Cinta Sejati

Cinta Sejati
Hari yang di tunggu


__ADS_3

Waktu terus berlanjut tanpa pernah kembali. peristiwa manis dan pahit menjadi coretan dalam figura kehidupan. ketika mendapatkan cobaan yang berat ingatlah semuanya akan berakhir. begitu pun dengan kenikmatan, jangan terlena karena semua akan berakhir.


Satria dan Rianti menjalani hari dengan selayaknya suami istri yang penuh cinta. mengakui perasaan satu sama lain dalam indahnya bahtera rumah tangga. bagi satria semua itu tumbuh saat sebelum memiliki Rianti. namun bagi Rianti, cinta tumbuh setelah menjalani hari hari sebagai seorang istri.


Perutnya makin membesar, sang buah hati akan segera lahir. Sempurna sudah rumah tangga mereka, yang sempat di terpa badai.


Satria tidak pernah absen mengusap perut sang istri. Cintanya yang begitu kuat, membuat Satria selalu ada waktu untuk Rianti di sela kesibukannya. Selalu mengajak bicara bayinya yang masih di dalam kandungan.


Dalam kesempatan kontrol kehamilan rutin di rumah sakit, Satria selalu datang tergopoh menemani istrinya. Tidak mau melewatkan sedetikpun perkembangan anaknya yang sangat dinantikan itu.


Dokter menjelaskan secara terperinci, tentang kehamilan dan kondisi bayi mereka. satria dan Rianti beradu argumen, berebut siapakah wajah yang paling di wariskan. tentu hal itu memantik senyum tipis untuk para dokter dan perawat.


Lucunya calon orang tua ini.


Perkiraan Rianti melahirkan sekitar satu pekan lagi. Setelah mengintip bayinya lewat USG, pasangan ini berlalu, tapi tidak langsung pulang ke rumah utama. Mereka pergi ke kantor Artha grup, karena Rianti merengek ingin kesana.


"Terimakasih ya calon papah, udah mau nurutin ngidam istrinya. Hehe"


"Ngidam? yang benar saja. Rianti sebentar lagi kau mau melahirkan."


"Ya memang kenapa sayang. sama saja, sama sama hamil kan. Pokoknya i love you muach muach."


"Apa itu? kenapa gak langsung aja sih gak usah pakai kata kata."


Rianti tergelak.


"Banyak orang, malu dilihat. Oh ya kamu udah menyiapkan nama buat anak kita.?


"Sudah"


"Siapa namanya?"


"Nanti saja kalau sudah lahir, akan kuberi tahu."


"Hmm baiklah."


"Sayang, kamu disini jangan kemana mana ya. Aku mau tanda tangan berkas dulu sebentar."


"Siap"


Satria bukan pergi ke luar atau ruangan lain. melainkan pergi ke meja kerjanya yang masih satu ruangan dimana Rianti duduk manis. hanya berjarak 10 meter saja. Tidak ada sekat apapun untuk pembatas. namun khawatir nya seperti ia pergi ke luar kota.


"Sayang, aku mau bertemu mamah marini. boleh kan."


"Disini. jangan kamu yang keluar."


"Iya sayang."


"Marcel, tolong panggilkan Bu marini untuk ke ruanganku sekarang." Satria menelpon Marcel di sebrang ruangan tempat Rianti dulu menjadi sekretaris Satria.


"Iya tuan mudaku."


..........


ada apa ini ya, ada yang salahkah. batin bu marini


Sejak Marcel memintanya untuk keruangan satria. Bu marini selalu mengingat apakah ada yang kurang dari kinerjanya ataukah ada hal yang salah.

__ADS_1


Ia melangkah dengan tergesa.


"Selamat siang tuan muda. ada yang bisa saya bantu?" dengan sopan Bu Marini bertutur kata. Jika dilihat dari masa lalu, Satria cs sering menjadikan rumah Bu Marini sebagai markas berkumpul dengan Beno.


Saat sekolah mereka di perlakukan seperti anaknya sendiri. Ketika sudah saatnya, Satria dan Marcel memiliki pengaruh di Artha grup. Bu Marini bersikap profesional, hormat dengan petingginya.


"Rianti ingin bicara." satria menjawab.


"Mamah, sibuk kah? kalau tidak, duduklah di sampingku." Rianti menepuk ruang kosong di sebelahnya.


Bu Marini kaget bercampur senang. Dia bingung harus memanggil apa, Rianti, anakku, atau nona muda? mengingat mereka sedang berada di kantor dengan hubungan yang rumit ini.


Perbincangan hangat tidak berlangsung lama. waktu dan tempat yang kurang tepat membuat Bu mlMarini undur diri.


"Sayang aku mau ke toilet" Rianti pamit.


"Aku antar"


"Tidak usah sayang, kamu disini saja."


"Hati-hati, dan jangan terlalu lama di dalam."


"Iya sayang." Rianti beranjak dari duduk.


Sudah 15 menit berlalu, belum ada tanda Rianti keluar. Satria gusar melihat terus ke arah jam.


haduh ga beres inih, perut padahal udah mules.


Rianti tetap saja duduk merasakan sensasi mules yang tak berujung. Keringatnya sudah bercucuran.


"Sayang, kamu kenapa? kok lama?" Satria sudah berteriak. memastikan istrinya baik baik saja.


Pintu terbuka, Rianti sudah keluar dengan keringat yang sudah di tepis. Rasa mules nya pun sudah hilang entah kemana. Lebih baik ia pulang saja ke rumah utama. Pikirnya.


"Ayo kita pulang." Satria menggenggam tangan Rianti.


ih baru mau ngajak pulang. kebetulan sekali.


"Ayo"


..........


Satria terus memperhatikan Rianti, saat tertidur, duduk, makan, dan berjalan. Ia begitu kagum dengan seorang wanita yang rela mengandung sembilan bulan tanpa mengeluh, walau sebenarnya ia tahu bagaimana kondisi yang dirasakan.


Rianti berjalan dengan langkah tak biasa, membawa segenap buah hati mereka dengan penuh kasih. peluh nya selalu membanjiri, apalagi jika sedang tidur. Posisi bagaimana pun sudah jauh dari kata nyaman.


Hamil merupakan kebahagiaan, melahirkan kan pun merupakan kebahagiaan. Jadi berbahagialah setiap saat. Karena kita harus bahagia sebelum bahkan setelah datang kehadiran anak.


Hingga pada saatnya tiba, rasa dimana bahagia sesungguhnya tidak bisa terbendung. Mengiris pelupuk hati tersirat dalam air mata haru.


Setibanya di rumah.


Rianti lantas ingin cepat sampai kamar. Merebahkan tubuh yang sebenarnya sedang tidak nyaman. Sebentar mules sebentar hilang. Sebagai kehamilan pertama dia tidak menaruh curiga apapun.


Keadaan ini berlangsung sampai malam hari tiba.


Satria melihat Rianti sangat gelisah dan selalu bolak balik kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa? jangan jawab tidak apa apa lagi. Aku tidak menerima jawaban itu." Satria begitu cemas, diusapnya kepala serta perut Rianti.


"Mules, tapi gak keluar."


"Sayang, aku ngompol. Kok gak kerasa pengen pipis ya." Tambah Rianti, panik terasa basah di tempat ia duduk.


Satria tak kalah paniknya, dia mengacaukan kedamaian penghuni rumah utama. Kode darurat sudah di aktifkan. dengan cepat mereka menuju rumah sakit.


Nyonya besar selalu di samping Rianti mendampingi, memberi pengetahuan yang ia ketahui. agar Rianti lebih tenang menghadapi.


"Kamu pasti bisa sayang, jangan khawatirkan apapun. tarik nafas pelan." Nyonya besar menguatkan melihat gurat wajah Rianti yang sudah meringis.


Jangan tanya Satria bagaimana, wajahnya memucat, pikirannya porak poranda bagai di terjang tsunami.


Tiba sampai ruang persalinan,


Nyonya dan tuan besar menunggu di luar, hanya Satria yang masuk mendampingi. Tangannya yang gemetar saling terpaut dengan tangan Rianti. Wajahnya bertumpu di ujung kepala seraya mencium perjuangan istrinya.


Mulutnya tak henti mengatakan kalimat penguat.


Rianti mengatur nafasnya, mengumpulkan segenap tenaga untuk berjuang. Mendengarkan aba aba dokter agar persalinan berjalan lancar.


Kondisi Rianti saat tiba di rumah sakit dengan pembukaan yang sudah hampir mendekati sempurna membuat persalinan tidak mengulur waktu lama. Itu sebab Rianti terlalu mengabaikan rasa kontraksi saat siang tadi. Karena pikirnya, ia akan melahirkan sepekan lagi.


Tangan yang terpaut oleh Satria sudah beralih memegang erat kerah baju. Di tariknya sekuat tenaga hingga menyebabkan kancingnya terpental. Satria tidak peduli dengan bajunya yang sudah terkoyak melihatkan bagian tubuh yang terdapat tanda bekas operasi.


Suara tangis bayi laki laki terdengar. Satria pun tak sadar ia mengeluarkan air mata.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2