Cinta Sejati

Cinta Sejati
Mengerikan


__ADS_3

Hari mulai berganti malam, suasana mencekam sudah mulai meremang di telinga. Di tambah hanya ada satu rumah yang mereka tempati ini, lalu sisanya ladang dan peternakan, selebihnya lagi adalah perbukitan dan juga hutan belantara.


Tidak hanya perangai orangnya saja yang mengerikan, Niko hidup lebih mengerikan jauh sebelum ini. Masa kecil yang kelam membuatnya hidup menjadi orang yang tidak memiliki arah. Tumbuh hanya untuk menjadi manusia yang tidak mempunyai perasaan.


Malam yang gelap menyisakan dua manusia dalam satu rumah tanpa adanya tetangga, Rianti menyelimuti tubuh sampai minim oksigen hanya karena susana di luar mencekam.


Auman seperti suara serigala mengusik rungunya, belum lagi lolongan panjang menggonggong di malam yang sunyi ini. Rianti menciut dan semakin mengecil di balik selimut.


Klotak...


apa tuh


Rianti mencoba mengintip ada apa di luar sana, dia membuka tirai jendela lalu seketika diam membeku menahan nafas atas apa yang telah dilihat. Rasa takut yang mengerubungi membuat Rianti harus mencari lelaki yang bernama Niko.


"Kak"


Melongok setiap ruangan yang ada di rumah. Lelaki yang di cari ia temukan di dalam ruangan yang sangat aneh menurutnya.


"Kenapa? kamu butuh apa?"


Niko meneguk sekali lagi minuman yang berwarna kecoklatan. Kemudian dia mendekati Rianti lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Bisa temani aku tidur di kamar kak? aku takut sekali."


Niko tersenyum penuh arti, tidak menjawab iya dan juga menolak. Niko mendaratkan cium di bibir istrinya, sampai deru nafasnya terdengar menggebu-gebu.


Sebagai seorang istri, Rianti tentu mengikuti permainan suaminya. Hingga Niko menuntut lebih haknya sebagai suami. Malam ini, dia bahkan tidak ada waktu untuk berfikir lebih.


Niko semakin tidak terkendali, jam berdetak begitu kencang di tengah kesunyian seolah menjadi saksi malam bersejarah bagi mereka. Rianti mendorong sedikit tubuh Niko agar tidak terlibat lebih jauh.


Tidak disangka, apa yang telah Rianti perbuat mendapat respon yang yang sangat mengerikan. Niko menatap nyalang Rianti dengan manik kelam seperti mengiris.


Bagai pengembara haus menemukan mata air, lalu fatamorgana menghilang. Sudah pasti tatapan yang mendamba berubah seperti tercekik, serat menelan air ludah.


Brakkk....


Rianti, wanita yang pakaiannya sudah tak beraturan, sudah tidak menunjukan fungsinya sebagai pakaian, sedang menatap punggung laki-laki yang lambat laun menghilang di balik tembok.


Rianti menarik nafas dalam.


.............


Salah, pengamatan Rianti salah. Malam yang mencekam dan juga hewan menakutkan di luar bukanlah hal yang menyeramkan, yang paling menakutkan justru sedang berada di dalam rumah, terkurung bersamanya.

__ADS_1


Rianti harus pandai mempelajari bagaimana karakter orang yang telah ia putuskan untuk hidup bersamanya. Sebuah keputusan memang tidak bisa untuk disesali, namun bukan tidak mungkin sebuah keputusan tidak bisa diperbaiki. Tunggu, bahkan Rianti tidak di berikan sebuah pilihan.


Sebagai seorang wanita yang sudah dua kali di paksa menikah bukan kemauannya, Rianti tentu bisa memilah, sikap mana yang bisa dia ambil agar kehidupannya berjalan kondusif. Dia mencobanya pelan-pelan memberikan penjelasan.


Rianti berjalan semakin dekat, lalu terpaku saat sudah berada di samping laki-laki yang telah menghancurkan satu kursi.


Niko mendengus, membuang mukanya kesembarang arah demi tidak bersitatap dengan manik Rianti yang mulai berkabut.


"Kak, bukannya aku tidak mau, tapi memang untuk saat ini tidak bisa. Karena aku sedang berhalangan."


Otot yang mengencang perlahan mengendur. Suara yang memberi penjelasan sudah tidak terdengar lagi kelanjutannya. Niko mengintip keadaan wanita kesayangannya, tubuh mungil itu sudah berbalik arah dengan langkah gontai.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2