Cinta Sejati

Cinta Sejati
Pertanyaan niko


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 9 pagi.


Niko menampakan gelagat aneh dengan kembali ke rumah secara mengendap-endap. Untuk melancarkan aksinya, ia berkeliling ke taman mencari keberadaan Dion bermain. Langkahnya pelannya menghampiri stroller tidak ada yang mengetahuinya, dan Dion pun sudah berada di tangan Niko.


"Haai keponakan, kena kau ke tangan om kembali hahaha." Niko menjunjung tinggi Dion di atas kepala, Dion tak takut bayi mungil itu malah tertawa gembira.


"Niko sayang.."


Niko menoleh ke arah sumber suara ternyata nyonya besar yang menyapa.


"Kamu ada yang tertinggal? atau ada keperluan lain? kamu sakit nak?" nyonya besar mulai khawatir Niko baru saja dua jam yang lalu pamit untuk pergi ke kantor.


Niko menyapu pandangan ke area sekitar. Seperti sedang mencari jawaban atas pertanyaan di kepalanya.


dimana dia


"Nak, mamah mohon bicaralah pada mamah walaupun satu kata itu sudah membuat mamah bahagia." lirih nyonya besar.


"Membuat bahagia? saya baru menginjakan kaki di rumah ini harus membuat orang bahagia?"


"Sayang, ijinkan mamah menyembuhkan lukamu. Kamu tahu kenapa mamah tidak berpihak padamu?"


Pernyataan nyonya besar memantik perhatian Niko untuk menggali lagi apa maksud dari mamahnya yang telah terpisah sejah bayi.


"Tidak tahu, dan tidak mau tahu. Nyonya besar apakah anda tahu ada sebuah keluarga dengan pengaruh besar seperti sebuah kerajaan. Suatu hari ia kehilangan sesuatu yang berharga namun tidak berusaha mencari sesuatu berharga tersebut dan membiarkannya hilang begitu saja setelah kehadiran yang yang baru, apakah sesuatu itu masih dibilang berharga?"


"Nak, kamu butuh penjelasan dari kami papah dan mamah."


"Cukup, saya yakin kalian juga tidak tahu jawabannya."


"Nak, maafkan papah dan mamah. jika kami meminta penebusan atas kesalahan kami padamu. mamah tidak yakin saat ini."


"Kenapa?" Niko tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Kalian takut kalau satria menderita?" tambahnya lagi.


"Niko mamah tidak mau anak yang manapun menderita. Satria maupun dirimu. percayalah nak kami sangat kehilanganmu saat itu." nyonya besar memeluk Niko tidak peduli atas perlakuan Niko setelahnya. bahkan Dion masih dalam dekapan Niko.


"Kami bersedia memberikan kasih sayang yang selama ini tidak kamu dapatkan sayang." nyonya besar mengeratkan pelukannya dan semakin menangis tersedu.


"Jangan membekukan lagi hati yang sebenarnya sudah ingin mencair. buanglah rasa ego dan kemarahan demi kebahagian dirimu sendiri. Karena saat kau bisa melepaskan itu semua maka pundakmu akan terasa ringan, dan hatimu akan terasa lapang." Rianti datang meraih Dion.


"Aku sedang tidak bicara omong kosong. apa salahnya jika kamu mencoba kak." Rianti tersenyum ia memeluk Dion dengan penuh penghayatan. matanya terpejam memancarkan aura kasih sayang ibu kepada anak.


Sama seperti posisi nyonya besar yang sedang memeluk Niko. putra sulungnya.


Para pelayan dan penjaga yang melihat terharu berdo'a dalam hati masing-masing agar keluarga rumah utama bisa bersatu dalam penuh cinta.


"Aku hanya ingin kamu Rianti." Niko memekik dengan tubuh yang masih di peluk nyonya besar. tangannya masih belum membalas pelukan ibundanya.


"Aku berdo'a agar kamu mendapatkan pendamping yang kamu inginkan. tidak denganku karena aku tak mungkin memiliki dua suami. aku sangat mencintai adikmu, satria."


"Jawab pertanyaanku dengan jujur. maka aku akan mencoba menerima semua ini." Niko menantang


"Alasan kamu mencintai satria apa?"


Rianti tampak diam, mungkinkah ini pertanyaan jebakan. Lebih baik ia berkilah dulu sebentar.


"Kenapa nanya seperti itu?"


"Aku butuh jawaban bukan pertanyaan."


mungkin inilah saatnya aku memberitahu kebenaran yang aku simpan rapat.


"hemm baiklah, aku jawab dengan jujur aku mencintainya karena dia.." kalimatnya menggantung, Rianti ragu akan menyakiti semua.


"Karena apa sayang?" sahut satria yang baru saja datang semakin membuat Rianti gugup. Nyonya besar pun tertegun. Ia melepaskan pelukannya dan penasaran menyimak.

__ADS_1


"Karena..."


Tuan besar datang ikut menyimak. Ada apakah dengan hari ini semua orang berkumpul tanpa rencana. Tuan besar menjaga jarak dan belum diketahui kedatangannya oleh Niko dan nyonya besar. Namun Rianti dan satria sudah melihatnya.


Satria meraih Rianti mendekatkan tubuh mereka tanpa jarak. Di pegangnya pipi Rianti dengan kedua tangannya lalu menatapnya dalam.


"Karena apa?" tanya satria lagi dengan senyum yang manis.


"Karena kamu mengidap psikis dimana kamu hanya bisa menyukai wanita satu kali seumur hidup. orang seperti kamulah yang aku cari selama ini." Rianti menundukkan pandangan.


"Jadi kamu suka dengan penyakitnya.?" ujar niko


"Simpan saja penilaian mu terhadapku" jawab Rianti acuh.


"Kamu takut dengan lelaki normal, suatu saat kamu akan di khianati? bukankah tidak semua orang seperti itu sayang?" Satria mennyusuri wajah istrinya dengan jemari di hadapan keluarganya.


"Cintamu masih bersyarat dan penuh ketakutan" Niko memancing.


Ketika Rianti ingin menampik pernyataan Niko baru saja ia membuka mulut..


"Diam !" Satria setengah berteriak.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2