Cinta Sejati

Cinta Sejati
Keputusan Rianti


__ADS_3

Pandangan keluarganya sudah memberi aba jika mereka ingin berbicara, Rianti mempersiapkan hati untuk mendengarnya. Apapun itu.


Pikirnya, kesempatan yang bagus pula untuk mengutarakan keinginan. Menyuarakan yang selama ini hanya bergejolak di hati. Diterima atau tidaknya itu urusan nanti.


Langkah kaki mereka terarahkan ke ruang diskusi. Nyonya dan tuan besar berada di sisi Niko, sedangkan Rianti duduk berhadapan dengan mereka. Posisi siap mendengar apa yang akan mereka katakan.


"Rianti.." tuan besar angkat bicara.


Rianti merespon dengan mendongakkan kepala. Menatap lurus dengan wajah hormat.


"Niko akan menikahkan kamu lima bulan lagi"


Sudah tahu, Rianti sudah tahu kalimat ini yang akan dilontarkan. Untungnya dia sudah mempersiapkan jawabannya jauh-jauh hari.


"Pah, Rianti butuh waktu untuk mencintai kak Niko."


"Sayang, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu." Nyonya besar menambahkan. Niko masih diam memperhatikan.


"Tapi mah, kayanya Rianti gak bisa untuk kali ini." Jawab Rianti yakin sontak memicu reaksi bagi mereka yang ingin mendominasi dalam hidup Rianti, hanya untuk kenyamanan masing-masing.


"Keputusannya sudah bulat Rianti, kamu tidak akan bisa menolak. Maaf jika kami memaksamu, semua demi kebaikanmu juga."


kali ini Niko yang berbicara.


"Kebaikan yang mana?" Rianti bertanya. Sungguh serius bertanya dimanakah letak kebaikan tersebut.


"Sayang, Dion dan Alana masih kecil. Butuh sosok figur ayah. Niko yang akan melakukannya." Lirih nyonya besar.


"Nak, bukankah ini juga pesan dari Satria?" tuan besar menambahkan yang membuat Rianti tak bisa menjawab lagi.


Dia tidak membantah juga tidak menyetujui.


..........


Sore hari yang tampak terang, Dion dan Alana asyik bermain sepeda. Dion berperan sebagai tukang ojek online dan Alana sebagai customer.


"Dengan mba Alana? Sesuai aplikasi ya." Dion memasangkan helm pada customer abal-abalnya.


"Iya bang, ayo kita ke pasar."


Alana bergegas naik di depan Dion.


"Alana, duduknya di belakang." Pembicaraan diluar skenario, Dion mengingatkan Alana yang lupa akan perannya.


"Hehe Alana lupa kak, maaf."


Alana duduk menyamping di penyangga besi penumpang belakang. Sambil menenteng tas belanjaan mainannya. Setelah Alana berpegangan pada Dion, dan dirasa sudah aman, Dion melajukan sepeda.


Sepeda berkeliling memutari taman, taman yang sangat luas seperti hamparan hijau. Dalam perjalanan dramanya, Dion dan Alana berbincang layaknya orang dewasa.


"Bang ojek, Alana ke pasar mau beli cumi-cumi."

__ADS_1


siapa yang nanya dia mau beli apa wkwkwk


Dion tertawa dalam hati, adiknya ini belum di tanya sudah menjawab.


"Oh mbak Alana mau masak cumi-cumi ya." Dion menimpali


"Gak juga, orang disuruh mamah."


aiyaiya..aiyaiya..aiyaiya..


Ponsel mainan Alana berdering.


Alana berakting mengangkat teleponnya dan berbicara selayaknya ada lawan bicara di seberang.


"Bang, kita pulang saja yuk."


"Kenapa mbak?"


"Gak jadi ke pasarnya, di suruh pulang sama mamah di suruh berangkat sekolah saja "


"Oh gitu, memang mbak Alana kelas berapa?"


"Kelas nol."


Dion tergelak, begitu juga dengan Alana. Pembicaraan mereka begitu absurd sampai Rianti yang sedang tergores luka, lupa. candaan putra putrinya mampu menyembuhkan seperti salep obat koreng.


dasar,,, ada aja kelakuan bocil.


"Kata aki amadih mah." Jawab Alana.


ya salam, mamang madih kerjaannya


"Oh jadi gitu, kangen gak kalian sama aki Madih?"


"Kangen mah." Jawab mereka kompak.


"Mah ayo kita ke rumah aki sama nenek." rengek Dion yang diikuti Alana.


"Ayo, yaudah kalian siap-siap sana." Jawab Rianti yakin. Tak sadar dia telah mengambil keputusan sendiri.


Keputusan yang akan dia umumkan pada keluarga Satria, ore ini menjadi finalnya. Sebab konferensi sebelumnya hanya berakhir dengan diamnya Rianti. Lalu tuan besar memberi solusi agar Rianti diberi waktu untuk berfikir.


Waktu yang singkat, hanya lima jam Rianti diberi kesempatan.


Kini mereka telah kembali di kursi panas dengan menatap satu sama lain.


"Jadi bagaimana Rianti?" tuan besar membuka obrolan.


"Saya pamit pulang ke rumah orang tua saya." Jawaban yang membuat kaget semua peserta rapat.


"Rianti, gak ada jawaban kaya gitu." Niko sudah frustasi dengan nada tingginya.

__ADS_1


"Nak, mamah gak mau kamu pulang. Rumah kamu disini. Mamah gak mau tahu kamu harus tetap jadi menantu mamah. Gak ada penolakan."


"Mah, Rianti mohon."


"Cukup Rianti."


"Kalau begitu, Rianti akan tetap disini tapi mohon tidak untuk menikah lagi."


"Jika seperti itu lebih baik kamu pulang saja." Jawaban nyonya besar begitu tegar, dan juga cukup mengejutkan.


"Mah" Niko khawatir.


"Kamu pulang saja, tapi tidak dengan Dion dan Alana." Sambung nyonya besar lagi.


Rianti seperti tak bisa bernafas, telinganya mendengung. Punggungnya panas dan pandangannya memutar. Sesak harus dipisahkan dengan seorang anak.


"Bagaimana, kamu mau tetap pulang?" tantang sang ibu mertua.


"Mah, jangan keterlaluan !"


"Siapa yang keterlaluan pah? mamah atau keadaan?"


Perasaan Rianti bukan tergores lagi, tapi tertusuk belati yang menancap. Entah bisa lepas dan sembuh atau tidak, hanya waktu yang bisa menjawab.


"Baiklah, kalau itu sebuah pilihan. Rianti akan menikah dengan kak Niko." Pasrah, Rianti menunduk dalam dengan hati yang tersayat. Nyonya besar menangis sejadinya, memeluk tuan besar dengan makna bahagia ataukah menyesal.


Baik Rianti ataupun nyonya besar, mereka sama-sama terluka karena ego.


"Tolong katakan dimanakah Rianti harus menandatangani ini semua?"


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Warganet : Thor itu si Alana kaya gua aja belum di tanya udah meng jawab.


Author : Sama gua ge, malahan gua kalau di suruh bos, dia belum selesai ngomong gua udah ngedutrun pergi.


Gak lama, gua balik lagi nanya dia nyuruh apa?

__ADS_1


Warganet : hetdah, gua kalo jadi bos lu udah gua gedig.


__ADS_2