Cinta Sejati

Cinta Sejati
tertidur


__ADS_3

Rianti termenung di dalam kamar, Dion sedang di ambil alih mertua dia yang merana. berguling kesana kemari tak tentu arah, melakukan hal yang di rekomendasikan nyonya besar pun malas beranjak. hanya satu yang menjadi pertimbangan, spa mungkin enak pikirnya.


Rianti baru mengerti apa maksud nyonya besar kemarin, setelah mengingat apa yang dilakukan satria semalam. ia membenamkan wajah di bantal. malu sendiri dengan apa yang ia pikirkan.


lama satria tak menyentuh Rianti hingga hasratnya terbendung. semalam bedah tak terkendali. tubuhnya hingga kini masih terasa linu.


ia mengirimkan pesan pada satria untuk perizinan.


"sayang, Dion masih di mamah. aku di suruh bersenang senang saja. apa aku boleh keluar untuk spa?"


"tidak."


"hmm yasudah. padahal aku mau merelaksasi kan otot ku yang menegang karena perbuatan mu semalam." Rianti semakin berani. ia sedikit merajuk karena masih saja ia terjebak persekongkolan suami dan ibu mertua.


padahal bisa kali aku melakukan kewajiban itu tanpa harus mengungsikan Dion. aakkhh aku kangen Dion.


tring... jawaban masuk.


"kamu tetap spa tapi jangan keluar rumah. tunggu sebentar lagi, petugas spa yang akan ke kesana."


"baiklah, setelah itu aku boleh kan ke kantor menemui mu." Rianti mengeluarkan bom atom yang bisa saja percikannya mengenai dirinya sendiri.


pesan itu hanya di baca oleh satria.


Rianti berlalu tinggalkan ponselnya di kamar, ia melihat dari jendela Dion sedang di ajak main di taman. ia setengah berlari ingin melepas rindu pada anaknya.


"hei lihat dion, ada mamah." nyonya besar bicara pada Dion.


"Dion mamah kangen sekali sama kamu." Rianti menggendong putranya.


nyonya besar tersenyum, matanya memandang sang cucu dan menantu yang sedang bersenang ria tapi tidak dengan pikirannya. pikirannya melayang, ia memikirkan cara bagaimana mempersatukan keluarga yang awal pertemuannya sudah tidak baik.


nyonya besar geram dengan apa yang diperbuat Niko. tapi ia tak memungkiri bahwa Niko adalah darah dagingnya sendiri. penderitaan yang selama ini Niko rasakan mungkin tidak sebanding jika ditukar dengan harta dan tahta. kasih sayang lah yang pantas Niko dapat, tapi bagaimana jika ia meminta lebih. meminta kebahagiaan adiknya yang mana sejak kecil satria sudah menderita karena sakit yang menggerogoti.


nyonya besar Tak sanggup akan hal itu.


"mah, mamah kenapa? ada apa?" Rianti cemas melihat nyonya besar menangis. tak terasa air mata jatuh membasahi pipi.


"ga papa sayang." makin sesegukan.


Rianti menaruh Dion dalam stroller. memapah nyonya besar untuk duduk di bangku taman.


"mah, cerita padaku ada apa? jangan ada yang di tutupi." Rianti mengusap punggung nyonya besar agar lebih tenang. tangisnya semakin pecah. memeluk Rianti dengan erat.


setelah lebih tenang, nyonya besar mulai bersuara walaupun tercekat. tapi wajahnya masih terbenam di pelukan Rianti. bajunya sudah basah oleh air mata mertuanya.


"sebenarnya satria punya kakak, kamu punya kakak ipar sayang." Rianti bingung kenapa jika satria punya kakak tapi malah nyonya besar bersedih. apa mungkin mereka beda ibu?


"mamah pernah program kehamilan, menyewa rahim bayaran untuk mengembangkan janinnya. karena kandungan mamah selalu lemah. namun semua tidak sesuai Rencana. wanita itu malah membawa bayi kami pergi."


"kami sudah berusaha mencari, tapi hasilnya nihil. hingga pada akhirnya kami program lagi dan mencoba untuk pasrah pada kandungan mamah. keajaiban terjadi"


"satria berhasil lahir ke dunia ini. walaupun.."

__ADS_1


tangisnya kencang lagi.


Rianti meminta nyonya besar agar tak mengingat ingat masa kepedihan satria. ia memastikan bahwa satria bahagia saat ini.


"Rianti, papah sudah menemukan bayi itu yang kini sudah berusia 29 tahun. dia laki laki."


"syukurlah mah. Rianti senang mendengarnya. oh ya kenapa tidak langsung di tinggal disini saja mah?"


"hari ini dia akan datang, dan tinggal bersama kita."


"waah pasti satria senang dia tidak sendirian lagi. keluarga kita makin lengkap ya mah. oh ya bagaimana kehidupan dia mah setelah terpisah dengan mamah dan papah? namanya siapa?"


nyonya besar menghela nafas, mengumpulkan keberanian.


"kehidupan dia kurang baik. dia tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya."


"kasihan sekali" Rianti sedih.


"dia adalah Niko. orang selalu mengganggumu dan juga satria. dia adalah kakak kandung satria."


Rianti terbelalak tidak percaya, sama sekali tidak percaya itu. nafasnya sulit, pandangannya kabur, kepalanya pusing seperti ingin pingsan saja, tapi tak bisa.


"sayang.." kini nyonya besar yang khawatir.


Rianti diam seribu bahasa. shock. ia berdiri dan menarik stroller Dion.


"mah, Rianti ke dalam dulu ya."


"iya sayang" nyonya besar menatap punggung Rianti di kejauhan yang menghilang di balik pintu.


Rianti terpejam memanjakan tubuh. Dion disampingnya tertidur dengan perut yang sudah kenyang. setiap pijitan yang diberikan membuat Rianti mengantuk. nanti dulu saja masalah yang di depan mata akan dicari solusi. yang penting badan dan pikiran fresh dahulu.


Rianti tertidur pulas, Dion pun demikian. mereka di jaga oleh pelayan wanita. Rianti lupa jika ia sudah menebar janji.


satria di gedung menjulang tinggi lantai teratas nan megah. berdebat kecil dengan sekretaris nya yang suka menggoda. satria merapikan diri setelah Rianti memberi kabar bahwa ia akan menemuinya.


"udah tampan." Marcel menggoda satria yang dari tadi sibuk merapikan diri. entah efek grogi atau apalah satria pun tak membalas pesan istrinya. namun sudah percaya diri bahwa Rianti akan menemuinya.


kenyataanya, Rianti tertidur pulas bersama Dion.


Rianti jam berapa ya kesini. atau kutanyakan saja. ah tidak. lebih baik aku pantau saja di cctv.


satria muram, ada rasa kecewa yang menyeruak menghiasi dinding hati. seketika senyum nya hilang. satria membalikan ponselnya setelah mengetahui Marcel merandai. ia tidak mau Marcel sampai tahu apa yang terjadi. karena kalau sampai ia tahu bisa di pastikan Marcel akan menang jika mengikuti lomba tertawa paling kencang.


kok belum datang ya, padahal aku sengaja berlama disini. Marcel.


Marcel ternyata berharap juga.


waktu terus bergulir, pekerjaan sedikit demi sedikit terselesaikan. Marcel masih tetap berada di ruangan satria, entah apa yang sedang dikerjakan sesungguhnya satria tak meminta bantuan apa apa lagi selepas ia kehilangan senyum.


Marcel menaruh curiga, ia mulai sadar satria diam saja dari siang hari, tidak menggubris marcel yang berkeliaran di ruangan satria. biasanya jika sedang normal, satria akan ngomel tidak karuan.


keberadaan Marcel untuk satria bagai angin yang berhembus. tidak terlihat namun bisa dirasakan.

__ADS_1


hingga pada akhirnya.


di lobi kantor, para karyawan yang melintas teralihkan perhatiannya oleh kedatangan Rianti. orang yang sama pengaruhnya dengan satria di Artha grup. mereka menunduk hormat sekaligus terkagum.


"selamat sore semua" Rianti menyapa dengan senyum yang merekah, penampilannya tidak ubah sama seperti sebelum melahirkan.


"selamat sore juga nona muda dan tuan muda Dion." jawab serempak para karyawan.


Dion yang dalam gendongan Rianti hanya terdiam dengan muka bantal. gemesnya..


Rianti terus melangkah seperti seorang model dengan Dion yang menempel di gendongan depan seperti boneka. satria kecil pertama kalinya menginjakan kaki di gedung pusat Artha grup.


sampai pada depan ruangan, Rianti memberi tahu staff agar bilang pada satria jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya. dengan syarat sang tamu tidak mau memberi tahu nama.


"permisi tuan muda, ada tamu ingin bertemu dengan tuan."


"siapa?"


stafnya hanya terdiam tidak berani mengatakan apapun.


"kau sudah bosan bekerja!" wajah satria tak bersahabat. sedangkan orang yang dihadapannya sudah menciut ketakutan. Rianti yang mendengarkan segera menyudahi.


"tamu nya Dion." Rianti masuk tanpa aba aba. satria terkejut hingga salah tingkah. Marcel pun demikian, terpana dengan kedatangan Rianti.


waah Rianti aura mamah mudanya makin memikat. batin marcel.


Rianti mendekat dan mencium punggung tangan satria, diikuti Dion yang diperagakan oleh Rianti. tangan kecil nya meraih sampai membuat satria gemas. Dion tidak lolos dari serangan ayahnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.bersambung...


__ADS_2