Cinta Sejati

Cinta Sejati
gengsi


__ADS_3

Sepulang sekolah aku hanya mengunci diri di dalam kamar. Rasanya begitu enggan untuk beraktifitas. Bahkan tidak ada yang berani mengusikku.


Kupandangi layar ponsel. Membaca kembali chat dari Rico. Membuka buka galeri. Melihat kebersamaan kami selama ini.


apakah hanya seperti ini? hanya sampai disini?


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku berjalan enggan. Membuka pintu kamar.


"apa?" tanyaku datar setelah melihat siapa yang mengetuk pintu


"ayo makan" ajak Hiro


"aku tidak lapar" jawabku singkat


"sudah waktunya makan malam"


"aku malas"


"baiklah. akan kubawakan makan malam ke kamarmu" ucap Hiro sambil berlalu


"eh? tunggu!" aku berlari mengejar Hiro. akan tidak baik kalau sampai dia masuk kamarku


Suasana makan malam yang hening. Bahkan pikiranku entah berada dimana sekarang.


"apa sekolahmu lancar?" Hiro memulai pembicaraan


"kenapa menanyakan hal itu?" aku balik bertanya


"bukankah sebentar lagi kamu lulus. jangan terlalu banyak pikiran"


"terimakasih untuk perhatianmu. tapi aku akan jauh lebih senang. kalau kamu tetap dalam porsimu"


.


.


Hari ini Rico berangkat sekolah. Tapi sikapnya sangat biasa. Terlalu biasa menurutku. Kami hanya bicara seperlunya. Aku berharap dia mengerti akan sikapku. Aku sugguh ingin penjelasan tentang perempuan itu.


"maaf tidak menjemputmu" ucap Rico disela pelajaran


"bukan masalah. ada Rudi"


"aku akan mentraktirnya kedepannya"


"tidak perlu repot. urus saja urusanmu sendiri"


Aku menekankan kalimat itu. Agar Rico paham. Aku ingin dia tahu kalau aku sedang marah padanya. Aku....


.


.


Tiga hari sudah. Dan tidak ada penjelasan sama sekali. Aku benar-benar mencapai batasku.


BRAK!!!


Semua mata tertuju padaku. Tiba-tiba aku memukul meja. Kemudian berdiri. Berjalan keluar kelas. Pikiranku benar-benar kacau.

__ADS_1


Aaaah...suasana belakang sekolah yang sepi. Sejenak menyejukkam pikiranku.


Si Rico itu...kenapa tidak peka?


Bahkan sekedar bertanya tentang sikapku saja tidak dia lakukan. Kusandarkan kepalaku sejenak ke dinding. Memejamkan mata. Berharap suasana tidak nyaman ini berakhir.


.


.


*Aaah! aku tertidur!


Tunggu. Apa yang menempel di bibirku?


Begitu lembut


Hey*!


Seketika aku membuka mata. Hembusan nafas yang begitu terasa diwajahku. Mengisyaratkan bahwa ada yang tidak beres. Benar saja!


Seseorang berada sangat dekat denganku. Kedua matanya terpejam. Sementara bibirnya menyentuh bibirku.


Rico!


Aku mendorong tubuh Rico tiba-tiba. Membuatnya terkejut dengan responku.


"aaah..maaf sudah mengejutkanmu" Rico mundur beberapa langkah


"apa...apa yang kamu lakukan?" aku tidak tahu harus berkata apa


"maaf. melihatmu tertidur seperti tadi. aku jadi tidak tahan" wajah Rico bersemu merah


Rico hanya mengangguk tanda dia mengerti. Kemudian berjalan kearahku. Mencondongkan tubuhnya mendekatiku.


Aish...apa yang dia lakukan? wajahku pasti sangat merah sekarang


"kamu...sangat menggemaskan saat marah" bisik Rico ditelingaku


Wajahku sudah pasti semerah tomat sekarang. Bahkan tubuhku seolah mematung dengan sendirinya. Tidak bisa berkata2.


Jadi...selama ini dia tahu?


"ayo kembali ke kelas apa kamu mau tidak dapat nilai hari ini?" Rico berjalan meninggalkanku


"eh? nilai? tunggu aku Rico" panggilku sambil mengejarnya


.


.


.


Tangan Rico meraih tanganku. Melibgkarkannya dipinggannya. Ya. Dia mengantarku pulang sore ini.


"kamu tahu?" Rico memulai pembicaraan


"hm?"


"Rudi menemuiku. dia menceritakan semuanya"

__ADS_1


Apa? Rudi? sungguh ternyata dia bersekutu dengan Rico


Memang tidak ada yang bisa dipercaya daru dua laki2 ini


"kalau ada sesuatu yang menggangu pikiranmu. kamu bisa bertanya langsung padaku"


"eh tidak"


"benarkah?"


"tidak ada. sudab lebih baik sekarang. ini sudah cukup"


Wajah Rico tampak kecewa. Tapi aku tidak mengwrti kenapa. Bukankah aku tidak lagi marah dan menjaga jarak dengannya?


"kamu tidak ingim bertanya tentang Luna?" Rico tampak serius


"Luna?" tanyaku bingung karena tidak merasa kenal dengan nama yang disebutkannya


"perempuan yang kamu lihat di rumahku"


"oooh...tidak"


"benarkah?"


"tadinya ingin tahu. tapi sekarang tidak"


"kenapa?"


"aku percaya padamu"


Rico terdiam. Matanya menatap jauh kedepan. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi tentang perempuan itu. Aku sungguh2 tidak ingin tahu lagi.


"dia cinta pertamaku" Rico memulai kembalu pembicaraan


"apa?!" aku benar2 terkejut mwndengar ucapan Rico


Cinta pertama? lantas kenapa? kalian akan mewujudkannya sekarang? begitukah?


"kenapa kamu mengatakannya padaku?" aku memberanikan diri bertanya


"agarkmu tidak lagi salah paham"


Hei! bukankah dengan ucapanmu aku akane menjadi lebih salah paham?


"dia. lawan jenis pertama yang menarik perhatianku. gadis yang mandiri. ceria. untuk pertama kalinya aku menantikan bertemu dengan seorang gadis. dia Luna"


Aku mendengarkan dengan seksama. Meskipun jantungku berdebar kencang. Ada marah. Iri. Cemburu. Semua bercampur mendai satu.


"saat itu usaiku 9 tahun dan dia 15 tahun. kami bertetangga. keluraga kami sangat dekat. bahkan kami sering belajar bersama"


"apa dia tahu perasaanmu?"


"ya.aku mengungkapkannya. saat itu. betapa polosnya aku"


"benarkah? lalu apa reaksinya?"


"tentu saja dia menertawakanku. bahkan saat itu dia sudah punya pacar"


Maaf....kali ini aku benar2 harus tertawa mendengar cerita ini.

__ADS_1


kamu sangat imut Rico.


__ADS_2