
Tidak ada yang bisa dilakukan, selain meratapi terbaringnya suami. Otaknya terus merutuki kebodohan, dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun akal sehatnya selalu terselip bisikan, ini bukan sepenuhnya kesalahan.
Semua yang telah terjadi adalah takdir. Tidak perlu mencari siapa yang salah yang terpenting saat ini adalah bagaimana bisa melewatinya. Dan ikhlas menerima.
Rianti mengerjap, terbangun dari tidurnya
seraya memerhatikan wajah Satria yang memucat. Besar harapannya akan tanda Satria sadar, hanya pemandangan bedside monitor yang masih menghiasi suasana.
Tidak ada perubahan.
Suara perdebatan dan isak tangis dibalik pintu sayup terdengar di telinga Rianti. Namun dia memilih untuk diam dan tak ada tenaga untuk masuk didalamnya.
Sudah cukup terbaringnya satria yang menggoreskan pilu di hatinya.
"Bereskan semua kekacauan ini"
perintah tuan besar kepada tangan kanannya.
"Pah aku tidak siap kehilangan putra kita satu-satunya, hiks.." nyonya besar yang tak hentinya menangis.
"Aku akan berusaha , secepatnya papah akan mencari pendonor hati yang cocok untuk anak kita." memeluk nyonya besar dalam dekapan. Perkelahian itu memperparah sakitnya Satria.
*K*urang ajar orang itu
siapa dia beraninya mengusik keluargaku. Batin tuan besar
Dan seseorang mendengarkan percakapan mereka. lalu pergi dengan sunyi.
...........
Mobil melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Pengemudi menatap lurus ke depan tanpa ragu. Semakin tidak terkendali
hantaman pun tak terhindarkan.
__ADS_1
Asap mengepul dari mesin mobil
membumbung ke udara. suara dentuman dari benturan mengagetkan khalayak jalan. Beberapa pengendara lain menepikan kendaraannya, melihat situasi yang terjadi.
Seorang pria pengemudi yang tak bisa berkata terkulai lemah, Namun dia belum hilang kesadaran. Segera orang-orang menarik menyelematkan dirinya. Sebelum terjadi yang tak diinginkan.
Suara riuh bersahutan memberi aba, dengan bumbu kepanikan. Hilir mudik pengendara lain mulai memadati. Hingga datang ambulan membawa pria tersebut.
...........
Notif pesan berderet tak henti, meramaikan grup chat Satria cs, Rianti pun ikut di dalamnya. Untuk hari ini dia sedang malas membuka ponsel biarkan saja, begitulah pikirnya.
Hingga malam hari tiba, Shesil datang untuk menemui Rianti yang sedang menunggu Satria dimana pada saat ini belum menunjukan kondisi membaik.
"Maaf, anda tidak boleh masuk" cegah tim keamanan Artha grup.
"Tapi pak, saya ingin sekali bertemu dengan nona Rianti, sekaligus menjenguk tuan muda"
Shesil memohon. mengatupkan kedua tangan.
Tuan besar memperketat pengamanan agar tidak ada seorang pun yang masuk kecuali keluarga dan tim dokter. Sudah cukup ia merasa kecolongan.
"Baiklah"
Rianti ku mohon, bacalah pesan.
"Sayang, kamu istirahatlah biar mamah yang gantian jaga Satria" nyonya besar menghampiri Rianti.
Rianti mendongak
"Aku ke toilet dulu ya mah"
"Iya sayang"
__ADS_1
Nyonya besar sekejap melirik ponsel Rianti yang tak henti bergetar, diraihnya benda pipih itu lalu...
"Ada apa mah?" Rianti mengagetkan dengan kemunculannya.
"Ini" menyodorkan ke Rianti.
"Sepertinya banyak panggilan dan pesan"
Rianti lalu memeriksa ponselnya. Betapa terkejutnya dia melihat isi grup chat.
"Ada apa?" tanya nyonya besar dengan lemah
dengan wajah sembab kurang tidur dan banyak menangis.
"Ren kecelakaan, dan kondisinya kritis"
Lemas menjawab, kepalanya linglung. Nyonya besar tak kalah terkejut. Tubuhnya limbung.
Dalam situasi keterkejutan, tuan besar masuk kedalam ruangan. Dengan raut wajah yang sulit di tebak.
"Rianti, kamu ikut dengan papah sebentar"
kemana. batin Rianti bertanya,
"Baik pah" ikut saja gak usah banyak tanya
begitulah pikiran Rianti menyadarkan.
bersambung....
Baru muncul lagi setelah sibuk di dunia nyata.
jangan lupa
__ADS_1
bahagia