Cinta Sejati

Cinta Sejati
Meninjau proyek


__ADS_3

Kemarin, saat lusa menjemput. Perayaan yang seharusnya terjadi, malah dua pertikaian masalah hati yang membara.


Yang satu ingin memberi hadiah dengan fantastis, yang satunya lagi hanya ingin menjadi sekretaris dengan maksud tidak mau berjauhan lagi dengan suaminya.


Rianti tidak mau lagi, melalaikan tugasnya sebagai seorang istri.


"Kau tidak suka hadiah dariku?" Satria sedih wajahnya teduh yang sebentar lagi akan hujan.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak mau berjauhan denganmu. Kalau aku memimpin pasti aku sibuk kesana kemari tanpamu. Aku terima semua hadiah darimu, tapi ijinkanlah aku untuk menjadi sekretaris mu saja. Kita berdua bisa menjadi partner kerja yang baik, anggap saja aku tangan kananmu."


Satria tetap mendesah pilu.


*J*ika kamu menjadi sekretaris ku. aku yakin aku tidak akan bisa bekerja.


"Kau mau menggeser posisi Rion?"


"Iya, aku cemburu dengannya." sengaja Rianti memakai kalimat itu, agar Satria besar kepala dan segera menyudahi perdebatan.


"Besok kau mulai ikut denganku, memimpin kerajaan bisnis ini. Jika kau ada ide dan ingin merombak struktur, lakukanlah."


"Siap tuan muda."


Rion tersenyum simpul mendengar posisi nya tergeser oleh nona muda.


Itulah cuplikan perdebatan di presidential room kemarin.


Hari ini, Rianti melaksanakan tugas nya dengan cukup baik. Dia berubah 180 derajat ketika sedang di kantor dan di rumah. Keprofesionalannya patut di acungi jempol.


"Kau siapkan semua keperluan, kita akan meninjau proyek gedung perpustakaan di pusat kota setelah makan siang." Satria berujar.


"Baik tuan." Rianti kembali ke mejanya, menjalankan apa yang di perintahkan Satria. tidak lupa juga ia menyiapkan obat untuk Satria pada saat makan siang.


Dengan teliti ia memeriksa satu per satu berkas yang akan di butuhkan. Dahi nya mengeryit, kemudian ia menelpon lexa untuk datang ke ruangannya.


"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu."


"Coba kau lihat ini." Rianti menyodorkan map coklat besar yang berisi data penting kolega barunya.


Lexa mencerna setiap dokumen yang ia baca. Dahinya ikut-ikutan mengeryit, antara menemukan sesuatu aneh atau sedang bingung dengan maksud nona mudanya.


"Coba kau selidiki ini dengan Brian, aku akan pergi bersama tuan muda setelah makan untuk meninjau proyek gedung perpustakaan."


"Baik nona" lexa pergi meninggalkan ruangan.


"Kau mau ngapain?" suara Satria yang muncul tiba-tiba mengangetkan Rianti. Ponsel nya hampir terjatuh ketika hendak menelpon. Ruangan mereka yang hanya terpisah oleh sekat kaca, membuat penghuninya mengetahui seseorang di seberang sedang apa. Hingga Satria penasaran dengan apa yang dilihatnya.


"Aku hanya sedang ingin memastikan menu makanan untuk tuan, dan juga datang sedikit maju dari biasanya."

__ADS_1


Sebenarnya Satria ingin jawaban apa yang di obrolkan dengan lexa, sesuatu yang penting kah?


"Tidak perlu, kita pergi ke restaurant tempat favoritku saja." Sanggah Satria yang sebenarnya ingin mengacaukan agenda yang sudah dibuat Rianti.


"Baiklah" Rianti dengan cepat mengetikan pesan untuk membatalkan semua perintahnya.


"Rianti sepertinya jas ku tidak nyaman di pakai".


"Maaf tuan, coba saya periksa." Rianti mendekati Satria meraih jas nya dan menelusuri apakah ada kesalahan atau benda asing menempel. Pencariannya pun nihil, hingga pada akhirnya Rianti menyadari akal-akalan suaminya.


*S*epertinya aku sedang dikerjai.


Rianti menatap lurus pandangan, menyadari sesuatu yang perlu pembalasan sedikit.


"Tidak ada apa-apa tuan, tapi maaf saya akan benarkan posisi dasi tuan. Terlihat miring, saya bertanggung jawab atas penampilan tuan." Rianti membenarkan dasi yang sebenarnya baik-baik saja.


Posisi mereka semakin dekat. aroma harum khas Rianti menyeruak ke dalam pikiran Satria, jantungnya berdegup kencang.


"Tuan baik-baik sajakah? jantung nya berdetak cukup cepat." Rianti mendongak ke atas, mengedipkan sebelah matanya dengan penuh kemenangan. Dia pun berlalu, tidak mau terlibat lebih jauh dalam permainannya sendiri.


Rianti berlalu dengan senyum yang masih menempel. Sedangkan Satria terpaku pada tempatnya, menikmati kekalahan yang baru saja terjadi.


*S*ial, malah aku yang dikerjain.


............


Panas terik menyambut peluh para pekerja. Suara dentuman paku alam menari-nari di telinga. Begitupun dengan hilir mudik truk mengangkut bahan baku hingga membuat debu beterbangan.


Di sekelilingnya, terdapat tempat berteduh dari panasnya terik. Satria disana memantau proyek kemanusiaan yang sedang ia jalani. Bukan bisnis semata, ia hanya memberi apresiasi pada masyarakat yang masih tinggi minat membaca.


"Rianti, kau tahu, kenapa aku ingin mendirikan ini?" tanya Satria dengan pandangan tak terlepas pada proyek.


Rianti menggelengkan kepala.


"Tidak tuan"


"Pada suatu hari, aku pernah melihat seorang anak belajar membaca pada kertas bungkus koran. Kondisinya pun sudah berminyak."


"Bagaimana bisa aku membaca banyak buku hebat, dengan fasilitas super lengkap dan nyaman. Sedangkan di luar sana banyak yang membutuhkannya."


"setidaknya aku ingin lebih berguna bagi orang lain." Rianti berkaca-kaca, kagum pada sosok suaminya.


"Anda sangat baik hati tuan. Semoga hidup tuan selalu di kelilingi orang yang tulus." Rianti tersenyum menanggapi, tak lama notif pesan masuk dan segera dilihatnya.


Rupanya pesan itu dari Lexa.


'Nona, kami sudah selidiki, untuk hasilnya kami akan menemui nona jika nona sudah kembali ke kantor.'

__ADS_1


'Baik'


Rianti memasukan kembali ponselnya, lalu fokus pada tujuan utama, mendampingi tuan mudanya.


..........


Di rumah utama.


Tinggalah dua orang tua yang sedang memadu kasih, bercengkrama bahagia di masa tua setelah perjuangan hidup pada masa muda yang hebat. Membangun kerajaan bisnis yang merambah di dalam maupun luar negeri.


Perjalanan hidup seorang tuan dan nyonya besar terselip cerita pilu. mereka adalah pasangan yang memiliki anak hampir di usia yang lebih telat dari teman sebayanya.


Itupun mereka raih dari program bayi tabung, dan tentunya yang sudah ke kesekian kali. Tidak heran jika mereka mendapati anak dan menantunya belum di beri momongan. Karena mereka sudah merasakan asam garam permasalahan ini.


"Pah, mamah jadi kepikiran Satria. Bisakah dia melanjutkan perusahaan papah dengan kondisinya seperti itu.?"


"Mamah tidak percaya dengan kemampuan anak kita.?" yang di tanya malah balik bertanya.


"Bukan gitu pah, mamah cuma khawatir aja sama kondisi kesehatannya. Dia kan anak kita satu-satunya."


"Papah yakin dia bisa, papah juga tenang ada Rianti yang selalu di sisinya."


"di sisinya? bukannya menantu kita telah sibuk gara-gara hadiah yang kita berikan wkwkwk. Dasar mertua yang merepotkan kita ya pah."


"Iya, tapi kan dia lebih memilih menjadi sekretaris Satria, bukan menjadi seorang pemimpin."


"iya kah?"


"Yes.. mah. sudah percayakan saja pada mereka. Kita sebagai orang tua hanya perlu mengawasi. Menegur jika melewati batas, menyemangati jika semangat sudah kendur, memberi solusi jika di perlukan, dan menuntun pada kebenaran."


"Luar biasa papah, mamah jadi semakin cinta sama papah" berhambur memeluk tuan besar. Dan kemesraan mereka sirna, setelah sadar akan kedatangan dua orang yang sudah berdiri sejak tadi menyaksikan drama romantisme.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


.

__ADS_1


Jangan lupa, bahagia


__ADS_2