Cinta Sejati

Cinta Sejati
Perkelahian lagi


__ADS_3

"Ayah nona pingsan terkena obat bius, bisa jadi dari makanan atau minuman. Tapi kondisinya saat ini baik baik saja, sudah sadar, kami akan melakukan observasi lebih lanjut."


*S*ialan! pasti ulah bedebah itu. Satria mengumpat dalam hati.


"Bolehkah kami masuk dok?" tanya Rianti


"Oh ya silahkan"


...........


"Bapak, gimana keadaannya? enakan?" tanya ibu Rianti.


"Enak, bapak gak kenapa-kenapa" sahut ayah Rianti dengan santai.


"Bapak juga gak ngerti kenapa ada disini" sambungnya lagi. Ayah Rianti keheranan, seingatnya, dia sedang bekerja.


"Sebelum bapak pingsan, ada yang bapak ingatkah? makan atau minum sesuatu?" Rianti mengintrogasi, memicingkan mata.


"Emmmmm tar dulu" berusaha mengingat, yang lain menunggu jawaban.


Bunyi detikan jam bergema di keheningan.


"Lupa!"


"Hemm aki-aki emang" samber Madih.


Pengamanan sudah di perketat, satu lantai sudah steril tanpa lalu lalang pasien dan penjenguk lain. Keluarga Rianti tercengang, seperti sedang di rumah sendiri. Semua persiapan ini dilakukan karena mereka akan bermalam disini.


Seseorang datang menghampiri, nampaknya adalah perawat yang akan melakukan pengecekan berkala. Tidak menaruh curiga apapun.


Hasilnya baik tidak ada yang mengkhawatirkan. Namun tetap saja, Satria ingin yang terbaik untuk mertua. Lebih baik dalam pengawasan dokter untuk sementara waktu.


.............


*D*asar pria gila sekarang keluargaku yang diserangnya. sebenarnya apa yang dia mau? Rianti berkutat dengan pikirannya, sambil berjalan terseok menuju kamar ayahnya di rawat setelah keluar sebentar untuk makan malam, mengisi perut yang lapar.


*D*ia kan tempo hari bicara padaku kalau aku harus berpisah dengan Satria. itu yang dia mau. Sampai kapanpun aku tidak pernah mau !


"Ehh Rianti, lu bawa apa itu banyak banget. gua di bagi kagak?"


"Nih ada makanan, buah juga ada, buat emak sama mamang. Kalian pasti pada belum makan." saat keluar tadi Rianti sudah makan dengan Satria.


"Assiik, emang gua udah lapar banget inih. Punya ponakan bae bangat dah ah". Madih segera mengambil tentengannya. Menyiapkan makanan ke dalam piring, serta mengupas dan memotong buah.


Untuk situasi seperti ini dia sedikit mandiri karena kasihan pada kakaknya.


"Oh iya, tadi Ayu sama Emen kesini, jenguk bapak. Tapi mereka gak lama, soalnya anaknya ngambek. Satria kemana?


"Oh, neng gak nemuin Mak tadi di luar. Padahal neng keluar cuma sebentar, itu dia masih di luar ngobrol sama orang." Orang yang dimaksud Rianti adalah sekretaris Rion.


"Lu tadi keluar sama Satria kan? lu kan kalo lagi sama dia apa ge kagak liat. Liat orang ge disangka nyamuk kebon sama lu." Madih nyerocos, mulutnya penuh dengan makanan.


"Ah gak gitu, saya kalo jalan tetep lihat jalan. Oh ya mang kok malah nginep disini? emang besok kagak kerja?"


"Pre kerjanya, lu ngarti kaga pre? artinya libur yu now"


"Yu now... you know mang yang bener."


"Bodo amat ah"

__ADS_1


Ditengah perbincangan ponakan dan paman, ibu Rianti tertidur setelah menyuap dua sendok makanan, hanya sekedar menggganjal perut.


Pintu berderik terbuka.


Satria masuk dengan muka masam, Rianti sudah biasa dengan hal ini. tapi keluarganya tidak. Sedikit ada rasa tidak enak hati yang menjalar dirasakan Rianti.


Segera dia langsung mengambil tindakan cepat. menutupi raut wajah suaminya yang tak bersahabat.


"Kamu kenapa sayang, sini kita duduk di sofa." ucap Rianti setengah berbisik.


Satria merebahkan tubuh, kepalanya bersandar di pangkuan Rianti.


"Gapapa"


DEG.. hati Rianti berdesir, tapi bukan desiran senang.


Mungkin bukan kata "Deg " yang mewakili. tapi lebih ke kata 'nyess'...


Ketika seseorang terlihat sedang ada masalah, penuh beban di pundak dan tak memliki semangat, diminta untuk berbagi rasa, namun hanya menjawab "gapapa", disitulah orang yang bertanya terkadang merasa bukan bagian penting dalam hidupnya.


Air muka Rianti berubah menjadi pilu.


"Tapi bohong... wkwkwk.."


"bohong kenapa?" Rianti heran.


"Aku hanya sedang ngeprank kamu Rianti." mengecup punggung tangan istrinya. "kau pasti sudah panik dengan raut wajahku, iya kan."


"Kau ini.. huh dasar. darimana aja kamu?"


"Kau tahu sendiri tadi aku mengobrol dengan Rion."


"Kakak?"


"Iya, lihat sekretaris Rion kalau lagi sama kamu kaya kakak adik yang sedang diskusi. aww.."


kau sekarang jadi tukang gigit. Rianti mengibaskan jari.


"Hei dengarkan,, aku anak satu satunya di kelurga Artha grup. Anak satu satunya papah dan mamah. Dan kau juga, satu satunya menantu di keluarga Artha grup."


"Maaf sayang, aku hanya bercanda. pissss hehe. "


Menikah dengan anak tunggal membuat Rianti terkadang kesepian, hanya seorang diri tidak ada kakak maupun adik. Hal itulah yang menjadi imajinasi, melihat Satria mengobrol dengan Rion layaknya kakak adik yang sedang diskusi.


Mungkin, menjadi anak tunggal memiliki keuntungan terhindar dari rasa iri saudara. Ya karena dia sendirian. Namun ketika ada masalah pada orang tua maupun lainnya, anak tunggal tidak bisa berbagi rasa.


"Rianti.. jangan pernah mengkhianatiku."


"Kau ini, aku tidak akan melakukan itu sayang"


"Kau mau berjanji di depan orang tuamu?" menunjuk orang tua Rianti yang sudah terlelap.


"Aku janji, oh iya sayang bukankah kita sudah janji seperti ini dan mengaitkan jari kita?" tapi dimana ya.


"Itu janji kalau kamu itu cuma milik aku aja, gak boleh orang lain. Kalau yang ini janji bahwa kau tidak akan pernah mengkhianatiku."


Rianti terpana, dengan ingatan Satria.


Sementara itu, Madih rupanya pura-pura tidur, cekikikan di balik selimut setelah melihat romansa anak muda di tengah hampir larutnya malam.

__ADS_1


Selimut bergoyang menyadarkan Rianti. Dia melemparkan benda ringan ke arah pamannya itu.


*E* dah bocah, mamangnya di timpuk. durhaka bangat ponakan.


Satria tidak menyadari adegan ini, karena dia pun sudah memejamkan mata.


..................


Pagi ini adalah kepulangan ayah Rianti dari rumah sakit, mereka mengantar sampai rumah dengan aman lalu kembali ke rumah utama. Seharusnya hari ini ada jadwal untuk Satria pergi ke kantor, Namun kondisi yang lelah tak memungkinkan itu terjadi.


Letih lelah melanda, apalagi dengan Rianti, semalaman dia memangku, menopang kepala satria yang tertidur karena tidak tega membangunkannya.


Mobil melaju dengan tertib, hingga satu persatu mobil pengawalan mendapat musibah. Ada yang bocor ban, ada pula yang kerusakan mesin.


Tersisalah mobil yang yang ditumpangi tuan dan nona muda, serta Rion sang pengemudi yang dapat melanjutkan perjalanan.


Awalnya, Rion ingin menghubungi tim keamanan lain agar cepat menyusul pengawalan. Hantaman tangan menggedor kaca mobil oleh sekelompok kendaraan bermotor membuat ponselnya terjatuh.


sial..


Rion terus memacu mobilnya, terjadi kejar kejaran yang cukup dramatis. Sampai pada akhirnya, lajunya pun terhadang.


"Tidak ada pilihan lain, kita hadapi Rion. Kau disini saja sayang, jangan keluar mobil."


"Baiklah sayang" Rianti segera menelpon tim keamanan. Mengirimkan kode darurat, kemudian mengamati keadaan di luar.


Tendangan satria menukik, menjatuhkan lawan. Dia sebenarnya hebat jika harus baku hantam dan menjatuhkan musuhnya. Saat terjadi perkelahian yang berujung koma, terkuak Niko menggunakan cara licik untuk menjatuhkan Satria.


Rion pun demikian, pukulan yang dilayangkan sukses membuat lawannya tersungkur. walaupun sedikit lebam di wajah, ia berhasil bangkit dan mengalahkan.


Awan mulai berputar, pepohan pun juga mengikuti. Semakin lama pandangan buram. Rianti yang mengetahui itu, langsung memasuki perkelahian.


Di saat Rianti menjaga agar satria tak diserang lagi, Satria memegangi kepala, terhuyung ke badan mobil lalu memekik kesakitan.


Dia tidak terkena pukulan.


Kondisi yang menurun, membuatnya hampir ambruk di tengah fighting. Beruntung, semua musuh sudah ditaklukan karena tim keamanan datang tepat waktu.


Rianti membawa Satria cepat masuk ke dalam mobil. Rion pun cepat bergegas meninggalkan tempat. Namun salah satu lawan yang sudah terjatuh, berdiri dengan sekuat tenaga lalu mendorong kuat Rianti dari belakang.


Bruukkkkk...


Tubuhnya menghantam kap mobil. Satria yang tak terima melayangkan pukulan tajam begitu pun dengan Rion yang menghantam bertubi tubi.


Hah darah...


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2