Cinta Sejati

Cinta Sejati
Keakraban keluarga


__ADS_3

"Ya, aku mencintainya." Jawab Marcel cepat.


"Kalau memang benar apa yang kau katakan barusan, seharusnya kau mengerti apa yang harus kau lakukan."


Marcel tidak bisa berkelit lagi. Sudah saatnya dia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Jangan terus terombang ambing dengan hal yang belum tentu, atau jangan jangan ia bilang cinta karena hanya untuk menutupi?


"Sat, habis ini ada agenda ke kota xx. Kau mau tetap melanjutkan?"


"Apa acaranya?"


Peresmian anak perusahaan Artha grup yang baru."


"Baiklah, persiapkan semuanya."


"Siap bosku."


.........


Di tempat lain dalam waktu yang bersamaan.


Tuan besar mengajak ayah Rianti untuk berkunjung ke sanggar bela diri. Niatnya mereka akan bertanding untuk mengadu kehebatan. Padahal ayah Rianti sudah menolak, tidak enak lawan besan begitu penuturannya.


Sebelum bertanding, mereka menyaksikan dulu yang sedang latihan. Ada berbagai macam jenis bela diri yang di ajarkan disini. Khususnya pencak silat yang disukai ayah Rianti.


Mereka sudah berganti pakaian, dan memasuki arena pertarungan. Tuan besar meyakinkan ayah Rianti untuk membuang rasa tidak enak hatinya. Semua ini hanyalah untuk pembelajaran satu sama lain, bukan untuk pertarungan siapa yang menang dan siapa yang kalah.


"Pak Ridwan, tidak usah sungkan. Bukankah Pak Ridwan ini suka sekali dengan bela diri. kita have fun saja." Tuan besar mencairkan suasana.


"Maaf, jika nanti terkena pukulan saya." ayah Rianti sudah mulai relax mengikuti permainan tuan besar.


"Gitu dong, percaya diri sekali pak Ridwan ini. Haha baiklah maaf juga nih jika terkena tendangan saya."


"Tidak masalah tuan."


"Panggil saya Darren saja. Tidak usah tuan tuan segala." Tuan besar merajuk lalu mereka tergelak bersama. Dia seperti berbicara dengan teman sebayanya, padahal mereka terpaut usia 10 tahun.


Pertarungan sudah di mulai, ayah Rianti menepis serangan dari tuan besar. Terlihat dari pertarungan ayah Rianti selalu mengalah dan menepis. Tidak melakukan serangan apapun.


Tuan besar seperti menganggapnya musuh, menyerang ayah Rianti bertubi tubi untuk membangkitkan keahlian ayah Rianti yang terpendam. Dia sangat penasaran ingin menguji kehebatan ayah Rianti.


Hingga pada akhirnya, ayah Rianti terkena pukulan tuan besar. Dia pun lantas menyerang balik dan mengeluarkan keahliannya. Tuan besar tersungkur. Ayah Rianti segera memeriksa lalu mengulurkan tangannya.


"Hebat" satu kata yang keluar dari mulut tuan besar sambil meraih uluran tangan. Dia melihat sekilas tanda bekas luka pada pergelangan tangan ayah Rianti.


"Pak Darren juga hebat." Sahut ayah Rianti. tuan besar sibuk dengan pikirannya yang terasa tidak asing dengan apa yang dilihatnya. Hingga dia tidak mendengar sahutan ayah Rianti.

__ADS_1


Pikirannya berusaha terus mengingat.


Ayah Rianti menyodorkan botol air mineral kepada tuan besar. Lalu mereka duduk bersama dan terlibat obrolan panjang.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya tuan besar dengan tatapan teduh berharap dugaan nya benar, karena dia telah mengingatnya. Sebenarnya, dari awal pertemuan mereka, tuan besar sudah merasa tidak asing dengan wajah pak Ridwan.


"Tentu saja boleh." Ayah Rianti bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan tuan besar.


"Luka di pergelangan tangan pak Ridwan kenapa?"


"Oh ini" ayah Rianti memegang bekas lukanya. Menatap lekat sambil mengingat-ingat. "Waktu saya berumur sekitar 12 tahunan kalo tidak salah, saya diajak bapak saya ke kota untuk berdagang. Ketika bapak saya menurunkan dagangannya dari mobil bak, saya hendak mencari air minum. Dan pada waktu itu saya bertarung melawan orang jahat yang sedang menyakiti korbannya."


"Siapa korbannya?" antusias.


"Saya lupa, seingat saya dari perawakannya sudah remaja, sekitar 20 tahunan lah. kalo namanya saya tidak tahu."


"Tanganmu sobek karena terkena sabetan benda tajam penjahat itu kan. Tapi walaupun kamu terluka tetap saja bisa melawan dan akhirnya penjahat itu tertangkap."


Ayah Rianti tersenyum, mulai mengerti apa maksud dari tuan besar. Perlahan tuan besar memeluk ayah Rianti dengan penuh terimakasih. Mereka seperti sahabat sesungguhnya.


tidak salah aku menyetujui Satria membagi separuh harta untuk Rianti. batin tuan besar.


"Saya tidak menyangka, Pak Darren lah ternyata korban itu. Dunia begitu sempit. Sampai kita bisa bertemu lagi bahkan berbesanan."


"Haha iya juga ya, dan kita baru menyadarinya sekarang. Saya tidak tahu kalau tidak ada pak Ridwan saat itu nasib saya bagaimana. Terimakasih banyak ya, ternyata Pak Ridwan ini bagai adik saya. Usia kita lumayan terpaut jauh."


"Saya juga masih muda haha." mereka tergelak bersama. Yang satu nya suka menggoda yang satunya lagi cepat iri. Keakraban mereka mulai tercipta.


Saat ini melihat mereka bagai kakak laki-laki dan adik laki-laki nya. Tapi posisinya, ayah Rianti seperti kakak, dan tuan besar berperan sebagai adik. Bukan karena dari tampang wajah siapa yang terlihat lebih muda, namun karena perilaku sikap mereka yang ditujukan.


Ayah Rianti ngemong, tuan besar yang merajuk.


Jangan sampai tuan besar memiliki pemikiran yang sama dengan istrinya. Karena kalau itu terjadi, tamatlah kebebasan keluarga Rianti. Keluarga Artha grup ini, jika sudah berambisi akan terus berusaha untuk mewujudkannya.


.........


Di tempat perbelanjaan.


Kondisi tempat sudah disterilkan. Nyonya besar, ibu Rianti, serta madih berbelanja hanya ada mereka saja,tidak ada pengunjung lain.


"Po, padahal mah kita belanja banyak orang ge gak ngapah ya, biasanya ge kita kalo belanja di pasar ampe desek-desekan." Bisik Madih pada ibu Rianti.


"Udah ikutin aja. Gak usah banyak komentar."


"Tapi enak juga si hehe, kita berasa kaya tamu VVIP. Berasa orang gedongan kita po."

__ADS_1


"Dasar lu. Eh dih pelanin suara lu. Gak enak kedengeran sama mamahnya Satria."


"Iya po" Madih hampir tidak mengeluarkan suara, dia hanya cengap-cengap seperti ikan kekurangan oksigen.


"Sini po dan Pak Madih." Nyonya besar memanggil, mereka sudah sepakat untuk memanggil ibu Rianti dengan sebutan Mpok. Katanya sih, ikut-ikutan Madih biar lebih akrab. Padahal dari segi usia ibu Rianti lebih muda darinya.


"Kita belanja perhiasan dulu ya, nih ada berbagai macam berlian juga. Silahkan po pilih yang mana yang Mpok suka." Ibu Rianti mendengar panggilan itu tertawa kecil di dalam hati. Geli sendiri dengan panggilan mpok oleh nyonya besar terhadapnya.


"Ibu saja yang pilihkan, saya belum terbiasa dengan berlian."


baru liat malah, bagus bagus sekali.


"Pak Madih mau juga?" Nyonya besar menawarkan, melihat Madih terpukau membulatkan matanya pada apa yang dia lihat.


"Hehe gak Bu, saya kan lelaki. Saya cuma amazing aja baru liat korongan ampe Segede tambang begini, ini lagi gelang udah kaya ban sepeda Sarimin pergi ke pasar "


Nyonya besar beserta penjaga toko dan pengawal di belakangnya terbahak-bahak. Segera penjaga dan pengawal tersebut menutup mulutnya tersadar.


"Pak Madih bisa aja hahaha " ucap nyonya besar di sela tawanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa bahagia dan berbagi kebaikan kepada orang lain.

__ADS_1


Untuk episode ini Rianti cuti dari peran dulu. di karenakan sedang tidak enak badan.


Salam hangat dari author.


__ADS_2