
Di setiap kehidupan selalu ada rintangan, bagaimana kita bisa melewati entah menjadi pelajaran berharga atau menjadi sebuah tragedi. Yang pasti, diam menahan diri jauh lebih baik daripada bertindak yang suatu saat akan kita sesali.
Takdir memang tidak ada yang tahu, jika dirasa sedih yang menyambut biarkanlah waktu yang menghapus. Namun, jika terasa senang yang terukir biarkan juga waktu yang mengabadikannya.
Karena waktu akan terus berlalu.
Sudah dua bulan lamanya Rianti dalam kesendirian. Aktifitasnya sudah normal kembali, mengerahkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan Artha grup.
Saat ini, Rianti bisa bernafas lega. Niko yang dahulu membatu tak ingin terjun dalam bisinis orang tuanya, kini dialah pemimpin yang menggantikan adiknya. Tugas berat sudah beralih di tangan Niko.
Bukan tanpa sebab Niko mengambil keputusan ini. Alasan kasihan pada Rianti lah yang mendorong Niko untuk melakukan hal yang tidak diinginkan, rela melepaskan kebebasannya demi meringankan beban orang lain.
"Kali ini gua yang bayar."
Menepis tangan Rianti yang sudah menyodorkan kartu.
"Gak usah kak, aku aja."
Rianti tetap bersikukuh. Dia masih ragu sampai saat ini.
"Ini uang halal, sekarang kan gua udah ke Artha grup. Lu gak usah ragu lagi haram apa gak nya." Kalimat telak menghujam, memang benar adanya Rianti selama ini meragukan. Tidak pernah mau jika apa-apa harus di bayarkan Niko. Apalagi dia harus menerima tawaran uang jajan dari Niko, tidak akan diterima olehnya.
Usaha yang dilakoni Niko kelabu bagi Rianti. Saat menyelidiki Manggala dulu, dia banyak menemukan kejanggalan yang mengharuskannya hilang kepercayaan pada jati diri Niko.
Walaupun Niko sudah berubah, tetap saja dirinya masing berkecimpung di dunia gelap.
Niko menatap kesal, baru kali ini diperlakukan seperti tak berdaya atas tanggung jawab. Dari sisi keuangan dan juga keamanan, Niko selalu kalah telak.
"Kak, ayo pergi mau sampai kapan berdiri disitu?"
Rianti sampai harus menarik ujung lengan jas yang Niko pakai. Mendapati Niko yang masih saja diam tak bergeming meratapi sikap Rianti terhadapnya.
Tidak dipungkiri, setiap langkah Rianti yang hampa Niko selalu berada disampingnya. Rianti tak menggubris dan juga tidak menolak kehadiran Niko. Dia biarkan semua berjalan sesuai alur kehidupan.
Di sepanjang perjalanan pulang, Rianti dan Niko tak berbicara satu sama lain.
__ADS_1
...........
Rianti memasuki kamar, melihat pemandangan ibunya yang sedang membereskan pakaian ke dalam tas. Sudah saatnya ibu Rianti balik ke rumah setelah dirasa putrinya sudah tak lagi bersedih.
"Neng, gapapa kan emak balik? udah bisa ditinggal kan ya. Nanti main atuh ke rumah kalau kangen."
"Iya Mak, kasihan emak kelamaan disini. Tapi.." kalimatnya menggantung.
"Tapi apa?"
"Neng ikut balik ya Mak"
Matanya berbinar penuh harap. Walaupun dia tahu tidak akan semudah itu ibunya menjawab iya.
Ibu Rianti terdiam sebentar, memilih jawaban yang akan di terima oleh anaknya.
"Neng, emak gak bisa jawab apa-apa sekarang. Emak tahu neng status sekarang kaya gimana. Tapi kan semua butuh proses. Coba di omongin dulu sama mertua neng, gimana pun neng datang kesini baik-baik begitu juga dengan pulangnya."
"Kalau mertua neng udah setuju neng balik ke rumah. Emak sama bapak mah siap menyambut. Nanti bapak yang jemput kesini."
"Yasudah Mak, gimana nanti aja"
pasrah, Rianti sudah pasrah.
Dia ikut membereskan barang ibu Rianti, menyelipkan amplop coklat lumayan tebal dalam tumpukan pakaian. Dirasa sudah beres semua, mereka ke depan rumah menuju mobil yang akan mengantar ibunya.
Disana, sudah ada tuan dan nyonya besar dan juga Niko. Mengantar kepulangan besan dan juga calon mertua bagi anak sulungnya.
"Terimakasih banyak sudah mau menginap disini menemani kami." Lirih nyonya besar yang disertai anggukan kepala suaminya.
"Iya sama-sama, terimakasih juga atas..
Nyonya besar memeluk ibu Rianti. Tidak membiarkannya melanjutkan kalimat sampai tuntas.
"Hanya kami yang pantas mengucapkan terimakasih. Uang sebesar apapun tidak akan bisa menebus kasih sayang yang tulus dan perhatian dikala masa sulit seperti ini. Saya yang lemah ini tidak sanggup menemani Rianti dan memberi kekuatan padanya."
__ADS_1
Lidah terasa kelu, tidak mampu menjawab penuturan mertua anaknya. Bukan barisan orang pandai bertutur kata bukan juga seorang pujangga. Lidahnya teramat kaku.
Giliran Rianti yang memeluk ibunya dan berbisik mengucapkan sepatah kata.
"Mak"
"Hati-hati"
"Iya neng." ibu Rianti menjawab diikuti langkah menuju mobil. Rianti pun demikian, langkah ambigunya membuat nyonya besar dan Niko menahan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Di dalam mobil, ibu Rianti memikirkan kejadian pamitan tadi. Ketika tangan nyonya besar mencekal lengan Rianti dan Niko maju selangkah, saat Rianti melangkah ke mobil yang menimbulkan spekulasi lain.
maafkan emak, sebenarnya emak tau neng mau di jodohin sama abangnya Satria.
Warganet : Thor?
Author : apa?
Warganet : jangan lupa bahagia
Author : kata-kata gua itu
__ADS_1