
Satria tidak mengijinkan lagi Rianti untuk bekerja. Dia tidak mau lagi kehilangan untuk kedua kalinya, cukuplah kenangan itu menjadi pelajaran agar lebih berhati-hati.
Pada tempo hari, Satria mendapati laporan Artha grup tidak menerima tawaran bekerja sama dengan Manggala corp. Alasannya, dia pun belum menanyakan pada sang istri. karena Rianti lah yang memutuskan kerja sama itu.
"Dia pasti melakukan ini untuk kebaikan Artha grup. Aku yakin itu."
Pada hari ini pun, Marcel yang ditugaskan mengawasi pertambangan sudah kembali ke asal. Membawa laporan yang cukup mengejutkan.
Tok tok tok
"Masuk"
Marcel datang dengan wajah serius. mengguncang udara dalam ruangan sambil menyodorkan map coklat besar.
"Nih, aku punya data ketidakberesan yang kau khawatirkan."
Satria meraih mapnya, membuka lembaran demi lembaran dengan wajah kesal.
"Kurang ajar !"
Anak perusahaan ini mengalami penggelapan dana sebesar Rp. 265.211.890.100 pelakunya tentu CEO dari perusahaan tersebut. Jumlah yang lumayan banyak jika terus di biarkan, terlebih baru 5 bulan lamanya korupsi ini terjadi. Bagaimana jika sama bertahun-tahun?
Kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Orang itu memanfaatkan waktu, ketika keluarga Satria di gencar teror Niko dan juga bersedih dengan keguguran Rianti. Miris! sakitnya tak terlihat ketika di tusuk dari belakang.
"Marcel, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan. Mulai sekarang kau menjadi sekretarisku, aku butuh pendamping. Rion sudah kutugaskan keluar negeri."
"Rianti?"
"Dia sedang mengandung. Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya."
"Apa? jadi Rianti pernah keguguran.?
"Hem"
Satria dan Marcel bicara panjang lebar mengenai apa dialami Satria beberapa bulan terakhir. Marcel geram mendengar penuturan sahabatnya itu, walaupun mereka sering bertengkar karena kejahilan Marcel, tapi jika salah satu dari mereka tersakiti, maka yang satunya akan menggila dan membalas rasa sakit itu.
"Marcel, kau pertemukan aku dengan CEO sialan itu. Aku akan memberi pelajaran untuknya. Setelahnya kau yang urus."
"Ok, jadi bagaimana perkembangan kasus Niko? atau aku juga turun tangan untuk menagkapnya?"
"Tidak usah, orang ku sudah menemukannya dan menjebloskannya kembali pada tempat yang seharusnya."
"Oh ya sat kalo lagi kaya gini, aku ngerasa seperti SMA dulu. hehe iya gak si?"
"klKau Rindu dengan omelanku?"
"Ya sangat Rindu." Marcel memeluk Satria dengan tiba-tiba.
"Hentikan Marcel." Satria mendorong Marcel hingga terjungkal. "Kau gila ya." hardik Satria kesal dengan pemelukan manja yang tiba-tiba.
"Hahaha, hei calon ayah tidak boleh marah."
Cih
...........
__ADS_1
Di rumah utama.
Rianti yang merasa terkurung di kamar mencoba untuk menghirup udara segar di taman. Berjalan santai sambil mengunyah mangga muda, untuk menghilangkan rasa mual.
Tangannya mengusap perut, menyelipkan do'a atas rasa syukur dengan anugerah yang di dapat.
"Tumbuh dengan baik ya nak, mamah akan selalu menjagamu. Semoga kau lahir dengan selamat, sehat, dan tidak kurang satupun."
Semangat baru telah datang. Kini ia telah mengandung pewaris kerajaan bisnis Artha grup. Kehadiran yang di tunggu dengan waktu yang tidak sebentar. Benar kata pepatah, semua akan indah pada waktunya jika sebelumnya mampu untuk bersabar.
"Maaf nona, tuan muda akan segera menjemput nona."
"Memangnya mau kemana?"
"Kita kontrol kandungan kamu sayang." Satria menjawab dalam kejauhan sambil melangkah mengikis jarak, bukan akan segera menjemput, tapi memang ia sudah berada di depan.
"Sayang, kok kamu gak telpon aku?"
"Kenapa memang aku harus menelpon?"
"Ya,, biar aku bisa bersiap sayang"
"Tidak usah, ayo sekarang kita pergi ke rumah sakit"
"Tolong kalian siapkan keperluan Rianti." Perintah Satria pada pelayan.
"Baik tuan muda." Jawab serempak.
Satria menuntun langkah istrinya. Memastikan dengan benar kondisi wanita yang harus dijaga selama hidupnya ini. Bukan lagi tentang cinta dua insan manusia yang sedang dimabuk asmara, tapi lebih dalam dari pada itu.
Langkahnya pun sejajar dengan Rianti. tidak ada lagi perlombaan langkah diantara mereka.
"Hemm"
"Terimakasih atas perhatiannya, kamu sudah meluangkan waktu untuku."
"Ini sudah menjadi tugasku. Sayang, kamu mau aku pindahkan kamar kita ke lantai bawah?" Satria meminta persetujuan atas idenya. Untuk hal ini dia ingin menanyakan dahulu pada Rianti. Sebab jika Rianti tidak nyaman dengan hal ini, maka akan mempengaruhi mood yang senantiasa pada ibu hamil itu akan lebih sensitif.
"Tidak sayang, aku suka kamar kita sekarang. Jangan khawatir, aku tidak akan menaiki tangga." Mengacung jari untuk menyatakan sumpah.
Sejak dinyatakan hamil, Rianti hanya di perbolehkan menggunakan lift.
"Lajukan mobil dengan hati-hati. Minimalisir potensi yang mengakibatkan guncangan." Perintah Satria pada pak sopir.
*G*uncangan ?
Satria masih belum move on dengan kata guncangan gara-gara kegilaan Nabil kemarin. Namun setelah dipikir dengan seksama, Satria tidak akan sanggup jika tidak menyentuh Rianti.
*H*arus berapa lama aku menahan diri.
Satria gelisah, raut wajahnya berubah dan menarik perhatian Rianti.
"Kamu kenapa?"
"Tidak." Satria menolah, mendapati Rianti yang sedang menggigit belimbing wuluh, rupanya buah mangga pun sudah berganti.
__ADS_1
"Hei, kau makan apa itu?" reflek merebut belimbingnya. Rianti kaget dengan sikap tiba-tiba Satria.
"Ini belimbing wuluh. Aku hanya ingin mengalihkan mual ku. Tidak bahaya sayang."
"Benarkah?" Satria mengeluarkan ponsel, mencari informasi di mesin pencarian. Dia bernafas lega dan memberikannya kembali pada Rianti.
Mobil pun sudah berhenti di parkiran rumah sakit.
Satria keluar terlebih dulu, membukakan pintu untuk Rianti.
"Udin nyampe? cepat sekali ya sayang padahal bawa mobilnya pelan." Rianti turun dari mobil, tidak menyadari perkataanya mengandung bahaya.
"Udin? Rianti... jangan macam-macam kau!" bahaya sudah mengintai.
"Oh maaf sayang, di grup chat kami sering menggunakan kata Udin sebagai "udah". bukan maksud lain. Aku kebiasaan bicara seperti itu dengan teman. Maaf" jawabnya lirih.
"Kalau kamu tidak percaya nih lihat grup chat aku." Menyodorkan ponselnya untuk di periksa.
Satria memeriksa dalam diam, dan tidak tanggung-tanggung grupnya pun dihapus.
ah tidak !! Rianti memekik dalam hati.
"Ayo" Satria menuntun Rianti lalu tersenyum penuh kemenangan.
..........
Di dalam ruangan.
Dokter menjelaskan secara terperinci mengenai USG yang sedang berlangsung. Usia kandungannya, dan juga perkembangan janinnya. Mereka sangat bahagia mendengar penjelasan dokter tersebut.
"Dokter, aku mau bertanya tentang satu hal." Satria bertanya, sang dokter mulai cemas, takut tidak bisa menjawabnya.
"Sampai kapan aku harus menahan diri?"
Gubraakkk...
Pertanyaan macam apa itu. Rianti maupun dokter itu pasti sedang tertawa dalam hati. wkwkwkwk.
Dokter itu menjelaskan secara lugas, meyakinkan pada Satria bahwa tidak ada kekhawatiran atas hal itu, selama kondisi Rianti baik baik saja. Satria tersenyum lega sebab terjawab sudah kecemasannya selama ini.
*D*asar kau Nabil.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
semoga berhasil !!