Cinta Sejati

Cinta Sejati
Berkunjung


__ADS_3

Udara dingin menerobos masuk ke dalam ruangan, mengusap kulit manja yang sedang tertidur, hingga menggeliat mencari selimut.


*J*am berapa ini.


Waktu menunjukan hampir pagi hari, Rianti menyingkap tirai jendela, terlihat awan mendung yang sudah meneteskan hujan rintik.


*G*erimis ternyata.


Rianti menarik selimut kembali yang tersibak, mengusap kepala suaminya hangat. Ah melow rasanya mengingat kejadian semalam, ketika Satria mengetahui kebenaran.


Satria menggeliat, meletakan tangannya diatas punggung tangan Rianti. Pandangan mereka bertemu, tangannya saling terpaut, menciuminya hingga berulang kali.


"Sayang, aku kan sudah sembuh" Satria berbisik.


"Iya sayang" Rianti sudah membaca situasi, kenapa Satria berusaha sembuh dan kenapa dia membiarkan sentuhan bergerilya. Selama ini dia juga merindukan itu semua, lalu mereka terbenam kembali dalam hanyutan gairah.


Setelah melewati aktifitas membara, awan pun berubah warna. Matahari menerobos melewati jendela kaca, menandakan alam sudah berganti rupa.


Rianti datang membawa nampan berisi potongan buah dan sandwich sayuran. Sarapan sehat untuk energi hari ini, hari dimana mereka akan berziarah ke makam Ren.


"Rianti, kamu tahu kenapa Ren melakukan ini?" Rianti diam, memilih kosakata yang benar untuk diutarakan. Semalam tuan besar hanya memberitahu siapa pendonornya tapi tidak dengan alasannya. Satria terkejut, mengatur nafas serta kesadarannya, tubuhnya limbung terkulai lemas.


"Setelah kecelakaan itu, dia merasa waktunya tak akan lama lagi. Dan berfikir untuk membantumu, memberikan apa yang kamu butuhkan sebagai seorang sahabat dia tak mau kamu tersiksa lagi." Rianti sedikit berbohong dengan tidak menceritakan pernyataan cinta Ren.


"Aku sangat berterimakasih padanya, atas apa yang dia berikan padaku. Namun aku juga sangat terpukul dengan kepergiannya. Seandainya waktu bisa terulang, akan ku ubah sikapku padanya."


"tTdak harus menyesali, dan menunggu waktu terulang. Mulai sekarang kamu bisa kok merubah sikapmu dengan lebih ramah pada semua orang." Menyandarkan kepala di dada bidang satria. Satria mengecup kening Rianti.


Persahabatan adalah sebuah pohon yang meneduhkan. Jadilah sahabat yang selalu memberi tanpa mengingat dan selalu menerima tanpa melupakan.


"Aku tidak menyangka dengan apa yang Ren lakukan. Padahal selama kami bertemu dia selalu menggangguku dengan ocehan yang tak jelas. Bahkan sampai membuatku marah." Menganalisa tentang hubungannya dengan Ren selama ini.


Persahabatan tidak harus saling mengerti, sahabat sejati selalu menerima walaupun dengan hal yang tak dapat dimengerti.


*M*aafkan aku tidak sepenuhnya jujur padamu.


"Aku berharap tidak ada yang di sembunyikan lagi." Imbuh Satria.


Duuuaarr.


Perasaan bersalah semakin menyeruak. Rianti memekik dalam hati, tapi untuk sekarang dia belum memiliki keberanian.


Rianti tersedak.


"Pelan-pelan makannya, nih minum" satria menyodorkan segelas air minum yang sebelumnya sudah di lumuri jejak bibirnya.


"Kenapa? kau tak mau minum bekas ku?" Satria beujar ketika melihat reaksi Rianti yang tak langsung minum melainkan menatap dalam pinggiran gelas yang sudah dikelilingi jejak bibirnya.


Mendapat pertanyaan yang mengandung makna, Rianti Langsung meminumnya.


"Bagus" Satria tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Aktifitas pun sudah selesai, kini saatnya mereka menuju makam Ren, terlintas di benak Rianti ini tidak seburuk yang di bayangkan. Karena dari semalam, Rianti memikirkan bagaimana kondisi suaminya esok hari jika malam ini saja sudah ambruk.


Alam pun tidak setuju dengan pemikiran Rianti, hujan rintik memanaskan kembali ranjang mereka.


Kursi roda tak lagi dipakai, sosok pria tampan dengan balutan jas hitam berdiri kokoh diatas cermin. Memperbaiki tatanan rambut agar tetap terlihat maksimal di depan Rianti.


Rianti mendekat, memeriksa kekurangan dalam tampilan. Melihat dengan jeli dan tak sengaja menyentuh luka sayatan pasca operasi.


"Aww,.. kau menyentuhnya." Tersenyum nakal.


"Maaf sayang, aku tidak sengaja. sakit ya?" *K*ok reaksinya seperti aku menyentuh yang lain saja. eh tunggu, ini Satria kan. aneh sekali jadi lebih santai hehe.


"Kenapa senyum-senyum?" Satria menarik pinggang Rianti, melingkarkan kedua tangannya hingga tubuh mereka semakin dekat. Bukan dekat lagi lebih tepatnya menempel. "Kamu mau lagi?".


"Hentikan sayang, kita sudah di tunggu di bawah."


"Biarlah, aku tidak perduli" Satria meneruskan aksinya. Penampilan yang sudah rapi terpaksa berserak lagi.


*D*ia memanglah Satria.


Pasukan pengawal berdiri setia di halaman utama, menyambut tuan dan nona muda.


Segala persiapan dan cek kondisi keamanan sudah berjalan semestinya.


"Mundur 30 menit lagi" seru sekretaris Rion memberi informasi. Mereka pun tetap pada posisi pendiriannya, setia menunggu.


Tuan dan nyonya besar terkekeh, seperti mengetahui apa yang yang terjadi disana. Saling melirik tatapan, lalu tergelak. Memang begitu, jika satu frekuensi, tanpa bicara apapun saling pandang lalu tergelak.


.


.


Di pemakaman.


"Sayang, lihat deh satria dan Rianti ada di makamnya Ren"


"Waaah iya, ayo cepet kita turun, kita kesana" Marcel berseru sambil cepat membuka pintu mobil.


Marcel dan Shesil memang hendak mengunjungi makam Ren. Pucuk dicinta ulam pun tiba, mereka bertemu Satria dan Rianti. Mereka akan menanyakan perihal pertanyaan mereka yang belum mendapat titik terang.


"Pelan-pelan sayang jalannya" Marcel begitu perhatian, sebab shesil sedang hamil.


"Iya sayang, kasihan baby kita" baby kita? oh my good aku masih gak nyangka sebentar lagi punya baby dengan kak Marcel, upsss suamiku.


Shesil memang sangat ngefans dengan Marcel. Kakak kelas yang keren dan ramah kepada setiap wanita. Tidak peduli cap playboy yang melekat pada diri Marcel. Karena itulah shesil masih tidak menyangka dirinya menikah dengan Marcel yang terkenal playboy telah melabuhkan hati padanya, bahkan sebentar lagi buah hatinya akan lahir.


Masih seperti mimpi.


Sesampainya disana, Satria begitu khidmat. Memanjatkan do'a dan rasa terimakasihnya dalam hati. Dengan ketulusan sebagai sahabat, Satria bisa merasakan sesuatu berharga yang diberikan Ren, dan juga kuasa Tuhan yang memberikan Satria kesempatan hidup.


"Kalian ada disini juga ternyata" Rianti yang membalikan badan melihat pasangan Shesil dan Marcel.

__ADS_1


"Hai ri,, iya nih ternyata kita bisa barengan gini. Padahal kita ga janjian ya hehe" Shesil mencairkan suasana.


"Sat, syukurlah kamu sudah sehat kembali"


Marcel menyapa Satria. Dia merenung lama tak menjawab, memandang Marcel dengan tatapan dalam.


"Ya, aku sangat senang memiliki sahabat seperti kalian." Satria merentangkan tangan, Marcel dengan sigap menyambut pelukan hangat dari Satria.


Rasa haru menyibak siapa saja yang melihatnya. Pertemuan kembali dua sahabat setelah Satria sadar dari koma.


"Sat, seneng banget rasanya liat kamu udah sehat kembali" Marcel menitikan air mata haru.


"Ya, terimakasih atas do'a kalian semua. Aku juga senang bisa kembali sehat seperti ini"


"Sat, tau gak?"


"Apa?"


"Aku terharu banget, panggilan kita so sweet aku kamu. Kita kan gak seperti ini sebelumnya."


"Memangnya kita pakai panggilan apa sebelumnya?"


"Hemm rupanya kamu lupa ya" Marcel menggoda. "Jangan membuatku bingung Marcel. Cepat katakan!" penonton sudah panik karena Satria sudah mulai emosi.


"hahahaha.. aku juga bingung dulu gimana. cuma ngerasa beda aja hari ini." Nyengir tak berdosa.


"Sudah sudah.. kami permisi duluan ya. Ayo sayang kita ke mobil" Rianti menggandeng suaminya agar situasi kondusif. Namun langkah Satria terhenti saat melihat Shesil.


"Kau hamil? Marcel yang menghamilimu?"


Rianti berbisik "Sayang mereka sudah menikah".


"Hei,, Sat sepertinya selain kau tak ingat panggilan kita, kau juga tidak mengingat pernikahanku?"


Satria seperti menggali daya ingatnya, secercah Bola lampu penerang muncul. Dia ingat sesuatu, ya dia sudah mengingatnya.


*Mereka menikah setelah aku, tapi sudah hamil. Aku ingin Riantiku hamil juga*. Batin Satria.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2