
Satria memberikan ruang untuk Rianti melepas rindu bersama keluarga. Dia lantas pergi menikmati buah potong di halaman belakang, dengan kursi santai kesukaannya di samping kolam renang.
"Panggil pengawal baru itu menemuiku." Perintah Satria pada pelayan di belakangnya.
"Baik tuan muda."
Satria tahu akan kejadian kecil yang menimpa keluarga Rianti. Dia sangat tidak enak hati masih ada saja orang yang memandang dari penampilan fisik yang bekerja dengannya. Sebenarnya penjaga tersebut tidak mengeluarkan kata yang tidak sopan. Hanya saja meragukan lewat sorot matanya.
Dedikasi yang tinggi akan etika dan norma sangat diterapkan di peraturan Artha grup. Walaupun kadang dia seenaknya bicara, tapi ia adalah orang yang tidak membedakan status.
Pengawal sudah menghadap. Harusnya tugas ini biasa dikerjakan oleh Rion. Apa daya Rion sudah tidak ada disini.
Satria dengan tegas menjabarkan apa arti etika, disiplin dan nangan memandang rendah orang lain. Karena kita tidak tau kedepannya akan bagaimana.
Dari kejauhan Madih melihat pengawal yang tadi menahannya. Dia pun menyeringai.
"Baha rasain dah Luh. Pasti diomelin sama keponakan gua yang paling ganteng." gumam Madih.
"Silahkan kembali ke pekerjaanmu."
"Baik tuan muda, terimakasih atas kebaikan anda. Saya permisi."
.........
Rianti yang sedang asyik mengobrol dengan keluarganya membuat dia lupa dengan keadaan Satria. Baru teringat ketika tuan besar menyebut namanya dalam pembicaraan.
dimana suamiku.
Dia lantas mencari keberadaan Satria lalu pamit untuk keluar dari perbincangan hangat keluarga.
Rianti menyusuri setiap ruangan, perpustakaan pribadi tidak ada, kamar tidak ada, ruang kerja tidak. Lalu dimana? dia menemukan seseorang yang dirindukan itu berada di tepi kolam renang.
"Sayang" Rianti memanggil.
"Kamu kenapa kesini? bukannya sedang bersenda gurau melepas kerinduan pada keluargamu? tanya Satria
"Aku hanya ingin memastikan keberadaanmu saja. Soalnya aku tidak melihat kamu di dalam." Belum sampai Satria menjawab lagi, Rianti lantas mual, berlari menuju wastafel terdekat.
Satria yang melihatnya panik. Dia mengusap punggung istrinya dengan cemas. Lalu memberi perintah untuk memanggil dokter keluarga.
"Sayang tidak perlu. Aku baik-baik saja. Tolong ambilkan saja buah belimbing ku di kulkas." meminta camilannya jika sedang mual.
"Kau yakin?" Satria semakin khawatir.
"Iya sayang."
tadi aku rindu sekali, sekarang aku ingin sekali menjauh darinya. sebaiknya aku kedalam saja.
__ADS_1
"Sayang, maaf aku ke dalam lagi ya. kamu disini saja hehe." Tersenyum jenaka yang membuat Satria gemas.
"Sini dulu." perintah Satria yang tidak membiarkan Rianti lolos begitu saja. Rianti mendekat dengan segenap menahan rasa mual.
Satria melingkarkan cincin di jari manis Rianti.
"Selamat anniversary pernikahan kita sayang. aku mencintaimu " entah sudah yang ke berapa Satria mengucap kalimat cinta, yang berawal dari kata pembawa sial.
Rianti terpana, kok bisa dia lupa hari ini adalah anniversary pernikahan nya. sebenarnya, hari ini Satria akan mengajak Rianti untuk berjalan jalan. Tapi rencana berkata lain. Mereka kedatangan keluarga Rianti.
"Sayang.." matanya berbinar, terharu.
"Terimakasih hadiahnya, selamat hari anniversary untuk kamu juga." Satria tersenyum mendengarnya , namun bermakna ada yang diinginkan lebih. Rianti menyadari itu.
bodoh sekali kau Rianti. tidak bisakah kau belajar dari pengalaman, ketika satria ulang tahun. pasti dia sedang meminta hadiah juga dariku. aku tidak ada persiapan, ingat pun tidak hari ini hari apa. dasar.. aku tidak berbakat sebagai pengingat tanggal. Rianti merutuki dirinya sendiri.
"Sayang, aku juga ada hadiah untukmu." Rianti berucap sambil berfikir keras hadiah apa yang akan di berikan pada Satria.
"Tidak usah, pasti kau sedang bingung mencari benda yang akan di berikan padaku." senyum Satria semakin mengejek. Dia seolah tau apa yang ada di kepala Rianti.
Rianti tercekat, seperti sulit untuk menelan ludah. Matanya membulat sempurna. sesempurna rasa malu nya saat ini.
Satria masih memegang jemari Rianti, menc*umnya dengan penghayatan, matanya terpejam sedang merasakan aura bahagia.
"Terimakasih kau sudah mau mengandung anakku." Satria berbisik.
Rianti sudah membuka mulutnya untuk berbicara. Namun telunjuk Satria menahannya. Dengarlah bisikanku selanjutnya aku belum selesai, seperti itu mungkin maksud dari sorotan mata.
Rianti terpingkal mendengar bisikan setelahnya.
aku bekukan lagi coklat yang meleleh tadi. batin Rianti.
Dari kejauhan, Madih memeluk pohon sambil memegangi pancing. Dia bahkan tidak menyadari talinya sudah putus dengan mata kail. Bukan karena berontakan ikan yang tersangkut, tapi karena terlilit dengan tumbuhan jalar di pinggiran. Dia terus saja menarik narik pancingnya.
Pandangannya tidak lepas dari dua insan yang sedang di mabuk asmara. Sambil cengengesan dengan ocehan yang tidak jelas.
"Gurih amat ya kalo punya demenan mah, ya ampun dah ponakan jadi bikin iri aja, siang siang ge." masih terus memeluk pohon.
"Eh bujug, genengan pancingan gua putus inih." Madih baru menyadari.
"Angguran gua kesono aja ah, lapar bangat perut."
Pelayan wanita yang mengikuti Madih terkekeh dalam hati. Mereka menuju ke dalam rumah, karena sudah masuk jam makan siang.
...........
Di ruang makan.
__ADS_1
Berbagai menu makanan terhidang di atas meja. semuanya sangat menggugah selera. para koki sudah bekerja keras hari ini, mereka menyajikan banyak menu dari dua selera makan yang berbeda.
semoga si Madih gak bikin ulah. batin ayah dan ibu Rianti.
"Banyak banget makanannya, Ampe bingung ini saya mau makan yang mana." Madih terpukau, malu juga kalau harus ngambil banyak.
"Pak madih, semuanya aja coba. Tuh ada sate ayam, soto daging, gado gado semur jengkol dan lainnya uhh mantap ada sambalnya juga nih lalapan juga ada. Apa mau ini?" nyonya besar menunjuk steak daging, salad sayur, sup labu kuning dan berbagai makanan appetizer, main course dan dessert.
aduh gua kagak ngarti itu mah.
"Maaf, saya tidak ngarti makanan yang itu. hehe"
Semua tergelak.
"Mah, itu apa? papah baru liat." tuan besar bertanya pada istrinya. Karena nyonya besar sedang mengangkat menu lalapan yang ditujukan untuk Madih.
"Ini.. " berpikir sebentar. karena lupa padahal sebenarnya sudah tau.
"Oh ini namanya petai pah."
"Oh papah baru tahu."
"Oh iya pak madih cobain aja yang ini siapa tahu pak madih suka." nyonya besar masih merayu.
"Iya Bu, abis ini nanti saya cobain."
Tidak seperti yang ada dalam pikiran ayah dan ibu Rianti. Madih makan tidak biasanya seperti di rumah. Belajar dari mana dirinya? memakai sendok diiringi garpu dengan tertib, tanpa ocehan yang dapat membuat makannya berantakan.
*P*asti Abang Ama mpo lagi ketakutan gua malu maluin. hahai dia ga tau aja gua semalem belajar jadi orang kaya sama si Emen.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...