
Dokter di panggil, Ren mulai memejamkan mata. Dan tak bersua lagi. Disitulah Rianti mulai panik.
Segala upaya telah di lakukan, dokter terbaik pun dikerahkan oleh tuan besar, begitu juga dengan orang tua Ren, yang tak hentinya memanjatkan do'a.
Secercah harapan itu datang, Ren membuka matanya, sedikit patah kata dia ingin berucap.
Orang tua Ren menghampiri, begitu juga dengan Tuan besar dan Rianti.
"Jangan sedih, do'akan aku" Ren terbata.
"Ren"
"Ren"
"Ren....
Semua orang di ruangan itu memanggilnya, tidak ada sahutan. Rianti mundur beberapa langkah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Menggeleng tak percaya.
..........
Suasana masih berkabung, pemakaman Ren telah usai, tinggalah beberapa orang disana menatap pusara, dan memanjatkan do'a di hati masing masing.
Shesil, Marcel, Nabil, Galang, merasakan begitu kehilangan sahabat yang selama ini sudah lama terjalin, walaupun di detik hayatnya masih menyisakan citra buruk dan tanda tanya. Tapi tidak dengan Rianti. Dia berdiri disana dengan sudah mengetahui kebenarannya.
"Semuanya, aku duluan ya
mau ke rumah sakit"
"Iya, Ri kasihan Satria pasti butuh kamu" jawab Marcel.
"Aku dan shesil nanti jenguk Satria."
"Iya, terimakasih."
Mobil hitam melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Pandangan Rianti menampar nanar jendela mobil.
..........
Operasi berjalan dengan baik.
"Sayang, Satria sudah mulai membaik kondisinya" nyonya besar memeluk Rianti begitu tau ia datang.
"Syukurlah, salam dan juga permintaan maaf mamah karena tidak bisa hadir sudah aku sampaikan ke keluarga Ren. mereka pun mengerti."
"Terimakasih sayang, mamah bahkan tidak bisa berkata lagi dengan semua ini."
"Iya mah"
.........
Tibalah saatnya,
Satria sadar dari koma. Hari itu adalah hari yang sangat dinantikan.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga Artha grup, sejumlah hadiah atas rasa syukur di alokasikan ke sejumlah panti asuhan, dan juga panti jompo. Agar mereka turut merasakan kebahagian.
__ADS_1
Penerus Artha grup telah kembali.
"Rianti, kau kenapa menatapku seperti itu? hei.." seru Satria masih diatas ranjang rumah sakitnya.
Aku ingin menangis....aku bahagia sekali ternyata Satriaku telah kembali. dan juga sama seperti dulu.
"Senyam senyum sendiri... sini ! mendekatlah"
*A*aaaaaaa
Rianti berhambur, dengan sangat hati-hati ia mendekati suaminya.
"Sayang, aku Rindu" menci*m tangan Satria dengan penghayatan tinggi,
"Lain kali kamu kalau menghadapi suatu masalah jangan sendiri ya, inget jangan sendiri" Rianti mengoceh dengan mata masih terpejam dan pipi yang menempel di punggung tangan satria.
"Kau kenapa, memangnya ada apa denganku eh tunggu bukankah kita sedang liburan?" bertanya keherananan.
"Rianti,, istriku.. coba jelaskan apa yang terjadi"
Rianti menjelaskan panjang lebar, rentetan kejadian di masa lalu, yang mana seorang pria datang mengacaukan bahtera rumah tangga. Satria mengerutkan dahi, mungkin sedikit demi sedikit dia mengingatnya.
Penjelasan pun terhenti sampai dia koma, dan siapa yang mendonorkan hatinya. kabar kepergian Ren pun dia belum sanggup untuk menyampaikan. Semua ini masih di tutup rapat hingga waktunya tepat.
Satria mengecup lama kening Rianti.
"Aku juga Rindu sekali denganmu istriku, aku sangat berterimakasih kepada orang yang sudah mendonorkan hati nya untukku, dan juga tuhan yang sudah memberikanku kesempatan dan waktu yang lebih lama lagi untuk bisa bersamamu. Akuu tidak peduli dengan pria lancang itu mulai sekarang."
Sayangnya...
Dari kejauhan Niko memantau karena sudah memasang alat penyadap. Sungguh sangat pintar sekali menerobos keamanan Artha grup.
..........
"Mpok, si Rianti Geneng udah lama kagak maen kesini ya?" Madih berujar sambil membelah kayu.
"Tuh bocah sehat apa ora ya, tumbenan udah berapa bulan kaga kemarih."
"Lagi sibuk kali dih, mpok lagi telponan sama dia sehat kok" sahut ibu Rianti yang sedang menjemur baju.
"Iya kali ya, iya dah orang kaya sibuk bangat.
oh iya po, ngomong-ngomong mpok nyangka gak si bisa besanan sama orang kaya, rumahnya gede bangat lagi kaya istana, kalah dah kebon engkong Ja'i mah, kaga ge seujung kukunya acan."
"Husss, lu ngomong apa bae dih, angguran mandi Sono kalo udah selesai pegawean lu"
"Yah elah mpo asal anu ge, di ajak kongko nyuruhnya mandi." Eh iya, si Rianti nikah udah berapa taun belom juga punya anak ya"
"Dih, perkara itu mah emang belum di kasih aja. lagian kan mereka juga masih pada muda."
Sebuah pernikahan memang selalu ada cobaan. ada yang punya anak cepat tapi punya mertua kurang baik, ada yang mertua baik anak juga punya iparnya kurang baik, mertua baik ipar baik punya anak, perekonomiannya kurang baik. Ada pula segalanya baik tapi belum dikasih buah hati.
Jangan menanyakan kapan punya anak kepada orang yang sedang menantinya. Percayalah, perkataanmu bagaikan menabur air garam pada luka yang menganga. Sakit tak berdarah.
Sampai tak sadar air mata jatuh berderai. karena dibaliknya, ada perjuangan, waktu tenaga, materi dan juga air mata.
__ADS_1
"Iya si po, cuma saya mah kesian aja
apan lakinya sakit-sakitan."
"Kita berdo'a aja dih buat keluarga kita yang terbaik, lu dari tadi jangan ngoceh mulu.
Jangan lupa mandi biar ada perempuan yang demen.
"Heemm udah mandi lagi ajah, sekali-sekali apa pok, dih jangan lupa makan. Begitu...kan kita resep bangat dengernya"
"Segala jangan lupa makan, lu makan dari tadi udah 3 kali dih" ibu Rianti selesai menjemur baju lalu membawa ember kosong ke dalam rumah.
"Hehe iya ya"
..........
Sementara itu di gedung Artha grup,
Tuan besar mengumpulkan anak buah terbaiknya, tak luput juga dengan Rion
sekretaris pribadi tuan muda Satria yang lama tak melayani tuan mudanya. Selama Satria terbaring, dia ditugaskan untuk membantu tuan besar dalam memimpin Artha grup.
Kini, tuan muda telah kembali.
"Rion, sebelum kau ku tugaskan kembali menjadi sekretaris putraku, aku ingin kau pastikan dengan benar keamanan di sekitar.
Aku tidak mau kejadian ini terulang kembali"
"Baik tuan besar, saya akan lebih berhati-hati"
"Dan...aku diberi tahu oleh Rianti
bahwa dia menemukan alat penyadap di sekitar Ruangan Satria di rawat." air muka Rion berubah, terkejut.
"Pasti kau tidak percaya" tuan besar menyesap kopi dengan melirik kegelisahan Rion.
"Rianti menemukannya terlambat, beberapa percakapan sudah diketahui seseorang disana" Rion nampak pucat pasi mendengar penuturan tuan besar.
Tuk...tuk..tuk..
Suara ketukan jemari tuan besar memenuhi ruangan.
"Kau tahu kan, itu artinya
orang itu sangat pintar dan berbahaya".
"Iya tuan besar, saya juga sudah mendapat informasi tentang pria itu. Ini datanya" Rion menyerahkan amplop coklat.
Tuan besar membuka amplopnya, membaca satu persatu dengan teliti.
"Kau yakin dengan tempat dan tanggal lahir ini?"
"Iya tuan"
*A*da apa
__ADS_1
bersambung...
Jangan lupa, bahagia