Cinta Sejati

Cinta Sejati
Kepergian Rion


__ADS_3

Setelah posisinya direbut oleh Rianti, Rion dikirim keluar negeri untuk mengurusi bisnis yang sedang di bangun Artha grup. Dia sama sekali tidak kesal atau dendam, sebaliknya. hatinya tenang melihat tuan muda mendapat pendamping yang pantas, mungkin melebihi dirinya.


Pikirannya menjelajahi masa lalu, ketika dia masih berdiri kokoh disamping tuan muda untuk mengayomi dan melindungi. Mendapat tugas dari tuan besar yang amat di pegang teguh olehnya.


Sosok tegas dan juga dermawan yang berhasil di tangkap oleh Rion melekat pada diri Satria. Usia Satria lebih muda daripada Rion, itulah yang terkadang membuat Rion merasa seperti menjaga adiknya.


Bagai hubungan kakak dan seorang adik, Rion pernah merasakan sakitnya melihat Satria menderita. Bukan menderita tentang persoalan cinta, tapi menderita karena sakitnya yang terus menggerogoti.


Hingga pada saat ini dia merasa lega, melihat tuan mudanya sudah tersenyum kembali. Bukan ringisan dan keringat dingin serta wajah yang memucat. Sungguh kenangan itu dia ingin buang jauh-jauh.


*A*ku bersyukur tuan muda mendapatkan pendamping yang tulus mencintainya. Jadi aku tidak ragu lagi, mengurus anak bisnis Artha grup yang berada di negara xx, aku akan selalu mendo'kanmu yang terbaik.


Rion melirik jam tangannya, sudah saatnya ia berangkat menuju negara xx. saat ia melangkah dan terus melangkah hingga sampai pada anak tangga pesawat, suara yang sangat dia kenali menghentikan langkahnya.


"Rion"


Dia pun menoleh. Mendapati Satria melambaikan tangan dengan senyum. Rion pun menghampiri pada posisi satria berdiri, dia menganggukan kepala, memberi hormat.


"Tuan muda, ada yang masih bisa saya bantu?"


Rion mengatur nafas, dia kaget Satria datang tanpa pemberitahuan. Ini baru pertama kalinya.


"Tidak, Aku cuma mau bilang terimakasih atas kerja kerasmu selama ini. Melayani tuan yang lemah sepertiku." Kata yang harusnya terdengar sedih Satria malah mengulum senyum. Tidak sesuai antara ucapan dan ekspresi.


"Tuan" Rion berkaca-kaca, dia ingin sekali memeluk adiknya, upss bukan, tuan muda maksudnya.


"Hemm, kau mau bilang apa padaku?" Satria menggoda. Sebenarnya dia ingin memeluk Rion untuk perpisahannya ini tapi... gengsi. Bagaimanapun, ocehan Rianti tentang Rion sebagai kakak, telah merasuki pikirannya.


"Itu sudah menjadi tugas saya melayani dan bekerja keras untuk tuan. Terimakasih atas ucapannya, saya sangat senang tuan menyempatkan datang kesini untuk mengantar kepergian saya. Waktu tuan sangatlah berharga."


Satria merentangkan tangan, menyerah.


Rion sangat bahagia menyambut, matanya berair di pelupuk. Belum sempat jatuh membasahi pipi, tangannya menepuk-nepuk bahu Satria.


"Kupercayakan bisnis baruku di negara xx kepadamu. Aku yakin kau bisa mengembangkannya."


Rion tersenyum bangga, sudah kehabisan kata untuk menjawab. Dan di seberang sana tampaklah seorang wanita sedang mengamati, ikut senang dengan apa yang dilihatnya.


*S*o sweet banget sih kakak adik ini hehehe.


Dalam sebuah pertemuan selalu ada perpisahan, di setiap awal pasti ada akhiranya. Begitulah hidup, sebagaimana kita menjalani dengan baik atau tidak. Karena waktu takkan pernah kembali.

__ADS_1


Sebaik-baiknya hubungan adalah yang mampu saling menghargai. Mendukung jika itu yang terbaik, menasehati jika itu salah jalan. Bukan menusuk, dengan cara berpura-pura baik.


...........


"Kita kembali ke kantor, tapi sebelum itu aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Satria memberi aba, dengan langkah yang panjang.


"Baik tuan"


Mobil melaju memecah jalanan.


Tidak ada percakapan apapun diantara mereka. Rianti sibuk membalas chat dari Lexa, sedangkan Satria sedang menahan rasa ingin menggoda Rianti.


*B*isa bisanya dia tahan menganggap ku bosnya dalam situasi berdua seperti ini.


Satria menganggap pak supir hanya


seonggok kanebo kering. Mereka bertiga, tapi merasa sedang berdua.


Sedangkan Rianti masih sibuk saja dengan ponselnya walau chat nya bersama lexa sudah berakhir.


*L*ucunya, untung tadi aku punya ide gila ngambil gambar mereka berdua. hehe maafkan aku tuan.


Rianti terkekeh dalam hati, layar ponselnya sedikit membelakangi Satria, dia takut ketahuan atas tindakannya itu.


Mobil pun berhenti di gedung anak perusahaan Artha grup. Semua gelapan, karena tidak ada informasi tentang kedatangan presdirnya. Penyambutan dengan apa adanya dan terkesan seperti melihat hantu, gemetar.


"Selamat datang tuan dan nona, maaf kami tidak mengetahui jika tuan dan nona akan datang kemari." Semua orang menunduk hormat. Rianti yang berada disamping Satria mengangkat bahu, memberi isyarat jika dia pun tidak tahu harus kesini, karena tidak ada di dalam agendanya.


Satria membalas dengan gerakan tangan. Lalu berjalan menuju tempat Ruang CEO dari anak perusahaan Artha grup yang bergerak di bidang properti ini. Rianti mengekor terus mengikuti langkah Satria tanpa banyak bertanya.


Tibalah di tempat tujuan.


Satria masuk tanpa permisi. Marcel terjungkal, syok dengan kedatangan Satria.


"Tuan muda !" Marcel berhambur menyambut kedatangannya. Marcel adalah CEO dari anak perusahaan Artha grup yang bergerak di bidang properti.


"Eh ada Rianti juga disini apa kabar? " Marcel menyodorkan tangan untuk berjabat.


Cih


Tangannya di tepis Satria hingga meninggalkan bekas kemerahan. Marcel mengaduh kesakitan tanpa ada yang menolong.

__ADS_1


Rianti pun hanya menggelengkan kepala, masih saja sama seperti dulu. gumamnya.


"Jangan mengganggu dia, aku yang punya urusan denganmu!" hardik Satria yang di tanggapi malas oleh Marcel.


"Baiklah, apa yang ingin kau katakan?"


"Aku ingin kau bertugas selama satu Minggu di bagian pertambangan. Aku merasa ada yang aneh disana."


"Hemm baiklah, cuma satu Minggu kan. Oh ya kalian belum ke rumahku, lihat bayiku yang sangat cantik seperti tantenya hehe" Marcel berujar tanpa berdosa. Rianti yang mendengarnya mengeryitkan dahi.


"Ya, nanti"


"Kapan?" ber api-api.


"Tidak tahu." jawab Satria santai. Sebenarnya dia malas menemui Marcel saat ini, karena semenjak ia dan Rianti memiliki hubungan, Marcel berubah menjadi orang yang selalu mengganggunya hingga ia kesal. Tapi, kesetiaannya tetap seperti dulu.


Rianti ingin sekali menanyakan perihal shesil dan bayinya. Dia jadi tak enak hati sampai saat ini belum berkunjung. Namun niat itu dia urungkan. 'diam saja, apa pun yang terjadi cukup diam' begitulah akal sehat menyuruhnya. Sebab Satria pasti akan marah jika dirinya mengobrol dengan pria lain di depan matanya.


"Oh ya, siapa yang akan menggantikan ku saat aku tidak ada disini selama satu Minggu?."


"Itu urusanku." Satria bangun dari duduknya hendak meninggalkan ruangan ini.


"Bayi mu perempuan?" Satria bicara lagi.


"Kan aku bilang, cantik seperti tantenya". Marcel melirik Rianti dengan tidak tahu diri.


Sebuah benda terlempar hampir mengenai Marcel. Bukannya takut malah tergelak penuh ledekan. Satria dan Rianti pun berlalu.


*H*ahaha aku senang sekali bisa melihatmu seperti dulu lagi sat. Semoga kau selalu di beri kesehatan.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2