
Aku mencari ke setiap sudut sekolah. Nihil. Tapi pagi tadi Rico jelas-jelas berangkat. Pesan yang kukirimpun tidak dibacanya. Apakah terjadi sesuatu?
aiiissssh!!!! aku bisa gila memikirkannya
Pelajaran usai. Aku bergegas mengambil tas. Berniat untuk pulang. Ketika guru yang mengajar hari itu memanggilku.
"ya pak?" tanyaku sopan
"tolong berikan buku ini pada Rico" Pak guru menyodorkan sebuah buku cukup tebal
"Rico?" tanyaku
"bukankkah kalian dekat?"
Ya Tuhan...betapa malunya aku. apakah seluruh sekolah sudah mengetahui ini? dan aku tidak menyadarinya? naif sekali
.
.
.
Kuketuk pintunrumah Rico. Motornya terparkir rapi di garasi.
Berarti dia ada di rumah
Pintu terbuka. Wajah Rico tampak di balik pintu. Senyumnya segera mengembang begitu melihat kedatanganku.
"kamu membuatku terkejut. kenapa tidak mengirim pesan padaku?" Rico mengajakku masuk ke ruang tengah
Tunggu! ada perempuan disana? siapa dia? kenapa begitu biasa di rumah Rico?
"aku masuk dulu. kalian lanjutkan saja" ucapnya tanpa sedikitpun melihat kearahku. berlalu begitu saja.
"apa yang membuatmu datang?" Rico kembali bertanya
"Pak Hendra memintaku memberikan ini" aku mengeluarkan buku yang dititipkan Pak Hendra tadi
"aah...buku ini. aku lupa" wajah Rico tampak senang
"apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"
"menjelaskan? tentang apa?"
aiiish...kamu ini benar2 bodoh atau pura2 tidak peka sih Rico!
"kenapa kamu tiba2 pulang lebih awal?" tanyaku datar
"oooh itu. aku ada urusan. harus menjemput seseorang"
"oh"
"hanya oh?"
"lalu. apa aku harus berteriak? marah karena tidak satupun pesanku yang kamu balas? tidak satupun panggilan yang kamu jawab? yang benar saja. siapa aku harus sebegitunya padamu?" aku berdiri dan siap untuk pulang
Rico bergegas menyusulku. Bahkan dia tidak berniat menceritakannya? Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka berdua?
"esta tunggu!" Rico menaraik tanganku
"hhm"
"apa kamu marah?" tanyanya dengan suara pelan
"tidak ada gunanya untukku"
"berarti kamu cemburu?"
__ADS_1
",cih...apa aku ini punya waktu senggang melakukan hal itu?"
"ya aku tahu kamu pasti marah saat ini"
"percaya diri sekali kamu"
"kenapa tidak mengakuinya? just say yes"
"lupakan. aku pulang dulu"
.
.
.
Keesokan harinya
Dia bahkan tidak menghubungiku hingga hari ini. Juga tidak menjemputku berangkat bersama ke sekolah.
"apa dia sudah bosan denganku?"
Suara klakson mengejutkanku. Aku berpikir itu adalah Rico. Tapi ternyata aku salah. Rudi yang datang.
"hi Rud" sapaku malas
"kenapa dengan wajahmu? apa belum sarapan? kita perlu makan dulu?" berondongnya dengan wajah cemas
"ayo berangkat"
Sepanjang perjalanan Rudi terus mengoceh. Aku tahu dia melakukannya untuk menghiburku. Bahkan dia tidak tahu pokok permasalahannya. Tapi tetap melakukannya.
.
.
.
Bahkan satu misscall pun tidak ada. Aku benar2 berpikir kalau Rico hilang ditelan bumi.
Menjalani hari seperti biasa. Acuh dengan keadaan. Hanya mementingkan tujuanku.
"apa yang kamu lamunkan?" tanya Rudi mengejutkanku
"tidak" elakku
"cerita saja" desak Rudi sambil meneguk minuman dingin ditangannya
"apa tampak jelas diwajahku?" tanyaku sambil menunjuk wajahku
"apa kalian ada masalah?"
Aaah..pertanyaan ini?
Bahkan aku sendiri tidak tau dimana letak permasalahannya. Apakah aku yang telalu gengsi. Atau memang kami tidak lagi menginginkan satu sama lain.
"lebih baik kamu tanyakan padanya?" saran Rudi
"apakah perlu?"
"bukankah kamu ingin bisa tidur nyenyak?"
Benar juga! Setidaknya aku tidak akan penasaran lagi. Dan bisa tidur lebih nyenyak
"thanks Rud" kutepuk punggung Rudi membuatnya tersedak
"maaf. maaf" aku meminta maaf sesegera mungkin
__ADS_1
"apa kamu mau membunuhku? setelah semua yang aku lakukan?"
"eh?"
"eh? apanya yang eh? kamu tidak menghitung apa yang sudah kulakukan untuk menghiburmu? 3 hari ini?"
"aaaah"
"apanya yang aaah?"
"aku tidak menyangka kamu ini perhitungan. tidak sekalian saja kamu memasang tarif"
"kamu pikir aku apa memasang tarif"
"hey...bagaimana denganmu?" aku mengalihkan pembicaraan.
Aku tau. Rudipun sedang bermasalah dengan pacarnya. kalau tidak. bagaimana bisa dia menemaniku selama tiga hari ini.
"seperti yang kamu pikirkan" jawabnya dengan ekspresi wajah yang berubah drastis
"apa kalian putus?"
"tidak. belum. mungkin menunggu waktu saja"
"kenaoa bisa begitu?"
"keluarganya tidak menyikaiku"
"konyol. bukankah kalian baru pacaran. kedepannya akan seperti apa juga belum tau. bagaimana bisa mereka memutuskan sepertu itu?"
"sudahlah. kamu tidak perlu marah-marah mewakiliku"
"tapi...kenapa kamu hanya diam?"
"diam? siapa yang diam? aku berusaha setiap hari menjelaskan pada orang tuanya"
"lalu?"
"mereka bahkan tidak ingin menemuiku"
"sampai seperti itu"
Ternyata. Dibalik sikapnya terhadapku. Rudi sendiri sedang mempunyai masalahnya sendiri. Bertahanlah Rudi. Aku percaya. Kamu adalah pria baik.
.
.
.
Aku melambaikan tangan. Setelah aku dan Rudi ke pantai sepulang sekolah tadi. Disana kami melepaskan masalah dengan berteriak sekencangnya. Mencoba melawan kerasnya deburan ombak. Yang sudah pasti kamilah yang kalah. Mereka adalah kuasa sang pencipta. Sedangkan kami hanyalah bagian dari ciptaannya.
"baru pulang?"
Sebuah suara mengejutkanku. Hiro! Sejak kapan dia ada di rumah? Bukankah dia akan pergi lebih lama?
"bukan urusanmu" jawabku acuh
"lain kali aku akan memasang gps. agar bisa melacakmu"
"tak bisakah sekali saja. tidak membuat masalah denganku?"
"wo...sepertinya ada yang sedang bertengkar dengan pacarnya. cih...kalian tidak akan bisa bersama".
"jaga bicaramu Hiro. atau aku akan..."
"akan apa?"
__ADS_1
"menghajarmu