Cinta Sejati

Cinta Sejati
Penyusup


__ADS_3

Kondisi sudah normal kembali.


Di rumah utama, atmosfer di ruang keluarga penuh kehangatan. Anggota keluarga yang sedang bercengkrama mengukir tawa untuk menghapus jejak air mata yang belum mengering.


Setelah kejadian satu bulan yang lalu, rencana terselubung sudah mulai di luncurkan. Responnya pun cukup baik, karena di eksekusi dengan sangat natural.


Tidak biasanya Rianti bergelayut manja, seolah tidak mau kehilangan Satria sedetik pun. Baginya, merasakan detak jantungnya saja sudah membuat perasaannya nyaman.


Rianti sedang merasakan cinta yang luar biasa dari satria. Sosok lelaki lemah di mata Niko namun lelaki hebat di mata Rianti. Dia sangat kagum dengan cara suaminya mencintai seseorang yang tak lain adalah dirinya.


Image lelaki yang kurang baik yang terbenak dalam pikiran sehatnya, membuat Rianti enggan untuk jatuh cinta. Sebab di lingkungan nya banyak sekali lelaki yang mendua. Hampir semua, hampir ya,, tidak semua.


Sungguh pemandangan kali ini, sangat bertolak belakang dengan yang biasa terjadi.


"Sayang aku boleh nanya sesuatu?"


"Tanya apa?" Satria menutup bukunya, fokus dengan pertanyaan Rianti yang sedang dalam pelukannya itu.


"Kamu punya mantan pacar?"


"Tidak"


Bibirnya mulai menyusuri pipi, merasakan aroma tubuh Rianti yang selalu membuatnya candu.


"Kenapa? kamu gak suka wanita?"


"Memangnya kamu bukan wanita?"


*I*ya ya, pertanyaan macam ini.


"Ganti pertanyaanmu, jelek sekali. Aku tidak suka mendengarnya."


"Hemm yaudah, maaf ya sayang."


"Sekarang aku yang bertanya sama kamu?"


"Apa itu?" Rianti menggebu gebu.


"Awal nikah sama aku, perasaan kamu bagaimana?" kini kecupan sudah mulai turun.


"Pertanyaan kamu jelek, ganti saja. awww.. "


isssh sakit sekali.


"Sayang hentikan.." Rianti mencoba lepas dari cengkraman Satria. Sebenarnya kalau tempatnya sedang di kamar ia pasrah saja apa yang di lakukan suaminya. Tapi ini...hemm, sudahlah malu.


Rianti berteriak, menyadarkan bahwa disini bukan hanya mereka berdua. Menunjuk ke arah tuan dan nyonya besar. Dan ternyata, yang di tunjuk juga dalam posisi yang sama dengan mereka.


*E*hh


Rianti malu.


"Kau lihat, mereka juga sama kan." gerutu Satria.


...........


Pesan masuk bertubi-tubi, pertanda chat grup sedang ramai. Rianti menyambar ponselnya. dan hampir saja tersedak melihat isi pesan itu.


Shesil mengumumkan bahwa putrinya telah lahir.


Dengan tergesa Rianti menghampiri satria yang sedang di ruang perpustakaan pribadi. Mengembalikan buku yang di bacanya tadi saat sedang di ruang keluarga. Tidak sabar menyampaikan kabar ini.


"Sayang.."

__ADS_1


Bruukk..


Rianti menabrak satria, mereka berdua terjatuh dengan posisi Rianti diatasnya.


"Sayang, maaf" Rianti hendak menyingkir namun tangan Satria mencegah.


"Diam" perintah satria menikmati masa dimana mereka pertama kali bertemu. pikirannya melayang.


Saat ini, dalam posisi seperti ini, mengingatkan pertemuan mereka yang jauh dari istilah kata 'cinta pada pandangan pertama'. Bagaimana tidak, makian lah yang terlontar pertama kali dari mulut Satria.


"Maafkan aku Rianti, atas pertemuan pertama kita yang sangat menyakitimu" mengecup kening Rianti berulang kali.


*E*mang pertemuan pertama kita kenapa? dimana ya?


"Gapapa sayang, aku sudah melupakannya. jadi berhentilah meminta maaf padaku."


*A*ku memang tidak ingat hehe


"Oh ya , shesil sudah lahiran. kita kesana yuk. lihatlah putrinya lucu sekali." Rianti menunjukan foto bayi mungil Shesil dengan senyum yang mengembang, seolah Rianti sudah lupa dengan apa yang menimpanya.


"Kita akan kesana, tapi tidak sekarang. Aku akan minta jadwalkan pada Rion."


"Baiklah, terimakasih sayang"


"Kau senang?"


"Tentu saja sayang, kenapa aku harus bersedih."


Rianti hendak bangun, sadar diri melihat Satria sudah meringis pegal. Memang benar yang dikatakan orang, jangan terlalu membenci, karena benci dan cinta jaraknya bagaikan dompet diakhir bulan. Tipis.


Itulah yang dialami mereka sekarang.


............


Bocah petualang kembali pada rumahnya. begitu pun dengan hewan ternak, yang sudah kembali pada tempatnya setelah dilepas mencari makan. Awan yang mulai jingga, menandakan alam akan berganti malam.


Di belakang Rumah, ayah Rianti memeriksa ayam peliharaannya. Memastikan dengan benar pintu kandang agar tidak kehilangan ayamnya lagi.


Suara patahan kayu yang terpijak kaki terdengar, namun tidak ada sosok anak manusia yang terlihat. Ayah Rianti kaget. dan mengingat kembali kejadian pembiusan itu.


Ini seperti kejadian itu, terus kembali ke pos dan meminum kembali secangkir kopi yang hampir dingin. Ayah Rianti mengingat ingat dan menganalisa apa yang terjadi.


*W*ah ga beres nih.


Ayah Rianti menyusuri halaman belakang, banyak semak dan pohon rindang yang mempersulit pencarian. Hingga tepat berada di balik pohon mangga, satu pukulan melayang, dengan sigap ayah Rianti menepis.


Terjadi perkelahian antara ayah Rianti dan penyusup. Pertarungan pun dimenangkan ayah Rianti, ia berhasil membekuknya.


"Diih,, cepat kemarih. bawa borgol punya gua" ayah Rianti berteriak.


"Apa bang, mana kagak ada?" Madih mencari cari benda yang diperintahkan.


"Emang ngapa si segala nyuruh nyari gituan?" protes.


"Tali plastik ge apa ge lama banget lu!".


"Iya iya.." Madih tidak tahu kalau ayah Rianti sedang menangkap seseorang. Mencari tali sambil meracau tidak jelas.


Penyusup berontak keras, dengan sekuat tenaga ayah Rianti menahan. Tapi, keberuntungan tidak berpihak padanya. Datang temannya menaburkan tanah tepat mengenai mata ayah Rianti.


Cengkraman nya lepas, penyusup berhasil melarikan diri.


"Nih talinya" Madih muncul dengan terlambat.

__ADS_1


"Telat.. lama banget ngambilnya."


"Laah ngapa itu abang matanya picek. Hehe "


"Au ah gelap!"


"Dih ora danta aki-aki."


............


Hari sudah gelap. Mereka memasuki rumah melanjutkan aktivitas masing masing. Ibu Rianti mengobati mata suaminya dengan air kapuk. Obat tradisional jika sedang kelilipan.


"Bapak kenapa sih bisa kelilipan tanah segini banyaknya?" tanya ibu Rianti cemas.


"Nanti bapak ceritainnya"


"Kemarin kena bius, sekarang kelilipan haduh ada ada aja bapak."


Ayah Rianti mengambil ponsel, menghubungi putrinya.


Di seberang sana.


Ponsel Rianti berdering, Satria yang sedang didekatnya menoleh, melihat dari siapa panggilannya.


Dia ragu untuk mengangkat, biarlah saja nanti jika Rianti sudah selesai mandi. Dia takut mengganggu privasi antara ayah dan anak. Tapi.. bagaimana nanti jika telponnya penting.


Satria bimbang.


Tidak lama panggilannya pun terputus,


disusul dengan pesan yang masuk dari ayah Rianti.


"Neng, kayanya ada yang gak beres. Barusan ada penyusup di rumah. Bapak berhasil nemuin trus tangkep orang itu. Eh si madih lama banget, kabur dah tu orang. Tapi bapak gak habis pikir, ngapain tuh orang ngincer keluarga kita. Perasaan bapak gak punya musuh."


Pesan itu dibaca Satria.


Dia langsung mengalokasikan tim keamanan untuk menjaga keluarga mertuanya tersebut. Setidaknya memberikan keamanan untuk sementara waktu, sampai rencana berjalan dengan mulus.


*S*ebentar lagi kau akan kutangkap bedebah.


...............


Dalam sebuah markas baru.


"Bos, ayahnya Rianti lumayan hebat juga."


"Ya iya lah, calon mertua siapa dulu. Niko "


dih


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2