
Malam telah usai yang sudah berganti menjadi pagi. Saatnya semua orang memulai hari untuk menjalani rutinitas setiap harinya. Pergi sekolah, pergi ke kantor, pergi berniaga, maupun yang berbenah rumah.
Semua sudah menjadi porsi tersendiri untuk yang ikhlas menjalani. Ketika takdir tak sama dengan impian. Lihatlah, banyak yang menginginkan posisimu saat ini, mereka yang kurang beruntung daripada dirimu.
Hari ini adalah hari Minggu. Situasi dengan kerja sistem of, membuat ayah Rianti tidak tentu letak libur jatuh pada hari apa saja. Sehingga pada hari Minggu pun ia mengajukan cuti, karena hari ini masih terhitung hari kerja.
Dan pada kesempatan ini, Rencana yang disusun semalam akan direalisasikan. mereka pun sengaja tidak mengabari Rianti terlebih dahulu. Biar surprise maksudnya.
Suara deru mesin mobil sedang dipanaskan. Ayah Rianti memeriksa setiap keadaan mesin dan juga bahan bakar. Setelah berjalan dengan semestinya, ia memanggil anggota keluarga agar segera berangkat.
"Ayo cepetan kita on the way, takut kesiangan." Seru ayah Rianti kepada anggota keluarga.
"Emang kita mau sekolah apa bang, segala kesiangan." Sahut madih dari dalam rumah, sambil membawa alat pancing.
Tidak lama, ibu dan Emen datang menghampiri. Sudah bersiap untuk berangkat, mereka tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam mobil.
"Lah lah, ngapa begitu si ya." Madih berapi api.
"Kenapa lu?" tanya ayah Rianti yang sebenarnya tau jawabannya. "udah cepetan jangan banyak omong. Duduk disitu udah gua sisain bangku spesial buat lu." Sambungnya lagi, semua sudah berada di dalam mobil kecuali Madih masih berdiri mematung.
Madih pun lantas mengalah, lalu pasrah duduk di bangku kemudi.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalamnya mereka mengobrol satu sama lain membicarakan bagaimana jika mereka tiba disana, Rianti tidak tahu akan hal ini, apakah dia terkejut dan senang? ataukah dia tidak ada di rumah? pilihan yang kedua jika terjadi, Madih akan tertawa puas.
"Rasain dah udah jauh-jauh eh orangnya kagak ada. Lagian ngapain si segala kaga bilang bilang. Hahaha"
"Eh dih, itu kan masih perkiraan. Bukan kenyataanya." Jawab ayah Rianti.
"Iya dih, lagian kalo gak ada juga gapapa, kan bisa silaturahmi sama besan." ibu Rianti menambahkan.
"Lagian kita kenapa gak bilang pak?" ibu Rianti juga heran, penasaran juga ingin menanyakan hal ini.
"Rahasia" jawab ayah Rianti. Singkat padat dan tidak jelas.
Sampailah mereka pada tempat tujuan.
Mobil di berhentikan oleh tim keamanan di depan gerbang utama.
"Maaf mengganggu perjalanannya. Bisa tunjukan kartu identitas?" pinta tim keamanan yang memang sedang menjalankan kewajibannya sesuai dengan prosedur.
"Pak, emang kaga kenal kita ya?" tanya madih memancing, berharap sekali untuk bisa di kenali. Sedangkan pengawal nya hanya diam memerhatikan, tapi nihil dia tidak mengenali.
"Tidak."
"Kami mau ke rumah Satria, rumah menantu saya." ayah Rianti berujar sambil memperlihatkan kartu identitas. Pengawal tersebut mengerutkan dahi tidak percaya, bagaimana bisa tuan mudanya berbesanan dengan keluarga yang sederhana, jauh dari kata kelas atas.
Tidak lama, kepala pengawal mendekat karena melihat mobil tersebut tidak kunjung melanjutkan perjalanan. Apakah ada yang membahayakan?
__ADS_1
"Permisi, selamat siang. Ada yang bisa di bantu?" menundukan kepala, melihat dengan siapa dia bicara, wajahnya seketika pias. Kakinya gemetar.
"Selamat siang juga" ayah dan paman Rianti serempak menjawab. Karena mereka mengenali siapa yang yang menyapa.
"Silahkan tuan masuk, maafkan anak buah saya dia memang baru disini." Berharap semoga tidak ada kekacauan setelah ini lalu menarik mundur pengawal baru tadi.
"Terimakasih. Semoga harimu cerah hehe." madih berucap penuh makna.
Mobil melanjutkan kembali perjalanan. Jarak dari gerbang utama menuju Rumah utama sejauh 3 km. Dalam perjalanan tersebut mereka melihat lihat bangunan modern nan estetik. Walaupun bukan pertama kalinya kesini tapi tetap saja mereka terpana.
Dan sampai lah pada bangun super megah rumah utama. Pintu gerbang langsung terbuka karena penjaga nya sudah mengenali siapa yang datang.
"Kok kita gak ada pemberitahuan ya kalau keluarga nona muda mau kesini?" tanya penjaga kepada teman satunya.
"Kya, mungkin lupa memberitahu kita. Atau memang sengaja datang kemari untuk surprise " mereka saling memandang heran.
..........
Tok tok tok
bunyi ketukan pintu di depan kamar, Satria pun mempersilahkan untuk masuk.
"Maaf tuan muda, ada tamu di ruang tengah ingin bertemu tuan dan nona muda."
"Siapa?"
"Mereka ada disini? tumben gak bilang" Rianti menyahut dari sisi Satria. Mereka memang sedang menghabiskan waktu berdua di dalam kamar, kondisi yang sedang hamil muda membuat Rianti enggan untuk keluar rumah.
"Sayang pelan-pelan jalannya." Satria mengingatkan Rianti yang sedang setengah berlari menemui keluarganya.
"Iya sayang, maaf aku Rindu sekali dengan mereka hehe."
Satria tersenyum menanggapi.
"Ini dia yang kita tunggu datang juga." nyonya besar berbicara menyambut Rianti dan Satria yang baru saja datang.
Rianti tersenyum lebar. "Pak, Mak sehat?" menyalami kedua orangtuanya, lalu memeluk sebentar ibunya. Di lanjut menggoda Emen yang dilihat dari sorot matanya sedang bahagia.
"Sehat neng. Kamu gimana kondisi kehamilannya? udah berapa bulan?"
"Udah dua bulan Mak. Sekarang lagi mual mualnya. gak mau makan nasi."
"Emang gitu, yang penting mah jangan sampe gak makan ya neng."
"Iya mak."
Di tengah obrolan antara ibu dan anak, nyonya besar berbicara dengan Emen. Dia tertarik bersenda gurau dengan adik menantunya itu, karena sejak awal bertemu, Emen terlihat sangat pendiam. Sampai pada akhirnya emen tersipu malu, tak henti hentinya nyonya besar mengerjainya.
__ADS_1
Di sisi lain, Satria bersitatap dengan ayah Rianti. Perbedaan sifat yang sangat signifikan membuat hubungan antara ayah mertua dan menantu ini sedikit kaku. Satria yang tidak suka basa-basi dan sering berbicara yang to the point kadang kurang enak didengar, membuat dia enggan untuk menemani ayah mertuanya bicara. Takut salah dan menyakitinya.
Begitu pun dengan ayah Rianti. Dia tahu menantunya itu bukan orang biasa. Bahkan sifatnya sudah terbaca oleh ayah Rianti. Bagaimana dia bisa sekadar basa-basi obrolan dengan pemuda di kampungnya diterapkan pada Satria. Seperti menanyakan kerja libur misalnya.
Lagi libur? hemmm dia kan punya perusahaan besar. Bukan karyawan biasa.
Ngobrol ronda? tim keamanan nya saja sudah melebihi kapasitas.
Mereka terdiam dalam waktunya yang lama. Namun Satria memasang wajah yang lebih ramah lingkungan.
"Gimana kabar bapak? sehat? tidak ada yang mengganggu?" akhirnya Satria bersuara.
"Sehat, dan aman terkendali. Tidak ada penyusup lagi. Satria sendiri gimana keadaan.?"
"Baik, dan jauh lebih baik"
"Syukurlah." sudah lagi bingung harus mengobrol apa lagi. Dan tak lama rasa canggung mulai hilang karena kedatangan tuan besar yang ikut dalam cengkrama.
Di waktu yang bersamaan Madih tidak ada teman bicara, Dia pun lantas pamit untuk memancing.
"Permisi semuanya, bolehkah saya ini memancing di kali halaman belakang?" Madih mengubah tata bahasanya, dari semalam dia belajar bahasa baku untuk berkomunikasi.
"Haha boleh silahkan." tuan besar memberi ijin.
"iiih paman Rianti ini lucu sekali" sambung nyonya besar. Keluarga Rianti menutup wajah malu dengan sikap Madih. Terjawab sudah kenapa dirinya membawa alat pancing.
"Yes, of course. hehehe. Baiklah saya pamit undur diri untuk pergi ke halaman belakang. ayo neng antar Abang." Madih meminta bantuan pada pelayan wanita untuk di antar.
Penghuni rumah utama tergelak dengan tingkah Madih.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....