
di ruang meja makan.
pemandangan keluarga pecah yang sedang berkumpul terjadi pada saat ini. perumpamaan bagai air dan minyak telah berangsur hilang. sebuah keluarga yang memutuskan untuk sarapan pagi bersama menurunkan ego masing masing.
bisa saja satria meminta untuk sarapan di antarkan ke kamar. tapi, ia ada rencana yang yang harus diutarakan di depan khalayak.
seperti biasa, Niko selalu mengeluarkan kalimat yang memancing keributan. namun pada hari ini satria tidak meladeni dan memilih untuk diam.
ada sedikit guratan kesal pada Niko karena pancingannya tak membuahkan hasil. mereka fokus melahap sarapan masing masing tanpa bersuara.
"mamah senang akhirnya kita bisa berkumpul seperti ini." nyonya besar tersenyum lebar, matanya berbinar memancarkan aura bahagia.
"papah harap kita bisa menerima satu sama lain dan melupakan masa lalu. memang tidak mudah, tapi kita patut untuk mencobanya." tuan besar menambahkan. sebagai orang tua pastilah perdamaian di dalam keluarga yang mereka inginkan.
kini, tuan dan nyonya besar menjadi penengah diantara pertikaian satria dan Niko.
"pah, mah aku mau bicara."
semua orang menoleh pada satria.
"aku dan Rianti akan pindah ke rumah baruku."
Rianti tersenyum lega mendengarnya.
"loh kenapa nak? mamah tidak mau kalian pergi dari sini." nyonya besar menegang.
"apa yang mendasarimu mengambil keputusan ini satria? menghindar kah? aku tidak mengijinkan." sambung tuan besar.
"aku tidak menghindar, aku hanya memberi ruang untuk kakakku Niko mendapatkan apa yang selama ini harus ia terima. kasih sayang papah dan mamah. bukankah kalian sudah terpisah cukup lama?"
"pah, mah jangan khawatirkan aku. aku sudah cukup banyak menerima segalanya dari kalian. kini saat nya aku ingin berbagi dengan kakak."
dengan penuturan satria, kini Niko terlihat dungu setelah apa reaksi yang satria tanggapi dari hasil pancingannya. Niko kalah telak, akal bulus satria memang tidak di ragukan lagi.
sialan. Niko
"kami bisa menyayangi kalian dalam waktu dan tempat bersamaan. tidak usah ada yang pergi dari sini." tegas tuan besar.
"aku mohon pengertian papah." satria menjawab.
"kamu sedang memaksa papah?"
"tidak, aku tidak berani akan hal itu. aku hanya sedang mempermudah papah." jawab satria lagi.
__ADS_1
"Rianti, memang kamu tega tinggalin mamah dan papah?" kini nyonya besar menyerang dari sisi Rianti agar ia bisa membujuk satria. tapi malah ide inilah yang muncul dari pemikiran Rianti.
"aku ikut satria mah, apapun itu keputusannya. karena dia suamiku, aku harus patuh padanya."
"Rianti.." nyonya besar lirih
"sudahlah, aku mengijinkan kalian pergi." tuan besar penuh kecewa.
"pah.."
"biarkan mah, kita harus menghormati keputusan mereka."
semua termenung dengan tatapan mata kosong.
"kali ini, saya yang akan bicara."
Niko membuka suara.
"terimakasih atas apresiasi adik satria. tapi maaf saya tidak bisa menerimanya. keluarga kalian sudah harmonis. saya tidak mau kehadiran saya akan membuat kericuhan. lebih baik saya yang keluar dari rumah ini."
"tidak Niko, kamu tidak akan keluar dari rumah ini. kami tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya." tuan besar menjawab intens.
"Niko anakku, kamu jangan pergi lagi sayang." nyonya besar sudah lemah dan ingin menangis. ia memegang pipi anak sulungnya.
"Rianti, memang dengan keputusan satria kau tidak kasihan?"
"aku tidak akan mengijinkan kalian semua pergi dari rumah ini. maafkan papah satria papah tidak bisa mengijinkan kamu dan Rianti keluar dari rumah."
"tolong perketat penjagaan, jangan biarkan anak anakku keluar dari rumah ini." perintah tuan besar kepada kepala pelayan.
"baik tuan besar."
Niko tersenyum samar, berhasil membalikan situasi.
Niko memang pintar. satria
..........
penghuni rumah utama satu persatu sudah mulai pergi untuk melakukan aktivitas rutin. dan pada hari ini nyonya besar ada kepentingan mendadak yang tidak bisa di tunda. Niko pun sudah pamit untuk ke perusahaan Manggala corp miliknya. tersisalah Rianti dan Dion yang sedang bermain di taman.
"hai Dion ponakan om yang paling ganteng dan pintar."
Rianti terkejut, ia mundur perlahan
__ADS_1
"kakak ipar bukannya tadi sudah berangkat ke kantor. kok balik ke rumah lagi?"
"Rianti, jika satria berangkat ke kantor dan pekerjaannya sudah selesai bukankah ia harus kembali ke rumah lagi."
"mau kemana?" lanjut Niko lagi melihat Rianti sudah akan beranjak pergi.
"mau ke dalam, kamu kalau sedang ingin main dengan Dion aku titip jagain"
"kamu tidak takut kalau aku mencelakai dia.?" Niko sambil mengangkat Dion tinggi. Dion hanya tertawa melihat om nya.
"kalau begitu, berikan Dion padaku !"
"tidak akan." Niko sudah berpura pura lari menculik Dion.
"Niko... berhenti."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.bersambung...
__ADS_1