan potongan buah di ujung garpu.


"Habis ini, kau minum susu hamilnya. aku


juga mau minum obat. kamu kan senang kalau melihatku minum obat bukan." Satria tersenyum. Memperagakan seperti kemarin ia meminum obat. Mengangkat obatnya ke udara lalu meneguknya dengan air hingga tak tersisa.


Air mata jatuh begitu saja. Lidahnya Kelu tak dapat berucap, Rianti menangis sejadinya.


"Maafkan aku." memeluk suaminya erat.


"Jangan pergi." Menangis sesegukan di pelukan suaminya. Untuk pertama kali Rianti menangis di hadapan Satria.

__ADS_1


Satria mengusap air mata istrinya untuk menguatkan.


Perasaan aneh menjalar di pikiran Rianti. Entah bawaan hamil atau pun yang lain, yang jelas saat ini Rianti sangatlah bersedih.


"Jangan pernah menutupi apapun dariku." lirih Satria berucap.


"Iya sayang. Maafkan aku." masih dengan Isak tangisnya.


"Sayangku Rianti, berhentilah menangis. Hatiku sakit melihat air matamu " dadanya bergemuruh. Sesak mulai menyerang. Air matanya jatuh menyentuh pelipis Rianti.


"Sayaaang..." Rianti segera menghapus air matanya. Karena itulah yang membuat Satria merasa sakit.


"Sayang, aku sudah tidak menangis lagi." menempelkan telapak tangan Satria pada pipinya, terasa begitu hangat. Satria pun merespon, dengan menggerakan jarinya.


sakit sekali..


Rianti mengambil ponsel untuk menghubungi dokter keluarga. Tangannya di tepis oleh Satria.


"Biarlah, ini cuma sakit biasa. Nanti juga akan reda, sini" Satria merentangkan tangan, menyambut pelukan hangat Rianti. Lama mereka menyelami perasaan masing-masing.


Malam sudah larut.


Rianti memindahkan Satria yang tertidur pulas di sofa bersamanya. Tkdak ada pergerakan, sepertinya nyenyak sekali.


eh


Rianti memeriksa kening, tidak panas. Memeriksa nadi, masih berdenyut. Memeriksa jantungnya, masih berdetak. Detakan yang dirindukan Rianti ketika Satria tidak ada disampingnya.


Lama ia berada disana, hingga membangunkan Satria karena sulit bernafas. Satria terbatuk. Rianti mengerjap kaget, langsung mengambil segelas air putih lalu meminumkannya pada sang suami.


"Maafkan aku Rianti, kau yang sudah memindahkan ku kesini?" Satria bertanya heran.


"Iya sayang. Kamu tidur nyenyak sekali. Aku tidak tega membangunkan mu."


"Terimakasih. Kau sudah mau merawatku" mengusap lembut pipi istrinya. "Dan sekarang mataku segar, aku tidak mengantuk lagi sayang" tambahnya lagi dengan senyuman penuh arti.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2