Cinta Sejati

Cinta Sejati
Dongeng Rianti


__ADS_3

Saat kejadian antara Niko dan sang ayah berlangsung, Rianti melangkahkan kaki untuk membereskan persiapan anak-anaknya. Di dalam kamar sana, Dion dan Alana sedang beradaptasi.


"Mah, kamarnya sebesar kamar mandi Alana. tapi Alana cari tidak ada kamar mandi."


"Kalau disini kamar mandinya satu untuk bersama sayang, adanya di samping dapur belakang sana."


"Oh gitu ya mah."


"Mah, ini pasti kamar mamah sewaktu kecil ya?" Dion menebak


"Emmm, kayanya bukan deh. Kamar sewaktu kecil sudah di renovasi, jadi bukan seperti ini. Kamar ini adalah kamar waktu mamah sekolah SMA."


Ada yang aneh dengan perkataan barusan. Rianti langsung melirik kursi belajar yang pernah di pakai duduk oleh seseorang. Semua barang yang ada di rumah ini masih tersimpan rapi dengan kenangan.


🍃


"Aku tak menyangka, ternyata kau bisa sakit juga" Satria meledek.


"Ah iya kak"


apaan sih ini orang


"Kau sangat senang bukan, aku datang kesini"


Rianti hanya tersenyum tak bisa menjawab.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit"


"Tidak usah kak, aku sudah mendingan, hanya butuh istirahat saja"

__ADS_1


"Baiklah kalau itu maumu, satu hal lagi, aku tidak mau kau memanggilku kakak. Bukankah sudah pernah kubilang" ujar Satria sambil duduk di kursi. (eps 10)


Tepukan dipipi membuatnya sadar, Rianti berulang kali menepuk-nepuk kembali pipinya, sampai Dion dan Alana terlihat kebingungan. Menurut dia, ini adalah cara agar tidak ada air mata yang terjatuh.


Setelah dapat menguasai diri, Rianti kembali melirik kursi itu bergantian dengan memandang putra putrinya.


kehidupan memang tidak ada yang tahu kedepannya, dulu orang itu duduk di kursi dengan otoriter dan gaya angkuh menjadi bagian hidupku. kini darah dagingnya lah kembali duduk di tepi ranjang ini. yang satu wajahnya mirip sekali, dan yang satunya lagi sifatnya mewariskan. namun sayang, dia sudah tidak ada disisi kami lagi.


"Mah." Ucap Dion dan Alana cemas.


"Eh, iya sayang. Oh ya mau gak mamah ceritakan dongeng?"


"Judulnya apa mah?" Alana antusias.


"Pangeran angry" ragu.


"Haaaaahh" Dion dan Alana bersamaan.


Walaupun reaksi anaknya meragukan karena judul, Rianti tetap melanjutkan dongengnya. Terbesit kebanggaan pada diri sendiri bisa menceritakan sebuah cerita rangkaian dirinya. Sebuah kisah nyata yang di sulap menjadi cerita, namun Rianti tak sepandai Satria saat menceritakan sebuah dongeng dimana mereka tidur bersama sebelum akhirnya pergi.


Dion dan Alana terkagum pada tokoh utama cerita tersebut.


"Dion kamu kenapa nak?" Rianti menyadari ada yang aneh pada sang putra.


"Dion sakit mah." Jawabnya singkat.


"Apa yang sakit sayang? perut? kepalanya pusing? atau ada luka?" Rianti panik.


"Dion sakit mah kalau lihat mamah lagi kangen sama papah. Mamah kelihatan rapuh. Cerita mamah keren, tapi perasaan mamah tersiksa. Cukup mah ceritanya, Dion sakit"

__ADS_1


Rianti menunduk, mencermati setiap kata yang di lontarkan anaknya, inilah alasan kenapa Rianti tidak mau terlibat banyak obrolan dengan Dion. Anak ini begitu luar biasa memahami situasi.


Alana sudah memasang wajah melas, mungkin sedikit lagi dia akan menangis. Bukan mengerti dengan keadaan, tapi tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


Isak tangis sudah mulai terdengar di keheningan.


"Pa..pah.. pa..pah.."


Rianti merengkuh Alana, lalu menenangkannya. Dion ikut memeluk sang mamah sambil berurai air mata. Rianti harus mengerti bahwa dua bocah ini sedang Rindu dengan sosok ayah. Sampai detik ini pun Rianti masih bertahan untuk tidak meneteskan air mata.


"Maafkan mamah ya sayang."


Suara tangis yang terdengar, membuat Niko masuk ke dalam kamar.


"Hei pasukan kecil pada kenapa ini?"


"Sini sama papah. Ini papah om, sini peluk sama papah om."


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia !


__ADS_2