Cinta Sejati

Cinta Sejati
Jalan berdua


__ADS_3

Satria masih terpana, belum melepaskan pandangan yang melekat itu. Ketika Rianti hendak beranjak karena selesai sudah tugasnya, Satria menarik Rianti dalam pelukan.


Rianti termakan perbuatannya sendiri, karena pagi ini atmosfir mulai memanas.


Penampilan yang sudah rapi, kembali berserak. Mengulur waktu hingga matahari mulai meninggi. Marcel yang baru pertama mengalami, menggeleng tak percaya.


"Gila, padahal tadi Satria udah bangun. Rianti juga. Jam berapa ini.. ngapain sih mereka. belum turun juga."


Marcel menggerutu di temani kopi.


Seruputan terakhir, Marcel terbelalak. Melihat pintu lift terbuka tawa Satria yang begitu menggema. Rianti mengekor dengan wajah sedikit gemas. Outfit mereka sudah berubah lagi, karena hasil perbuatan Satria.


Satria bersiul dengan irama di sepanjang jalan. Marcel yang melihatnya, memiliki segudang pertanyaan.


"Tumben korupsi waktu. Biasanya selalu on time. Apalagi pas SMA dulu." Marcel protes.


"Jangan bandingkan dengan masa itu."


"Kenapa?"


"Itu adalah masa dimana hidupku sangat menyedihkan."


haduh satria, gara gara kau ini. aku jadi mengatur ulang jadwal. kalau begini aku jadi rindu pada Rion. Marcel membatin.


Marcel sedikit mencuri pandang kepada Rianti. Melihat wajahnya, ada sedikit unsur lelah. Sebagai pria dewasa yang berpengalaman sudah pasti Marcel mengetahui apa alasan keterlambatan pagi ini.


"Sayang kita kemana?" Rianti bertanya karena Marcel ikut dalam perjalanan.


"Ke rumah Marcel, kan kita mau lihat bayinya seperti katamu tempo hari."


Hah


yasalam, bayi? udah bimba kali anaknya. shesil lahiran pas lagi negara api menyerang.


"Aku rasa anaknya shesil bukan bayi lagi sayang. dia kan lahiran pas kita lagi sibuk dengan teror Niko. itu sudah lama."


"Iya kah?"


Marcel tergelak, sesungguhnya dia ingin mengatakan hal ini juga pada saat Satria membicarakan agenda hari ini. Tapi ia urungkan untuk sekedar mengerjai.


"Iya sayang."


"Oh berarti kita tidak usah kesana seharusnya"


Marcel tiba-tiba seperti orang tersedak. tawanya terhenti.


"Tetap kesana sayang, kan kita belum berkunjung kesana sejak shesil lahiran."


"Baiklah jika itu membuatmu senang." satu kecupan mendarat di pipi Rianti,membuat pipinya merah merona. Marcel lagi-lagi dibuat tercengang. Batinnya membisik sepertinya menginap di rumah utama adalah sebuah kesalahan.


Mobil melaju di tengah jalan yang lengang. Pemandangan pohon-pohon di luar jendela mobil berlarian, dan matahari seolah sedang mengikuti.


Di dalam mobil, Satria dan Rianti tak hentinya bersenda gurau, mengukir tawa dengan jarak yang mengikis. Mereka saling terpaut satu sama lain. Untung jarak rumah Marcel hanya lima menit saja. Jadi tidak harus berlama dengan udara yang pengap ini. Pikirnya.


"Sudah sampai tuan dan nona. Selamat datang di istanaku yang indah ini."


"Cepat sekali? memangnya tidak macet?" Satria tidak terima perjalanannya begitu cepat.

__ADS_1


Marcel geli sendiri dengan omongan Satria. bagaimana tidak, mereka tinggal masih satu komplek. Belum memasuki perjalanan di jalan besar yang ramai.


"Ya kan emang rumahku dekat." jawabnya.


"Kalau dekat kenapa semalam kamu menginap?" pertanyaan yang menghujam, bukan selayaknya bertanya, tapi lebih ke sindiran.


"Karena aku kangen sama kamu Sat, emang gak boleh ya sekretaris menginap di rumah tuan mudanya. Hehe."


"Dasar sekretaris penggoda." Satria menyeringai. " kau bukan seleraku."


"Idih aku masih normal kali." Marcel bersungut.


aku kan kangen sama Rianti juga.


Rianti ikut tergelak bersama mereka.


"Ayo sayang kita masuk." Rianti menyudahi ocehan suaminya dengan Marcel. Namun Satria masih diam di tempatnya.


"Ayo kalian silahkan masuk." Marcel mempersilahkan. Diikuti dengan langkah Satria. Rianti baru menyadari ini bukanlah rumahnya. Pantas saja Satria diam tak bergeming.


Shesil menyambutnya dengan riang gembira. Baru kali ini Rianti ke berkunjung ke rumahnya bersama Satria. Setelah menikah, Rianti bahkan tidak pernah menginjakan kaki di rumah shesil.


Seorang anak kecil menghampiri, berbicara dengan bahasanya membuat Rianti gemas sekali dengan putri Marcel dan shesil. Rianti terus saja menggendongnya.


Satria terus melihat ke arah istrinya, menikmati kebahagiaan Rianti yang tertawa lepas. Tidak seperti kemarin, karena Satria tahu bagaimana kondisi Rianti kemarin saat seorang diri di kamar. memantau lewat cctv yang tersambung pada ponselnya.


.........


Dalam perjalanan.


"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Rianti memerhatikan. Satria melirik ke arah Rianti sebentar, tapi tidak ada jawaban.


"Sayang kita mau kemana?" ganti pertanyaan.


"Nanti juga kamu tahu istriku sayang."


Rianti diam tak bertanya lagi, tangannya menyambar ponsel di dalam tas.


"Mau ngapain? masukan kembali ke dalam tas!" Satria berbicara tanpa menoleh.


Rianti kaget langsung menjalankan perintah Satria barusan. Matanya menatap ke arah Satria. Lahi-lagi masih ada sisa senyuman disana.


Mau bertanya kenapa dia senyum terus juga percuma. Akhirnya Rianti memiliki cara, agar membunuh rasa aneh yang bergelora di dada.


"Haduh haduh haduh.." Rianti mengintip, adakah reaksi yang ditimbulkan.


Satria panik, mobil berhenti melaju.


"Kamu kenapa? perutmu sakit?" Satria mendekat. Mengecek seperti dokter darurat. Ketika wajah Satria berjarak cukup dekat karena sedang mengecek perut Rianti,


cup


Rianti membuat kekacauan. Satria memegang pipinya yang barusan mendapat serangan.


"Wah, rupanya kau sudah tidak sabar ya." Satria menyeringai.


"Hehe maaf sayang, habisnya kamu dari tadi senyum-senyum terus, aku ajak bicara malah tidak ada jawaban. Lihat ponsel tidak boleh. aku tidak bisa hanya melihat ketampananmu yang sedang tersenyum itu. Gak kuat liatnya sayang. Cukup" menutup wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Hahahaha.." Satria tertawa lagi, sepertinya dia senang sekali melihat tingkah laku istrinya.


"Aku yang nyetir ya. Boleh ya." Rianti memohon di sela tawa Satria.


"Tidak, kau duduk manis saja disampingku. Aku kan sudah bilang. Kau habiskan saja waktumu untukku."


walau aku hanya berdiam diri gitu. Batin Rianti


"Baiklah."


"Bagus." mengusap kepala Rianti, lalu turun mencubit dagunya. Gemas


Mobil kembali melaju, dalam perjalanan ini Rianti terus saja mengoceh mengusir kecanggungan. Walaupun mendapat jawaban hanya sepatah dua kata, tapi ia tidak menyerah. Bergurau, membuat pantun, membaca puisi, sampai membahas bagaimana dia harus menghabiskan uang jajannya.


Satria mencengkram kemudi, menahan diri dan terus tergelak. Berharap agar segera sampai.


"Waw bagus sekali pemandangannya. Kita bermain di alam lagi. asiik." Rianti sudah menyadari arah tujuannya.


"Iya sayang"


Kali ini, tidak ada kekhawatiran yang menghantui. Tidak ada lagi kekacauan yang dibuat Niko. Dan tidak ada lagi tembok penghalang di antara cinta mereka.


Mendekamnya Niko di penjara bagai angin segar untuk pasangan ini. Sebab untuk masa kemarin, mereka dihadapkan dengan masalah bertubi.


Walaupun begitu, pengamanan tetaplah di perketat. Mereka tidak berdua saja karena ada tim di belakangnya.


Mereka sudah memasuki tempat tujuan.


"Kau senang sayang?" Satria memastikan.


"Aku senang sekali. Terimakasih ya suamiku."


"Ingat, kau tidak boleh melakukan hal yang membahayakan kandungan mu. Jaga anakku yang berada di rahimmu baik-baik."


"Siap laksanakan."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2