
"Waduh waduh waduh,, ada apakah gerangan?" Madih terpukau dengan kedatangan tim keamanan.
"Maaf tuan, kami diperintahkan tuan muda Satria untuk menjaga keamanan di rumah ini" ujar pengawal dengan sopan.
"Eh bujug, gua di panggil tuan. Hehehe, bentar dulu ya, Po.... Abang... sini dah".
"Ada apa ?" sahut ibu Rianti dari dalam.
"Sini dulu ngapah"
Tidak lama keluarlah ibu dan ayah Rianti.
"Ada apa ini?" ayah Rianti bertanya, pengawal pun menjelaskan maksud kedatangannya. Ayah Rianti hanya manggut setuju.
*J*angan jangan yang baca pesan gua Satria.
"Kalau begitu, masuk saja ke dalam rumah." pinta ibu Rianti, mendengar petir menggelegar pertanda hujan akan turun.
"Kami di luar saja. Terimakasih atas tawarannya."
.................
Malam yang dingin terguyur hujan membuat cerita tersendiri. Air yang jatuh menjadi saksi deretan cerita, canda dan tawa maupun luka.
Hujan tidak selalu memunculkan pelangi. Hujan dimalam hari misalnya, tapi setelahnya kita tertidur berselimutkan mimpi.
Hujan malam ini begitu lebat, diikuti petir menggelegar yang bersahutan. Sosok anak manusia menikmati kesendiriannya diujung ruangan, membuka lembaran kenangan saat bersama mendiang ibunya.
Cih..
Niko mendesah kesal.
Kenangan dengan ibunya bukanlah hal yang menyenangkan. Dibesarkan dengan rasa egois dan ambisi yang tinggi tanpa ada rasa kasih sayang yang semestinya. Niko selama ini merasa, kehadirannya hanya sebuah kesalahan.
Tapi tidak demikian.
"Lapor bos, usaha kita menerobos keamanan keluarga artha grup berjalan mulus, tanpa harus mengusik kelurga..
*P*anggil apa ya ke wanita itu,, salah nyebut bos bisa marah.
"Calon mertua gua, sebut saja itu!"
"Iya bos, tanpa mengusik calon mertua bos untuk memancing agar mereka keluar dari rumahnya. Sekarang kita sudah bisa membobol keamanan disana."
Niko dan anak buah sudah terperangkap sebuah rencana, tanpa mereka menyadarinya.
"Bos, gimana bala tentara kita yang terjebak? urus sekarang atau tunggu ini beres dulu?"
"Urus sekarang, buat pengalihan perhatian"
"Ok bos"
"Wil"
Langkah wily terhenti.
"Gua gak mau ada kata gagal !"
"Baik bos".
Dalam sebuah ikatan hubungan, kepercayaan sangatlah penting. Bisa dari pasangan saling mencintai, partner usaha, maupun anak buah dengan atasan.
__ADS_1
Selama dalam dunia gelap, Niko belum pernah terkhianati oleh orang kepercayaannya. Itulah yang membuatnya selalu sukses dalam menjalankan misi, termasuk sulitnya bertemu dan menangkapnya.
Niko berkutat dengan ponselnya, mencari kata tepat untuk pesan yang akan dikirimkan pada sang pujaan hati. Sampai detik ini, Niko menganggap Rianti hanya miliknya. Walaupun sebenarnya Rianti telah bersuami, dia selalu menepis itu.
Niko mengetik pesan, sudah satu kalimat. ragu dihapus lagi, di ketik lagi. Begitu terus sampai hujan berhenti.
*S*ialan, perasaan ini bikin gua gila.
Ponselnya dibanting, mengacak rambut frustasi. Tidak lama dia mengambil kembali ponselnya, penasaran. Dan pada khirnya Niko memutuskan untuk melakukan panggilan.
"Awas lu gak ngangkat telpon gua! gua banting" Niko menuding benda pipih itu.
Ponsel Rianti berbunyi. Dilihat layar, nomor yang tidak di kenal. Dia melirik Satria yang sedang ada disampingnya, mengerjakan pekerjaan yang selama ini menumpuk. Mereka berdua sedang di ruang kerja Satria.
Yang dilirik menoleh.
"Angkat saja"
"Baiklah" Rianti mengangkat panggilannya, namun tidak ada suara dari seberang.
"Hallo"
Tidak ada sahutan, lama menunggu Rianti bertanya kembali.
"Ini siapa?".
Niko hanya tersenyum, mendengarkan suara Rianti yang entah kenapa merdu di telinganya.
Hatinya berdegup, jiwa mafia nya terguncang. Biasanya menggunakan cara kekerasan untuk mendapatkan sesuatu. Kali ini...hemm Niko pun geli dengan sikapnya.
*M*enjijikan sekali.. gimana bisa gua denger suara perempuan rasanya kaya abis ngalahin musuh.
"Hallo juga"
"Lu gak perlu tau siapa gua, yang pasti gua cuma mau ngasih tau sebentar lagi lu akan jadi milik gua".
Deg.. Rianti kaget. Dia langsung melempar ponselnya ke sofa.
"Kenapa sayang? siapa yang yang menelponmu?"
"Niko"
Air muka satria berubah, ia terlihat sangat marah. Beraninya mengganggu wanita yang sangat dicintainya itu.
Satria mematahkan kartu SIM card Rianti, tanpa aba aba.
Rianti tidak protes dengan aksi suaminya, karena ia pun sangat jengkel dengan kelakuan Niko. Malah, Rianti terlihat menyunggingkan senyum.
"Kenapa senyum-senyum! senang di telpon bedebah itu!"
Rianti tidak bisa menahan gelak tawa.
"Beraninya kau menertawakan ku" Satria sangat marah, menggebu gebu.
"Kau cemburu sayang?" mengecup sebentar bibir suaminya yang mulai meradang.
"Aku kan gak jawab pembicaraannya sayang...
hemmphh..Rianti mendapat serangan dari Satria.
Rianti merasakan Satria masih penuh amarah dengan nafas yang memburu. Namun perlahan kecupan itu berubah menjadi lembut.
__ADS_1
"Maaf sayang, bibirmu sakit ya" menyusuri garis bibir Rianti dengan jemarinya. Khawatir ada luka. Dia baru sadar telah kasar dengan Rianti karena tak dapat menahan emosi.
"Gapapa kok sayang, aku yang harusnya minta maaf. Habisnya aku senang sekali melihat kamu cemburu". Rianti nguyel-nguyel pipi. Sebagai seorang istri ia hanya ingin melayani suami dengan baik, walaupun itu sakit, dia tetap menahannya.
*A*ku malah pengen lagi ciuman cemburu tadi wkwkwk. eh apa sih aku ini.
"Sayang, kita kan memang sedang mancing Niko biar bisa keluar dari persembunyiannya, dan umpannya itu adalah aku."
"Iya, aku juga berfikir begitu. Tapi aku tidak bisa menahan rasa kesal. Maafkan aku yang belum bisa mengendalikan diri."
"Aku mengerti sayang, sebenarnya aku juga males walau cuma melihat wajahnya saja. Apalagi harus berbicara dengannya."
Satria berlalu, mengambil obat dari kotak P3K.
Rianti yang merasa bibirnya berdenyut, mengerutkan pipinya berulang kali. Meraba bibirnya yang ternyata sedikit membengkak.
"Sini" perintah Satria agar mendekat. Dia mengoleskan obat pada Rianti, dengan hati hati dan penuh rasa bersalah.
*M*aafkan aku.
Satria menggendong Rianti menuju kamar. padahal Rianti memiliki cukup tenaga untuk berjalan. karena yang sakit bukan terletak pada kakinya.
"Sayang aku bisa jalan sendiri, turunkan aku"
"kamu tidak mau aku gendong?" Satria muram. Walau begitu ia tetap tidak menurunkan gendongannya.
"Bukan gitu, aku jadi merepotkanmu sayang, aku kan berat." Rianti yang merasa tidak enak hati takut salah pengartian, memilih diam dalam gendongan dan tangannya mengelus dada bidang suaminya, tanpa sadar.
Setibanya di kamar, Satria menurunkan Rianti diatas kasur. Lalu membuka membuka baju nya hingga menampakan dada bidang, dengan perawakan sempurna.
"Tubuh ini hanya milikmu Rianti, kau boleh menyentuhnya sesukamu." meletakan tangan Rianti diatas dada nya. Entah karena apa Rianti merasa sekujur tubuhnya gemetar.
Lagi-lagi, pekerjaan yang sudah menumpuk bertambah tumpuk. Satria tidak bisa bekerja jika ada Rianti disampingnya. Selalu saja tidak fokus dan ada saja yang terjadi yang berakhir di dalam kamar.
Bagaimana Satria mau mengabulkan rengekan Rianti yang ingin menjadi sekretaris pribadinya. kalau begini saja sudah membuatnya tidak bisa bekerja.
..........
Sementara itu.
Niko tersenyum dengan aksinya barusan. seperti bocah yang sedang jatuh cinta, meneror targetnya lewat telepon. Setidaknya ia merasa cara nya lebih keren daripada mengetikan pesan "hai, lagi apa, udah makan belum?".
Niko senyumg-senyum sendiri.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
.
Beberapa hari belakangan, author merasa kurang sehat. pala pusing, mual, badan lemas. Sudah periksa ke dokter, katanya aku sehat, tapi kurang bahagia.
__ADS_1
Jadi untuk pembaca, jangan lupa bahagia !