Cinta Sejati

Cinta Sejati
Masa kecil


__ADS_3

"Cari cara lain biar bisa tembus kemananan disana. Gua gak mau tau Rianti harus ada di genggaman gua!" perintah Niko pada anak buahnya dengan air muka menyeramkan.


"Baik bos"


Bukan Niko namanya kalau nyerah pada rintangan untuk tujuan ambisius. Semua cara akan dilakukan agar bisa ia dapat, termasuk yang tidak dibenarkan.


Sosoknya yang lahir dan dibesarkan seorang diri membuat pribadi yang kurang perhatian dan kasih sayang. Ibunya yang sibuk meraih pundi pundi rupiah lupa dengan tanggung jawab kasih sayang yang harus diberikan. Prinsipnya yang dibutuhkan untuk masa depan anak adalah kekayaan.


Dan kini ibunya pun sudah tiada.


Ponsel bergetar diatas meja


mengalihkan perhatian Niko yang sedang nikmat menyesap kesenangannya.


Hahahaha


Niko tergelak, menghembuskan kepulan asap dari mulut. Setelah melihat kabar dari sang anak buah.


"Kerja bagus"


...........


Di taman belakang rumah utama


terhampar bunga dengan warna yang beragam. Tak luput kupu kupu diantara bunga bunga berdendang ria.


Sungai buatan yang mengalir di dekatnya dengan air nya jernih memantulkan bayangan Satria dan Rianti. Dua insan manusia yang sedang bercengkrama mengukir tawa dan bermain air di tepi sungai itu.


"Kau ingat Rianti, aku bahkan hampir mati melihatmu tenggelam di sungai waktu di hutan."


"Kenapa begitu?" tanya Rianti heran.


"Yaaa... aku takut saja di sangka membunuhmu."


*A*ku takut kehilanganmu.


"Aku kira kamu takut sendirian di hutan tanpa aku , hehe piss " mengacungkan jarinya.


"Oh ya kamu pintar juga ya naik ke pohon aku aja sampai sebesar ini tidak bisa panjat pohon." Tutur Satria yang mulai jujur dan terbuka.


"Sudah biasa dari kecil, suka panjat pohon apalagi kalau musim buah"


"oh ya.." Satria antusias.


"Iya sayang, masa kecilku dulu seru,


banyak sekali cerita dan permainannya juga gak kalah mengasyikan. Tidak ada gadget seperti sekarang"


Masa kecil yang dirindukan orang ketika dewasa. Polos ceria tanpa beban, bagi Satria masa kecilnya mungkin banyak di habiskan dirumah, belajar, serta kurangnya interaksi dengan dunia luar. Semua itu dilakukan karena dia pewaris tunggal Artha grup penerus kepemimpinan dikala tuan besar tiada. Dan juga karena fisik nya yang lemah sejak kecil.


Berbeda dengan Rianti yang penuh dengan petualangan. Bermain di sungai, memanjat pohon, bersepeda hingga keluar kampung. Pagi hari saat libur sekolah nobar televisi menonton kartun berebut warna pada karakter pahlawan.


"Aku yang pink"


"Aku yang biru"


"aku yang hitam ya"


"Jangan itu warna aku." Ujung ujungnya ribut.


Disaat sore tiba, saat paling serunya bermain permainan tradisional. Seperti loncat tali, petak umpet, dan lainnya. ketika kembali ke rumah untuk mandi dan mengenyangkan perut yang lapar, para bocah tidak memakai alas kaki dengan debu menempel begitu lekat.

__ADS_1


Indahnya masa kecil yang tak terulang.


"termasuk mandi di sungai?"


"iya, ko tau..hehe" mereka tergelak bersama.


"kamu mau di ajarin manjat pohon?" Rianti menawarkan.


"Tidak, aku cukup panjat kamu aja." Menyeringai penuh makna lalu mendekat dan makin mendekat, terjadilah yang seharusnya tidak terjadi hingga pelayan dan tim keamanan menundukkan kepala.


"Sayang hentikan, kita dilihat banyak orang."


"Kamu malu di cium suami sendiri?" memasang mode melas, "hmm aku tahu Rianti, aku lemah kamu bahkan malu di sentuh olehku"


Rianti terjebak dengan kata-kata Satria yang mahir membuat Rianti menjadi merasa bersalah. "Maaf sayang" memeluk Satria,


"aku gak bermaksud begitu cuma .."


"Cuma apa?"


*C*uma apa ya


"Cuma malu aja banyak yang lihat sayang"


Dengan satu gerakan tangan Satria, para pelayan dan keamanan pamit menjauh.


Rianti yang membelakangi tidak tahu apa yang terjadi.


"Siapa yang lihat kita?" Satria masih meneruskan dramanya menikmati ketegangan wajah Rianti.


hah dasar, emang gak liat apa banyak sekali orang di belakang kita.


"Hei, jawab pertanyaanku" dengan berusaha menahan gelak tawa sekuat mungkin.


"Lah"


"Tuh kan kamu memang malu disentuh olehku. Kau harus mendapat hukuman Rianti"


Rianti menahan nafas mendapat serangan dari suaminya.


aaaaa


..........


Sementara dua sejoli yang sedang bermesraan di pinggir sungai, Rion datang dengan membawa perintah. "Jangan sampai lengah walaupun kalian di perintah menjauh oleh tuan muda." Tegas Rion kepada tim keamanan.


"Baik tuan."


Rion pun berdiri dari kejauhan, memantau keadaan sekitar. Dia ingat betul apa yang dibicarakan tuan besar tempo hari, bahwa musuh saat ini sangatlah cerdik.


"Rianti, aku tidak mau lagi duduk di kursi roda ini, tolong bantu aku berjalan sampai ke dalam rumah"


"Baiklah, pelan pelan ya. Aku coba bantu kamu untuk berjalan lagi." Rianti memapah tubuh Satria.


"Kamu yang sabar ya punya suami sepertiku." Memandang wajah Rianti yang sedang memapahnya.


"Kamu kenapa sayang, aku benar tidak apa apa kok"


"Oh iya, kalau kita sudah sampai kamar nanti, aku ingin kau ceritakan siapa yang mendonorkan hatinya untukku." Rianti tercekat mendengarnya. sulit untuk di jelaskan kalau sebenarnya Ren yang mendonorkan. untuk saat ini saja satria belum tahu kalau Ren sudah tiada.


"Sayang, kok kamu bengong?"

__ADS_1


"Ehmm, iya sayang nanti aku ceritakan ya, tapi dengan satu syarat."


"Apa itu?"


"Tunggu nanti malam ceritanya, jangan sekarang"


Satria hanya diam, bingung dengan jawaban Rianti. Dia merasa ada sesuatu yang sedang sembunyikan. Tapi apakah ia sanggup kalau nanti tahu kenyataanya, maka dari itu Satria tidak mau membahas nya lagi.


"Baiklah"


..........


Pesan masuk bertubi-tubi, Rianti baru sempat melihatnya. Isinya chat pribadi yang masuk dari Shesil dan Marcel.


Dari shesil


"Ri, aku kesitu sekarang ya. Ada yang mau aku tanyain."


"kamu sibuk y"


"p"


"p"


Dari Marcel


"Rianti, Ren yang donorin hatinya ke Satria?"


Pesan yang to the poin dari Marcel, membuat Rianti gugup untuk membacanya. Tahu dari mana dua manusia ini. Apa mereka mencari tahu soal ini ke keluarga Ren?


Reaksi Rianti dengan berwajah pias membuat Satria merebut ponsel miliknya. Jedug jedug sudah jantung ini melihat ponsel tersebut ditangan Satria.


Tok..tok..tok..


Bunyi ketukan pintu diiringi suara. Selamat sudah nasib Rianti.


"Boleh papah masuk?"


"Masuk aja pah" Satria mempersilahkan.


Derap langkah berwibawa menyusuri kamar, berhenti tepat di samping tempat tidur. Ponsel yang sudah di tangan Satria tapi belum sempat dilihat isinya itu pun dikembalikan kepada yang punya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Semakin hari semakin membaik, berkat cinta yang diberikan Rianti kepadaku"


uwayoooh. Rianti terkekeh


"Terimakasih ya menantu papah yang baik hati dan cantik" tuan besar tergelak bersama Satria.


"Sama-sama pah"


"Oh iya pah, siapa yang mendonorkan hatinya untukku? aku sudah menanyakan pada Rianti, tapi dia bilang tunggu nanti malam, itu artinya hanya papah yang berhak menjelaskan" air muka tuan besar sama, tidak berubah panik. karena ia sudah tahu hal ini akan terjadi.


"Satria..putraku yang sangat aku sayangi


kamu sudah siap jika kuberi tahu?


Bersambung...


Terimakasih like dan komen kalian. Itu sangat berarti untuk author.

__ADS_1


Jangan lupa, bahagia.


__ADS_2