Cinta Sejati

Cinta Sejati
Di gendong kakak


__ADS_3

"Jangan-jangan..." kalimat Rianti menggantung.


"Jangan-jangan apa sayang?"


"Kamu juga tidak tahu kalau kamu di sunat apa tidak, aku dengar dari tadi kamu banyak tidak tahunya." Rianti asal bicara, mulutnya sibuk mengunyah pie apel yang disuapi Niko.


"Haduh, iya juga ya. Kamu mau membantuku kali ini tidak? coba nanti kamu yang cek, Abang kan tidak tahu sayang." Niko memasang wajah serius, bukan lagi tersenyum jahil.


Rasakan, kemakan omongan sendiri kan.


Rianti segera berfikir keras menyiapkan jawaban untuk Niko. Saking sibuknya berfikir, Rianti lupa menelan makanannya yang dari tadi dikunyah terus menerus.


"Rianti, minum dulu sayang." Niko menyodorkan botol minuman. "Sepertinya kamu sedang kesulitan untuk menelan."


"Terimakasih kak."


"Iya, jadi bagaimana? istri Abang mau bantuin gak?"


Masih dibahas aja.


"Masa kakak tidak bisa membedakan?"


"Aku kan banyak tidak tahunya." Niko memasang wajah menyedihkan. "Yasudah jika kamu tidak mau, memang Abang Niko dari masih kecil tidak ada yang peduli. Jadi sudah biasa."


Rianti merasa bersalah "Iya kak, aku bantu."


"Benarkah? terimakasih istriku tersayang." Niko memeluk Rianti dengan senang.


"Kak teruskan ceritamu, aku mau mendengarnya lagi." Pinta Rianti pada Niko, selain untuk mengalihkan perhatian, Rianti juga sudah bersimpati pada cerita kelam suaminya.


Niko mengiyakan permintaan Rianti, terlihat mulut Niko mengecap-ngecap tidak nyaman, seperti ingin melakukan sesuatu. Dengan kondisi seperti ini Niko mengurungkan niat untuk merokok, dia harus bisa menahannya demi Rianti.


"Sebenarnya, wanita itu baik jika aku diam. Hanya saja dia kejam padaku jika aku menanyakan sosok ayah." Tangannya mengepal, urat kesal sudah tampak bergurat. Rianti menepuk-nepuk punggung Niko.

__ADS_1


"Dia menyiksaku jika aku menanyakan siapa ayah ku dan dimana dia, bahkan aku sampai diberi hukuman tidak di beri makan. Dari situlah aku berusaha sendiri untuk bisa mengenyangkan perutku."


"Rianti, aku bahkan tidak diperbolehkan berinteraksi dengan orang lain. Maka dari itu aku di besarkan di tempat seperti ini, tempat dimana jauh dari kehidupan bertetangga."


"Kak, bagaimana jika kakak diam dan tidak menanyakan sosok ayah?"


"Sophia selalu memanjaku, layaknya ibu kandung kepada anaknya. Walaupun aku dilahirkan olehnya, tetap saja aku bukanlah benihnya. Tidak ada ikatan batin diantara kami."


"Aku sempat berfikir, bahwa dia bukanlah ibu kandungku, dan memang ternyata benar."


Niko semakin tidak nyaman.


"Kak kamu kenapa?


"Tidak apa-apa. Sayang kita turun yuk, Abang mau ajak kamu ke perkebunan anggur."


"Ayo"


Sekawanan domba bergerombol menyambut mereka, Rianti melangkah mundur dan berlindung di balik badan kokoh suaminya, Niko tergelak dengan aksi Rianti, rupanya Istrinya itu punya rasa takut juga.


"Rianti, aku percaya jika kamu bersembunyi takut dibelakang ku jika segerombolan serigala yang datang. Ini domba sayang, kamu takut sama domba? hahaha".


"Bukan takut dengan domba, hanya saja dia bergerombol kak bikin aku jadi gimana gitu hehehe, maaf ya aku merepotkan."


"Sini kamu Abang gendong saja, biar kita bisa jalan lagi."


"Iya kak, kamu merunduk biar aku bisa naik."


Rianti menenteng keranjang makanan, lalu naik ke punggung Niko. Mereka meneruskan perjalanan dengan Niko yang terus menertawai Rianti, dia bergumam sendiri.


"Rianti, Abang gak habis pikir sama kamu, sama anak buah mafia kamu berani walau mereka segerombolan. Kayanya kamu punya trauma tersendiri ya tentang perdombaan dan sejenisnya."


"Iya, kok tau hehe. Waktu masih kecil aku pernah dikejar-kejar sama anak kambing, dikira aku induknya."

__ADS_1


"Hahahaha, tenang sayang Abang akan menjagamu disini."


Niko menggendong Rianti sambil membawa sebatang kayu untuk pertahanan dan juga untuk mengarahkan para domba agar menyingkir. Dia sama sekali tidak merasa sedang memikul beban, dia terlihat santai seperti sedang membawa sebuah tas.


"Kak, maaf ya kalau berat."


"Kamu tuh enteng, masih kalah berat sama penderitaan abang Niko."


"Penderitaan masa kecil kamu ya kak?"


"Bukan" Niko mendecih jika diingatkan masa kecil.


"Lalu?"


"Penderitaan saat kita mencintai seseorang dan sangat ingin memilikinya, ternyata dia adalah istri dari adik kandung yang lemah."


"Jika saja dia kuat, aku tidak akan semenderita itu. Rianti, jika masalahnya wanita itu hanya istri orang, aku dengan sangat mudah mengakuisisi. Memang kebiasaanku merebut hak orang lain."


"Kak, kamu gak sejahat itu kok. Kak Niko bukan menderita karena mengalah dengan adik yang lemah, tapi kakak menang dari sebuah pertarungan sesungguhnya. Kak Niko tanpa disadari telah menyayangi Satria."


"Masa sih begitu?" Niko berucap sambil tersenyum, dengan posisi saat ini yang tidak bisa dilihat ekspresinya oleh sang istri.


"Iya kak, kalau menurut aku sih begitu."


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2